• Latest
Berita CNN Pun Dibilang Hoax oleh Trump - 2025 06 25 18 24 39 | # Kebijakan Trump | Potret Online

Berita CNN Pun Dibilang Hoax oleh Trump

Juni 25, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Berita CNN Pun Dibilang Hoax oleh Trump - 1001348646_11zon | # Kebijakan Trump | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari CĂłrdoba

April 21, 2026
Berita CNN Pun Dibilang Hoax oleh Trump - 1001353319_11zon | # Kebijakan Trump | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Berita CNN Pun Dibilang Hoax oleh Trump - 1001361361_11zon | # Kebijakan Trump | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Selasa, April 21, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Berita CNN Pun Dibilang Hoax oleh Trump

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Juni 25, 2025
in # Kebijakan Trump, Amerika, Iran, Israel
Reading Time: 3 mins read
0
Berita CNN Pun Dibilang Hoax oleh Trump - 2025 06 25 18 24 39 | # Kebijakan Trump | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Rosadi Jamani

Fakta memang sulit dibantah. Melawan fakta harus dengan fakta juga. Tidak bisa dibalas dengan asumsi, apalagi marah. Itulah si mulut terompet, rambut jagung, Donald Trump. Begitu CNN, media kelas dunia ni bos, memberitakan situs nuklir Fordo Iran tidak hancur, Trump tak terima. “Manas tak belawan!” kata orang Melayu Pontianak. Mari kita ungkap sambil seruput kopi tanpa gula, wak!

Pada pukul 03.14 dini hari waktu Washington, langit mendadak berubah warna, bukan karena badai, tapi karena Trump bangun tidur dan mendapati CNN memberitakan bahwa serangan nuklir Amerika Serikat ke Iran gagal total. Tangannya langsung meraih ponsel. Rambutnya berdiri setengah melawan gravitasi, dan dalam tempo kurang dari sepuluh detik, ia menulis dengan Capslock Penuh, “Bohong! CNN Pembohong! Fordo Sudah Lenyap!!!”

Baca Juga
  • Kaya Susah
  • Gambaran Pangkalan Militer Amerika Serikat di Timteng Usai Diserang Iran

Dunia gemetar. Satelit gemetar. Bahkan alien di Mars yang sedang nonton Netflix ikut menoleh. Apakah Fordo benar-benar lenyap? Apakah Natanz tinggal puing-puing kenangan? Apakah Isfahan sudah berubah jadi taman bermain uranium?

Sayangnya, menurut Pentagon, ya Pentagon tempat berkumpulnya otak-otak militer terbaik yang sudah menonton Oppenheimer tiga kali dan Call of Duty lima puluh kali, jawabannya adalah, tidak juga, Pak. Situs-situs nuklir Iran masih utuh. Yang rusak? Beberapa pintu. Beberapa lubang angin. Mungkin seekor tikus percobaan bernama Reza yang sedang tidur di bawah panel kontrol.

Baca Juga
  • Gaya Berdagang China dan Amerika Serikat (2)
  • Melihat Perang Iran – Israel/AS Melalui Teori James C. Scott

Tetapi jangan bilang begitu ke Trump. Tidak. Itu penghinaan. Itu penghujatan. Itu penistaan terhadap 14 bom raksasa seberat 13,6 ton yang dikirim dengan penuh cinta dan napalm dari tujuh pesawat B-2 Spirit seharga dua kampus Harvard. Bom-bom itu, menurut Trump, tidak hanya menghancurkan beton dan baja, tetapi juga menghancurkan semangat jihad Iran dan niat menang mereka dalam mimpi.

Trump berdiri di Air Force One seperti Kaisar Nero di balkon, memandang dunia dari ketinggian, lalu berbicara kepada jurnalis dengan nada yang hanya bisa diciptakan dari campuran testosteron, ego, dan hairspray: “Fordo sudah hancur. Saya melihatnya. Dengan mata batin saya. Anda tidak bisa berbohong kepada saya. Saya menciptakan realitas saya sendiri.”

Baca Juga
  • Mengenal Ayatollah Ali Khemeini Sang Keturunan Nabi
  • Barsela Dalam Catatan Sejarah, Kawasan Kaya Rempah Abad 18 dan Abad 19

Sementara itu, para pilot tempur yang baru mendarat, dengan wajah bingung, hanya berkata, “Pak, kami kira itu hanya latihan.” Tapi mereka segera diam. Karena kebohongan tidak diperlukan dalam dunia Trump. Yang diperlukan hanyalah narasi yang megah, suara yang lantang, dan kamera CNN yang mati.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, ikut berkoar di media sosial. Ia menulis seolah-olah sedang membela pasukan dari serangan alien, “14 Bom Besar. 13 Ton Masing-Masing. Pintu Tertutup = Kemenangan Telak.” Dunia akademik linglung. Logika ditikam. Fisika kuantum meleleh. Tapi Trump tersenyum. Karena baginya, jika nuan tidak bisa membunuh uranium, maka kuburlah ia dalam opini publik.

Kini, di gurun Iran, situs Fordo masih berdiri. Mungkin pintunya sedikit penyok. Mungkin kipas anginnya miring. Tapi di Washington, Trump telah menabuh genderang perang dengan simfoni halusinasi. Dalam hal itu, tidak ada yang bisa mengalahkannya. Karena dalam dunia di mana kebenaran bisa dicetak dengan huruf besar, dan realitas ditentukan oleh algoritma, maka: Fordo sudah lenyap. Meski masih ada.

Sementara itu, dunia berdiri terperangah. Iran mengecek ulang bunker mereka. Hasilnya? Semua peralatan masih menyala. Bahkan dispenser di ruang istirahat teknisi masih bisa mengeluarkan teh saffron dengan normal. Tapi tidak ada yang bisa menyangkal, Trump telah menang… dalam pikirannya sendiri. Karena dalam hukum alam semesta versi Trump, jika kau cukup keras berteriak, maka realitas akan menyerah.

Jadi inilah akhir dari drama nuklir terhebat abad ini, pintu bunker rusak, ego Trump makin besar, dan uranium tetap bersinar. Dunia tertawa getir, lalu pelan-pelan mulai mempersiapkan diri untuk babak berikutnya, kemungkinan Trump memerintahkan bom ke Antartika karena dikira ada bunker pengayaan es.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Share234SendTweet146Share
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Next Post
Berita CNN Pun Dibilang Hoax oleh Trump - 2025 06 26 07 15 30 | # Kebijakan Trump | Potret Online

Digiticide as a Systematic Human Rights Violation: A New Concept from Indonesia's Digital Experiences

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com