POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Esai dan Sajak Alkhair Aljohore@

RedaksiOleh Redaksi
July 31, 2025
Esai dan Sajak Alkhair Aljohore@
🔊

Dengarkan Artikel

1
Esei satira-Membungkam Doa Laknat:
Karya: Alkhair Aljohore@
30.7.25
Dalam peristiwa Perang Badar dan beberapa
peristiwa lain, Nabi Muhammad ﷺ pernah berdoa
agar Allah melaknat atau menurunkan azab ke atas
kelompok musyrikin yang memerangi Islam.
Namun, terdapat beberapa insiden di mana Allah
menurunkan wahyu untuk menegur atau
membimbing Nabi agar tidak mendoakan
kebinasaan secara mutlak terhadap mereka,
kerana masih ada hikmah dan kemungkinan
hidayah.
Contoh peristiwa dan ayat berkaitan:

  1. Perang Badar dan doa laknat
    Dalam konteks Perang Badar, Nabi ﷺ membaca
    doa memohon pertolongan Allah atas kaum
    musyrikin Quraisy yang telah melakukan kezaliman
    besar terhadap umat Islam. Di antara doanya:
    أَهْلِ مِن ْ الْعِصَابَةُ هَذِهِ تَهْلِك ْ إِن ْ اللَّهُمَّ ،و َ عَدْتَنِي مَا لِي أَنْج ِ ز ْ اللَّهُمَّ >
    أَبَدًا الْ ْ َر ْ ض ِ فِي تُعْبَدْ ل َ ،الْ ْ ِسْلَ َ مِ
    “Ya Allah, sempurnakanlah untukku apa yang
    Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika kumpulan
    kecil ini binasa, maka Engkau tidak akan disembah
    di muka bumi ini selama-lamanya.”
    (Riwayat Muslim dan al-Tirmizi)
    2
    Namun, dalam doa-doa lain, seperti terhadap
    kabilah-kabilah yang mengkhianati umat Islam
    ﷺ seperti Ri’l, Dhakwān, dan ‘Uṣayyah), Nabi(
    mendoakan laknat atas mereka selama sebulan
    dalam solat Subuh. Ini dikenali sebagai Qunūt al-
    Nāzilah.
  2. Turunnya ayat larangan mendoakan kebinasaan
    mereka
    Allah menurunkan wahyu yang menunjukkan
    bahawa petunjuk dan hidayah adalah dalam kuasa-
    Nya, bukan berdasarkan keinginan manusia,
    termasuk Rasul-Nya sendiri.
    Firman Allah (Ali ‘Imran: 128):
    ظَالِمُونَ فَإِنَّهُمْ يُعَذ ِبَهُمْ أَو ْ عَلَيْهِمْ يَتُوب َ أَو ْ شَيْء الْ ْ َمْر ِ مِنَ لَك َ لَيْس َ >
    “Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam
    urusan mereka itu, (kerana) Allah sahaja yang
    berhak menerima taubat mereka atau menyiksa
    mereka kerana sesungguhnya mereka itu orang-
    orang yang zalim.”
    Ulasan:
  3. Teguran halus kepada Nabi ﷺ — ayat ini
    menegaskan bahawa walaupun Nabi adalah
    manusia paling mulia dan pemimpin umat, hak
    menentukan siapa yang beroleh hidayah atau azab
    tetap milik mutlak Allah.
    3
  4. Rahmat Nabi yang luas — meskipun pernah
    mendoakan kebinasaan atas musuh, Nabi juga
    terkenal sebagai “rahmatan lil-
    ‘ālamīn”. Banyak
    riwayat menunjukkan Baginda memilih memaafkan
    dan mengharapkan keislaman musuhnya.
  5. Hikmah penundaan azab — melalui ayat ini,
    umat Islam diajar agar tidak terburu-buru
    menjatuhkan hukum atau doa kebinasaan, kerana
    mungkin di kemudian hari mereka berubah atau
    mendapat hidayah, seperti kisah Sayyidina Umar
    atau Khalid ibn al-Walid yang asalnya memusuhi
    Islam tetapi kemudian menjadi tokoh besar Islam.
    Kesimpulan:
    Peristiwa ini mengajar umat Islam tentang hikmah,
    kesabaran, dan adab dalam berdoa terhadap
    musuh atau pendosa, serta menyerahkan urusan
    akhir kepada kehendak Allah yang Maha
    Mengetahui. Ia juga mencerminkan kematangan
    dakwah Nabi ﷺ dan bimbingan wahyu dalam
    mengendalikan emosi ketika diuji dengan
    pengkhianatan atau peperangan.
    Berikut saya paparkan dua sajak genre satira
    bertema doa laknat, teguran wahyu, dan hikmah
    ilahi dalam dakwah – diilhamkan dari peristiwa
    Perang Badar, Qunut Nazilah, dan turunnya surah
    Ali ‘Imran:128:
    4
    Sajak 1:
    LAKNAT YANG DITAHAN LANGIT
    Langit sudah sedia
    mengangkat panah doa
    pedang-pedang bersila
    atas lidah manusia.
    Tangan Nabi bergetar
    air mata minta sabar,
    “Ya Tuhan, andai mereka rebah,
    siapa menyembah nama-Mu lagi?”
    Tapi bumi ini aneh,
    yang jahat pun berpeluang cerah,
    yang khianat semalam,
    esok jadi pahlawan sejarah.
    Allah bersuara lembut,
    “Bukan urusanmu, wahai Rasul,
    aku tahu siapa berdusta,
    siapa tangisnya tulus.”
    Di sejadah pun kadang
    laknat bukan jalannya terang,
    kerana di padang perang pun
    hidayah boleh menyelinap senyap.
    5
    Ada Umar si bengis,
    akhirnya jadi penjaga firasat,
    ada Khalid sang pemenggal,
    akhirnya jadi pedang keramat.
    Wahai umat yang suka melaknat,
    berhenti dulu sebelum sujud,
    mungkin yang kau cela

