POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang Hidupnya Jauh dari Sejahtera

Ririe AikoOleh Ririe Aiko
May 14, 2025
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang Hidupnya Jauh dari Sejahtera
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Ririe Aiko

Tidak dapat dimungkiri, profesi guru di Indonesia masih belum mendapatkan penghargaan yang setimpal. Banyak lulusan pendidikan yang menempuh jalur kuliah dengan biaya puluhan juta rupiah, namun ketika mereka lulus dan mengabdi sebagai guru, gaji yang diterima justru tak lebih dari tiga juta rupiah per bulan. Realitas ini sangat kontras jika dibandingkan dengan kondisi guru di negara-negara maju, di mana profesi ini dihargai dengan gaji tinggi dan berbagai fasilitas pendukung yang memadai.

Di Amerika Serikat, Kanada, Australia, bahkan Jerman, gaji guru berkisar antara 700 juta hingga lebih dari satu miliar rupiah per tahun. Selain itu, mereka juga menerima pelatihan rutin, jaminan kesehatan, serta sistem pensiun yang menjamin kesejahteraan di masa tua. Semua ini menunjukkan bahwa di negara-negara tersebut, guru dipandang sebagai investasi utama dalam pembangunan sumber daya manusia.

Namun di Indonesia, penghargaan terhadap guru masih sering terjebak dalam narasi usang: “pahlawan tanpa tanda jasa.” Frasa ini terdengar mulia, tetapi dalam praktiknya justru menjadi legitimasi untuk membiarkan guru hidup dalam ketidakpastian. Guru tetap harus makan. Mereka punya keluarga yang harus dinafkahi, anak yang harus disekolahkan, dan hidup yang layak untuk diperjuangkan. Bagaimana mungkin mereka bisa mengajar dengan optimal jika ongkos transportasi pun tak mampu ditanggung dari honor yang diterima?

📚 Artikel Terkait

HOBI YANG MENGHASILKAN UANG

PERAN PEMUDA DI ERA MILLENIAL

Menjaga Aurat, Niscaya Selamat Dunia Akhirat

Jayapura

Lebih ironis lagi, ketika guru diminta bekerja dengan semangat ibadah dan ikhlas tanpa pamrih, mereka yang hidup berkecukupan di kursi kekuasaan justru bergelimang fasilitas negara. Jika benar kerja tanpa pamrih adalah nilai luhur, mengapa tidak diterapkan lebih dulu kepada para elite politik yang sudah hidup sejahtera? Mengapa bukan mereka yang lebih dahulu diminta bekerja untuk pahala, sementara profesi yang justru paling penting untuk mencerdaskan bangsa dibiarkan bergulat dengan kemiskinan?

Salah satu akar dari ketimpangan ini adalah lemahnya komitmen terhadap pendidikan serta budaya korupsi yang masih mengakar. Anggaran yang seharusnya digunakan untuk menyejahterakan guru dan memperbaiki kualitas pendidikan, justru sebagian besar terserap dalam praktik penyelewengan yang sistemik.

Sudah saatnya Indonesia keluar dari narasi retoris dan mulai berpikir secara rasional dan adil: guru adalah pilar utama dalam membangun masa depan bangsa. Menghargai mereka bukan hanya soal moralitas, tetapi juga tentang logika pembangunan. Jika ingin menghasilkan generasi unggul, maka negara harus mulai dari memastikan para pendidik kita hidup dengan layak dan dihormati secara nyata—bukan hanya lewat slogan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Mediasi Deadlock, Jokowi Siap Hadir di Pengadilan

Ijazah Pak Jokowi, Masalah sangat Serius

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00