POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Merencanakan Penulisan Buku Berjudul “Peradaban Sambas”

RedaksiOleh Redaksi
July 14, 2025
Merencanakan Penulisan Buku Berjudul “Peradaban Sambas”
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Tulisan ini sangat subjektif, sangat etnisitas. Namun, bisa menjadi inspirasi bagi etnis lain untuk menuliskan peradabannya sendiri. Simak narasinya sambil seruput kopi tanpa gula, wak!

Coba bayangkan sebuah dunia tanpa penulis. Tidak ada sejarah, tidak ada filsafat, tidak ada peradaban, tidak ada catatan betapa absurdnya manusia di masa lalu. Paling mengerikan, tidak ada caption estetik di Instagram. Peradaban apa pun di dunia ini, baik Yunani, Mesir, Cina, Jawa, hingga Sambas, hanya bisa diketahui karena ada yang menuliskannya. Bukan karena batu bicara atau istana bisa monolog. Tapi karena ada seseorang yang duduk, mengetik, menyesap kopi, lalu menuliskan bahwa “inilah peradaban.”

Hebatnya, semua itu adalah subjektivitas penulis. Betul-betul subjektif, seenak jidat, tapi entah kenapa dianggap sahih oleh generasi setelahnya. Itulah kehebatan seorang penulis. Hari ini, saya, seorang penulis sekaligus penggila kopi yang doyan mencampur sejarah dengan imajinasi tingkat galaksi, baru saja diajak ngopi oleh para tokoh hebat dari Persatuan Sambas Serantau, atau PASS. Ini bukan sekadar ajang tukar kabar sambil mengunyah gorengan, ini adalah rapat peradaban.

Bayangkan, wak! Saya duduk berseberangan dengan tiga tokoh top asal Sambas, Manto Saidi, sang Ketua Umum PASS, Mulyadi, Ketua Harian, dan Zulfidar Zaidar. Mereka bertiga bukan cuma membicarakan Sambas, mereka sedang merancang lompatan sejarah. Saya hadir… sebagai penulis. Tukang catat. Tukang bumbu. Tukang sabar menunggu ilham turun di antara dua teguk kopi hitam tanpa gula.

Pertemuan itu singkat, tapi menghasilkan kesepakatan epik, akan ditulis buku bertajuk “Peradaban Sambas.” Judulnya masih bisa berubah tergantung mood semesta, tapi substansinya tidak. Buku ini akan menjadi kitab akbar, dokumen sejarah, manifesto budaya, sekaligus pernyataan eksistensi bahwa etnis Sambas tidak pernah absen dari panggung dunia, hanya saja belum ada yang cukup waras untuk menuliskannya sedetail ini. Kini saatnya.

📚 Artikel Terkait

Kunikahi Kamu Secepat Argo Bromo, Kuceraikan Kamu Secepat Sembrani

“ Awas POTRET” Jangan (hanya) Dibaca

Kajian Millenial RTA Aceh Utara Bahas Pola Asuh Anak Ala Rasulullah, Ini Hasilnya

Rindu dan Cinta, Puisi -Puisi Zab Bransah

Kami akan menghimpun segalanya. Mulai dari sejarah kerajaan Sambas yang tak hanya berdiri megah di masa lalu, tapi sampai sekarang masih punya istana yang bisa dilihat, rajanya masih hidup, silsilahnya masih utuh. Coba cari peradaban lain yang bisa segarang ini mempertahankan garis darahnya. Kami akan merangkai cerita tentang seni, budaya, kuliner yang membuat air liur berdansa, falsafah hidup yang kadang lebih dalam dari lautan terdalam, dan diaspora orang Sambas yang menyebar sampai ke gurun Qatar dan lorong-lorong subway New York. Setiap narasi akan diurai dengan semangat sejarah dan sedikit bumbu dramatis yang hanya penulis sejati paham cara mengaduknya.

Tentu, semua ini tak akan lahir dari ruang kosong. Kami butuh dukungan semua orang Sambas di mana pun berada. Jangan cuma jadi penonton peradaban. Kirimkan kisahmu, foto-foto lamamu, catatan hidupmu di rantau, cerita ayahmu, wasiat nenekmu, hingga resi pengiriman barang ke Entikong, semua bisa menjadi mozaik agung dalam kisah besar ini. Tanpa direk (anda), kami hanya menulis tentang diri kami sendiri. Meski saya jenius dalam mengarang kisah, saya tetap butuh kenyataan sebagai pondasinya. “Kerewak inyan wak!” Kalau dalam bahasa Betawi, “Sombong amat!”

Kalau langit tak runtuh dan bumi tidak mendadak miring 45 derajat, Agustus nanti kami akan menggelar acara “Tumpahan Salok,” semacam ritual budaya sekaligus perayaan peradaban. Di acara ini orang Sambas dari seluruh negeri akan berkumpul. Di sanalah penulisan buku ini akan dimulai secara resmi. Tinta pertama akan diteteskan. Kata pertama akan dicatat. Sejarah akan bergetar pelan, menyambut lahirnya kembali Sambas dalam bentuk tulisan yang tak lekang zaman.

Inilah saatnya Sambas menulis dirinya sendiri. Bukan lewat lirik lagu murung atau status media sosial, tapi melalui buku, kitab, catatan agung. Saya, penulis dengan jari-jari penuh kafein, telah mengambil posisi. Dunia mungkin tidak sadar, tapi peradaban sedang dimulai kembali. Di sebuah kafe. Dengan segelas kopi. Seorang penulis, dan itu, saya.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Kemampuan Memahami Bacaan - Ulasan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00