esok lebih khusyuk dalam rukuk.

Sajak 2:
DOA YANG DITOLAK SYURGA


Nabi memandang langit,
langit memandang Nabi,
musuh datang membawa dendam,
tetapi rahmat belum tertutup lagi.
Di Badar, darah sudah mengalir,
mata sabar mengintai akhir,
lalu Nabi berdoa,
“Ya Allah, musnahkan mereka semua…”
Langit diam,
tak menjawab serta-merta,
kerana ada di antara mereka
yang bakal mengucap syahadah mulia.
6
Bukankah tugasmu menyeru,
bukan membakar neraka?
Bukankah engkau utusan,
bukan tukang hukum yang tergesa?
Wahai umat pewaris lidah keras,
belajarlah dari wahyu yang membalas:
“Bukan urusanmu, wahai Muhammad,
mereka hak-Ku yang Maha Membalas.”
Hari ini kalian menuding,
esok mungkin si kafir menasihati,
hari ini kalian melaknat,
esok mungkin mereka memimpin saf suci.
Jangan buru-buru azabkan dunia,
sedang Tuhan pun sabar seluas samudera.
“Aku mendahului RahmatKu dari MurkaKu”
-Hadis Qudsi.
Di antara musuh ada mujahid,
di antara fasiq ada wali yang terdidik.
Langit pernah menahan doa,
kerana tahu hikmah lebih besar,
sedang kita—

📚 Artikel Terkait

Puisi-Puisi Mustiar Ar

Pokok di Seberang

Standar Pendidikan Indonesia (SPI) Masa Depan

BISNIS MASA KINI TANPA RIBET

tak tahan pun dengan pandangan yang kasar.

7
Baik, berikut satu lagi sajak tambahan genre satira
bernuansa sufistik dan reflektif, masih dalam tema:
Doa laknat yang ditahan langit, wahyu yang
mendidik rahmat, dan kebijaksanaan Tuhan

yang mengatasi emosi manusia.

SAJAK 3:
SUARA YANG DIPINTAS MALAIKAT


Mereka datang bersorak garang,
panji dendam, tombak curang,
lalu engkau pun bersujud,
berdoa agar langit turun menyergap.
“Ya Allah, laknat mereka!”
teriak luka dari lidah mulia,
tapi langit…
diam seperti tak dengar apa-apa.
Bukan kerana doa lemah,
bukan kerana Nabi salah arah,
tetapi kerana ada jiwa
yang belum tamat fasal hidayah.
Para malaikat angkat tangan,
tapi Tuhan berikan isyarat:
Tahan! Mungkin esok mereka
akan tunduk dalam saf solat.
8
Wahai umat,
kenapa kau cepat sangat melaknat?
Belum sempat pelaku insaf,
kau sudah pahatkan pintu neraka rapat.
Hari ini kau anggap dia munafik,
kerana tak ikut skrip politik,
padahal kau tak tahu,
malaikat pun masih catat kebaikannya
di balik duka.
Langit menunggu, bumi bersaksi,
doa Nabi bukan pedang tergesa,
tetapi hikmah,
yang ditimbang antara rahmat dan murka.
FIKIR sebelum UKIR.
Alkhair Aljohore @
30.7.25

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Lebih dari Sekadar Anak Baik: Mengajarkan Anak Menjadi Manusia Seutuhnya

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00