POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Aceh

Melihat Sejarah Aceh Dalam Perspektif Temuan Keramik Kuno

Redaksi by Redaksi
Juli 15, 2025
in Aceh, Khas Aceh, Sejarah
0
Melihat Sejarah Aceh Dalam Perspektif Temuan Keramik Kuno - 2025 07 15 13 01 15 | Aceh | Potret Online

Oleh Assauti Wahid S. Hum. MA.

Peneliti Sejarah, Arkeologi dan Keramologi di Barsela

Baca Juga
  • Melihat Sejarah Aceh Dalam Perspektif Temuan Keramik Kuno - 2A1A32CE D68C 40C9 9AF7 6D20C09F265C | Aceh | Potret Online
    Aceh
    Koalisi Pemuda Aceh Pertanyakan Mutu Pendidikan Aceh
    28 Agu 2022
  • Melihat Sejarah Aceh Dalam Perspektif Temuan Keramik Kuno - b4e5579d 025a 4f6e 8d6f df2966120d31 | Aceh | Potret Online
    Aceh
    Mengamati Modus Pengemis di Banda Aceh
    08 Des 2024

Kita ketahui bersama Aceh merupakan wilayah yang terletak paling ujung Sumatra dan memiliki perjalanan sejarah yang panjang dengan dinamikan terjadi. Dari masa sebelum Islam masuk sampai Islam masuk sebagai identitas masyarakat Aceh. 

Tentu menarik untuk dikaji dan dibahas oleh siapapun itu. Dengan berbagai referensi dan pendapat yang dikemukan dalam melihat perjalanan sejarah. Dalam tulisan ini, mencoba melihat sejarah Aceh perspektif temuan artefak sejarah berupa temuan keramik kuno di Aceh.

Baca Juga
  • Melihat Sejarah Aceh Dalam Perspektif Temuan Keramik Kuno - 015d1fa7 a1ec 4be9 88ff 085b6c469014 | Aceh | Potret Online
    Aceh
    Yang Tersisa dari Imperium Aceh: Iman, Daya Tahan, dan Jalan Merdeka yang Cerdas
    14 Jan 2026
  • 87dee712-0548-433f-a26d-23c41a9e9f00
    Artikel
    Duel Jenderal Hormuz dan Panglima Khalid bin Walid di Padang Kazimah
    04 Apr 2026

Hal ini berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Peneliti Aceh Geohazard Project (AGP) pada International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS), bekerja sama dengan Earth Observatory of Singapore (EOS), tahun 2015 -2017, dan saya salah satu team penelitinya, yang menganalisis temuan keramik yang menunjukkan adanya temuan sebaran artefak pecahan keramik yang cukup penting di sepanjang pesisir Aceh, terutama pada kawasan Bukit Lamreh dan pesisir Ujong Pancu.  

Maka ini menggunakan metode observasi dan perekaman data arkeologis dengan mencatatkan setiap jenis temuan artefak pecahan keramik dari jenis bahan dan bentuk serta gaya seni, kemudian merekam dengan fotografi dan analisis temuan. 

Baca Juga
  • 01
    Aceh
    Kureung Vitamin A
    17 Apr 2022
  • Melihat Sejarah Aceh Dalam Perspektif Temuan Keramik Kuno - F9B68508 A9FE 49ED A191 BEBCA283C4C4 scaled | Aceh | Potret Online
    Aceh
    MANFAAT YANG TERSEMBUNYI DARI SEPEDA
    20 Mar 2023

Temuan pecahan keramik di Bukit Lamreh didominasi oleh keramik hijau Tiongkok, dan sisanya berasal dari keramik produksi Thailand, Burma, Vietnam, India dan Suriah.

Sebagian besar temuan ini merupakan keramik-keramik yang berasal dari awal abad 13 M hingga akhir 15 M. Sedangkan di pesisir Ujong Pancu ditemukan variasi keramik dominasi Tiongkok sejak abad 12 hingga 19 M, meskipun diantaranya juga ditemukan berbagai jenis keramik berasal dari Thailand, Vietnam, Burma, Jepang bahkan Eropa. 

Penemuan sebaran keramik di dua lokasi penting ini menandakan aktifitas jalur  perdagangan dan jalur rempah. 

Dan keramik salah satu bukti artefak sejarah atau bukti adanya suatu peradaban internasional pada saat itu. Jika menelusuri dari berbagai sumber referensi mengenai tentang keramik kuno. Keramik merupakan salah satu tinggalan kebudayaan manusia yang bersifat bendawi. 

Dengan keberadaannya yang hampir universal, keramik menjadi benda yang memiliki peran bagi arkeolog dalam melakukan studi tentang masa lalu. Hal tersebut dikarenakan keramik dapat mencerminkan kebudayaan manusia sedemikian rupa sehingga perubahan budaya yang mempengaruhi masyarakat dapat terlihat melalui keramik tersebut (Arnold, 1985: 1). 

Keramik merupakan salah satu artefak yang banyak ditemukan dengan bentuk yang beragam, dan hampir tidak mudah hancur. Keramik ditemukan di banyak wilayah dalam rentang waktu yang lama, dan memainkan peran penting dalam banyak konteks seperti ekonomi, sosial, dan ritual (Kramer, 1985: 78) Kata keramik berasal dari kata ceramic dalam bahasa Inggris.

