POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pahlawan Dalam Pena

Ririe AikoOleh Ririe Aiko
May 17, 2025
🔊

Dengarkan Artikel


Oleh: Ririe Aiko

(Puisi esai ini diangkat dari kisah nyata Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis dan pejuang kata yang berani melawan ketidakadilan meski terpenjara di Pulau Buru. Melalui puisinya, ia mengajarkan kepada anak muda bahwa keberanian dan suara kita—sekecil apapun—bisa menjadi senjata paling ampuh untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan.)

—000—

Di balik jeruji yang memagut siang,
di bawah langit Buru yang kehilangan puisi,
seorang lelaki menulis dengan luka,
untuk sejarah yang retak oleh darah.

Tangannya tak menggenggam pena,
melainkan kisah yang dibisikkan dari rongga kenangan—
ia bercerita kepada tanah, kepada malam,
dan kepada sunyi yang menolak lupa.

Pramoedya—bukan sekadar nama,
melainkan gema sunyi yang tak bisa dibungkam.
Ia menjelma gelombang dari samudra batin,
mengempas karang kekuasaan
yang mencoba memadamkan bara kebenaran.Âą

—000—

Ia tak lahir di istana ber sendok perak,
melainkan dari debu dan kelaparan,
di kota kecil bernama Blora,
tempat kemiskinan adalah puisi pertamanya.²

Ayahnya guru yang dibungkam,
ibunya menenun harapan dengan cucuran keringat.
Pram kecil belajar dari batu dan angin,
dari jalan setapak yang lebih jujur
daripada bangku sekolah para penjajah.

📚 Artikel Terkait

Mentari Terakhir Untuk Purnama

MAJALAH POTRET: 22 Tahun Menjadi Jembatan dalam Memperkaya Literasi Anak Bangsa

Sejarah Perselisihan Bawaan Israel Sejak Jaman Nabi Yang Terus Berkelanjutan Sampai Sekarang

Orang Kecil selalu Dikorbankan

Ia menulis karena hidup terlalu bisu,
dan dunia terlalu beku untuk keadilan.
Ia menulis karena tak ada jalan lain—
selain menyuarakan yang disumpal diam.

Menjadi penulis di negeri ini
adalah menandatangani luka sebagai halaman utama.
Karyanya disita, tubuhnya dibuang,
namanya dicoret dari peta warga.Âł

Namun meski pena dirampas,
ia tetap menulis dengan suara.
Bumi Manusia lahir di antara jeruji,
huruf demi huruf menjalar dari mulut ke mulut,
hidup di kepala para tahanan,
sebab dalam gelap,
cerita adalah lentera yang tak bisa padam.

—000—

“Menulis adalah perlawanan,” katanya,
dan benar—kata-katanya lebih tajam dari peluru,
lebih mengakar dari propaganda.
Ia menulis bukan untuk harta,
bukan untuk puja-puji,
tapi agar anak negeri tahu:
diam tak selalu emas.

Untuk keadilan,
kita harus berdiri—meski sendiri.

Pram adalah bukti bahwa
penulis tak butuh meja megah
atau ruang kerja mentereng.
Yang dibutuhkan hanyalah satu:
keberanian seorang pahlawan dalam dada.

—000—

Kini namanya abadi dalam buku sejarah,
karyanya menyeberang benua,
tapi lebih dari itu—
ia menanam pada kita:
bahwa suara bisa tetap nyaring
meski tubuh dibungkam,
dan dalam sunyi,
kata-kata tetap tumbuh seperti pohon
yang akarnya menembus
batu paling keras
bernama ketidakadilan.

—000—

CATATAN:

Âą Pramoedya Ananta Toer dipenjara selama lebih dari 14 tahun tanpa pengadilan oleh rezim Orde Baru karena karya dan pandangan politiknya yang dianggap subversif.
² Blora, kota kelahiran Pram di Jawa Tengah, menjadi sumber inspirasi banyak karya awalnya yang merekam realitas sosial masyarakat kelas bawah.
Âł Di Pulau Buru, meski dilarang menulis, Pram menciptakan Bumi Manusia secara lisan, yang kemudian disalin oleh tahanan lain dari ingatan, memperlihatkan daya hidup kisah dalam penindasan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 51x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Nenek Gila

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00