Catatan Paradoks: Wayan Suyadnya
Kemarau seharusnya kering, semestinya saat kemarau langit biru, tanah retak-retak, dan petani pun menengadah penuh harap hujan segera turun dari langit.
Namun apa yang terjadi? Kemarin di Mataram heboh, air meluap, jalan-jalan seperti sungai.
Di Karangasem dan Klungkung, selokan tak sanggup lagi menampung. Di Denpasar pun hujan terus mendera.
Musim yang seharusnya membakar, malah menggenangi. Kemarau yang seharusnya kering, malah basah.
Mendung menggelayut seperti rasa bersalah yang tak bisa ditepis. Dan hujan, turun terus menerus seperti tangis yang tak selesai.
Paradoks memang tak pernah pamit. Ia tinggal bersama kita, menumpang hidup di sela-sela logika.
Saat musim kering menyamar jadi musim basah, BMKG sibuk mengingatkan agar masyarakat mewaspadai rob yang datang karena tarikan bulan, karena purnama yang cantik tapi berkuasa, karena bumi dan matahari sedang saling tarik-menarik dalam simfoni kosmik.
Sementara banjir datang bukan hanya karena langit, tapi karena kita. Karena sampah yang dibuang sembarangan. Karena got dibiarkan mampet. Karena saluran diabaikan seperti janji-janji yang tak ditepati.
Setiap limpahan air adalah pesan. Pesan bahwa bersih itu bukan urusan sepele, tapi harga diri.
Bersih soal gotong royong, soal komitmen, soal cinta tanah. Bersih itu bukan kerja seorang, tapi kerja bersama.
Tapi lihatlah paradoks yang lain—ketika seseorang mulai bersih-bersih, mengajak hidup terpi, malah dibilang pencitraan.
Ketika satu desa menjaga kebersihan, malah meboye seolah sedang cari perhatian.
Bukankah bersih itu baik? Bukankah yang baik seharusnya didukung?
Mengapa suara kebaikan harus dibully, dan suara nyinyir malah dielu-elukan? Mengapa semangat gotong royong dianggap basa-basi?
Bersih bukan hanya untuk yang membersihkan, tapi untuk semua—untuk tetangga, untuk tamu, untuk anak cucu, untuk wisatawan, untuk semesta.
Bali adalah tempat suci. Setiap jengkalnya adalah altar, setiap sudutnya altar. Jika ada sampah, altar ternoda. Maka pariwisata pun akan memudar.
Maka hotel, restoran, travel agen, jangan hanya menjual keindahan, tapi juga merawat sumbernya. Donasilah upaya bersih-bersih itu— bukan karena dipaksa, tapi karena cinta.
Karena hujan di musim kemarau bukan azab, tapi pertanda: bahwa bape akasa, langit, masih peduli, masih mencintai ibu bumi.
Balaslah cinta itu, dengan komitmen bersih. Dari rumah sendiri. Dari pekarangan masing-masing.
Sampah kita tak boleh mengalir ke halaman tetangga. Desa kita bersih jangan mengotori desa yang lain. Maka saat itu Bali akan bersih, suci, dan lestari.
Maka biarlah yang bersih tetap berjalan, walau dibully. Karena sesungguhnya, alam yang akan membela. Alam yang akan memberikan citra.
Denpasar, 7 Juli 2025