Adapun ceramic dalam bahasa Yunani yaitu keramos, yang memiliki arti barang pecah belah atau barang yang dibuat dari tanah liat yang dibakar (baked clay). Istilah keramik juga mengacu pada macam benda seperti porselin/porcelain, stoneware dan tembikar/earthenware. (Ayatrohaedi dkk., 1981: 45) 

Jika dilihat dari bahan dan suhu pembakarannya, porselin (porcelain) merupakan tanah liat halus yang dicampur dengan kaolin dan mineral felspar (petuntse).

Kaolin merupakan tanah liat putih yang akan lebur jika dibakar pada suhu yang sangat tinggi. Suhu pembakaran porselin pada umumnya dibakar d dalam tungku pada suhu sekitar 1250° sampai 1350° Celcius. Barang-barang porselin pada umumnya memiliki sifat yang kedap air, dan tidak berpori.Sedangkan stoneware merupakan keramik yang dibakar dengan suhu antara 1.150° sampai 1.300° Celcius. 

Bahan dasar yang digunakan yaitu tanah liat yang memiliki sifat silika (kaca) dan dapat berubah secara fisik akibat dari faktor tingkat pembakaran (Rangkuti dkk., 2008: 1–2)

Masuknya keramik Cina Thailand, Burma, Vietnam, India, Suriah, Jepang dan Eropa ke Nusantara dan khussnya ke Aceh pada masa lalu salah satunya masuk melalui perdagangan keramik di sekitar wilayah Asia Tenggara. Keramik-keramik tersebut terdiri dari berbagai macam seperti mangkuk, piring, cangkir, guji, botol, figur, dan benda keramik lainnya. 

Beberapa dari benda keramik tersebut dibuat untuk penggunaan komersial hingga ritual. Mulai dari tembikar yang dibakar pada api rendah hingga periuk yang tahan lama, sampai porselin berkualitas tinggi yang dihias dengan baik. 

Jejak perdagangan keramik ditemukan baik di situs darat, sungai, dan maritim di seluruh wilayah. Barang-barang dari Cina mendominasi pasar ekspor selama sebagian besar periode dalam kurun waktu ribuan tahun.

Perdagangan keramik Asia Tenggara menjelaskan bagaimana produsen, pedagang, pengirim, dan konsumen berinteraksi dalam konteks sosial yang jauh berbeda dari waktu dan tempat lain. Sejarah mereka berkontribusi pada pengetahuan tentang distribusi barang internasional dan bagaimana budaya konsumen mengglobal di masa lalu (Witkowski, 2013: 276).

Keramik sebagai barang dagang dibawa oleh para pedagang asing tersebut ke Aceh yang nantinya ditukarkan dengan barang lain yang dibutuhkan oleh pedagang tersebut. Selain itu, keramik merupakan barang yang dibawa oleh para imigran untuk digunakan sebagai alat sehari-hari ataupun alat pendukung kegiatan upacara/ritual atau dijadikan sebagai barang hadiah. 

Keramik asing juga diduga dibawa ke Nusantara sebagai barang pesanan khusus (Widiati, 2015).

Keramik Cina dengan mutu kualitas tinggi menjadi keramik yang dibuat dengan usaha pembuatan hasil karya seni yang tinggi sampai saat ini keramikkeramik tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu indikator mengenai status sosial dari pemiliknya. Hal tersebut dikarenakan barang keramik tersebut merupakan barang yang memiliki nilai tinggi, sehingga harga barang tersebut menjadi mahal dan pembeli yang memiliki barang tersebut tentu berasal dari golongan ekonomi yang berkecukupan.  

Selain itu, mutu keramik yang demikian sering digunakan sebagai hadiah maupun upeti yang diberikan dari para pejabat, terutama pada masa lalu dari kaisar Cina kepada raja-raja di Nusantara (Dradjat, 1995: 11). Keramik Cina yang ditemukan di situs-situs arkeologi di Aceh. Ditemukan baik berupa utuh maupun pecahan.

Adapun bentuk-bentuk keramik yang ditemukan sangat beragam dan dibedakan menjadi wadah dan non-wadah.Keramik 5 yang termasuk ke dalam jenis wadah yaitu piring, mangkuk, cepuk, tempayan, bulibuli, vas bunga, kendi, teko dan lain sebagainya. 

Keramik yang tidak termasuk ke dalam jenis wadah yaitu sendok, hiasan seperti bentuk patung kecil, angin-angin dan kursi (Dradjat, 1995: 8). Adapun hiasan yang terlihat pada keramik Cina umumnya ditemukan hiasan flora, fauna, pemandangan alam, tanda lambang, tulisan, manusia, bangunan, geometris dan campuran dari hiasan-hiasan itu. (Mudra dkk.,2018: 11). 

Temuan keramik kuno di Lamreh atau wilayah lain di Aceh mengungkap peran Aceh sebagai pusat perdagangan maritim sejak abad ke-13–15. Artefak dari beragam wilayah—Vietnam, Thailand, Myanmar, Jepang, India, Suriah, Timur Tengah, Tiongkok menguatkan bukti bahwa Aceh telah lama berintegrasi dalam jaringan perdagangan global sebelum munculnya Kesultanan Aceh. Secara arkeologis, Situs Lamreh/Lamuri kini menjadi salah satu situs paling penting di Sumatra untuk memahami dinamika perdagangan dan pertukaran budaya lintas samudera.

Previous Post

Kemampuan Memahami Bacaan – Ulasan

Next Post

Bujang Ganong: Menyambut Masa Pengenalan Lingkungan Budaya Sekolah

Next Post
Melihat Sejarah Aceh Dalam Perspektif Temuan Keramik Kuno - 2025 07 15 14 33 05 | Aceh | Potret Online

Bujang Ganong: Menyambut Masa Pengenalan Lingkungan Budaya Sekolah

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah