Dengarkan Artikel
Oleh Siska Akmal, S.Pd
Guru MTs Fathin Al-aziziyah, Kecamatan Ulim Kabupaten Pidie Jaya
Ada masa dalam hidup ketika semuanya terasa runtuh. Bukan karena kita tidak berjuang, tapi karena keadaan berjalan di luar kuasa. Saat itu, diam menjadi pelarian, dan senyum hanyalah tameng dari perasaan yang rapuh
Saya Siska Akmal. Seorang perempuan berusia 22 tahun dari Meureudu, lahir dari keluarga sederhana dan pernah kehilangan arah karena luka perpisahan. Saat orang tua saya berpisah, saat itu saya baru saja lulus SMA. Hari yang seharusnya menjadi awal dari impian saya justru menjadi permulaan dari kehilangan demi kehilangan.
Saya pernah memiliki mimpi sederhana mondok di pesantren setelah tamat SMA. Itu adalah cita-cita saya sejak SMP. Bahkan kedua orang tua saya pun sudah menyetujuinya. Namun takdir berkata lain, rumah tangga hancur, dan bersamanya runtuh pula mimpi-mimpi yang telah saya rajut dengan harapan.
Tidak ada yang lebih menyakitkan dari melihat keluargamu dicaci, ayahmu dihina, dan kamu pun ikut dipandang sebelah mata hanya karena berasal dari keluarga yang “tidak utuh” lagi. Kami bukan hanya kehilangan keluarga, tapi juga kehilangan harga diri di mata banyak orang.
Namun saya belajar satu hal ”diam tidak selalu berarti kalah”, dan menang tidak selalu harus tampak di mata dunia. Saya tidak menyalahkan siapa pun, tidak juga menyalahkan takdir. Karena saya yakin, setiap hal yang Allah tetapkan pasti mengandung pelajaran.
Hidup terus berjalan. Saya bekerja menemani kakek menjual sayur. Setiap hari saya lalui dengan kesabaran dan air mata. Namun dari situlah saya belajar menjadi kuat. Lalu, datang satu tawaran yang mengubah segalanya, seorang teman mengajak saya mendaftar kuliah lewat beasiswa KIP. Awalnya saya ragu. Tapi akhirnya saya mencoba tanpa sepengetahuan siapa pun. Dan saya dinyatakan lulus. Ketika tim KIP hendak datang ke rumah, barulah saya memberitahukan hal itu kepada kedua orang tua. Saya tidak tahu pasti bagaimana perasaan mereka. Tapi saya yakin, jauh dalam hati mereka, ada haru dan bangga yang tidak bisa diucapkan.
Saya kuliah dengan segala keterbatasan. Sering kali terlambat karena hanya memiliki satu motor yang digunakan bersama. Tapi saya terus berjalan. Dan meski saya tidak lulus dengan gelar cumlaude, saya lulus dengan harga diri dan semangat yang jauh lebih berarti.
📚 Artikel Terkait
Kini saya mengajar di Mts Fathin Al-Aziziyah. Di hadapan saya, berdiri anak-anak pesantren yang sopan dan penuh semangat menatap masa depan. Dahulu saya ingin menjadi seperti mereka. Namun kini, Allah menempatkan saya di hadapan mereka bukan sebagai teman sebaya, tetapi sebagai pendidik mereka. Allah memang tidak selalu memberi apa yang kita minta, namun Dia memberi apa yang benar-benar kita butuhkan.
Karena Perubahan Adalah Jalan Menuju Keajaiban
Perubahan datang tanpa suara, kadang kita tidak siap, kadang kita merasa kehilangan. Namun setiap perubahan membawa makna. Allah tidak pernah salah menempatkan kita. Bahkan saat kita merasa hidup tidak berpihak, bisa jadi justru di situlah rahmat terbesar sedang tumbuh.
Saya pernah merasa tidak berguna. Pernah merasa kalah. Namun saya belajar bahwa air mata bukanlah tanda kelemahan. Ia adalah bukti bahwa saya manusia. Bahwa saya masih memiliki hati. Dan hati itu, perlahan-lahan, Allah kuatkan.
Jika hari ini kamu merasa sendiri, merasa mimpimu gagal, ingatlah satu hal *mungkin kamu hanya sedang dibelokkan, bukan dihentikan*. Mungkin kamu sedang diajari cara baru untuk mencapai tujuan yang lebih besar.
Jangan pernah remehkan rencana Allah. Saya adalah buktinya. Dari reruntuhan luka, saya bangkit. Dari caci maki, saya belajar diam dan berjuang. Dari kehilangan, saya belajar mencintai apa yang tersisa.
Kamu juga bisa.
Bangkitlah pelan-pelan tidak apa, tapi teruslah maju
Karena Allah tak pernah tidur
Dan Dia tahu, seberapa kuat kamu sudah bertahan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






