• Latest
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang Hidupnya Jauh dari Sejahtera

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang Hidupnya Jauh dari Sejahtera

Mei 14, 2025
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang Hidupnya Jauh dari Sejahtera

Ririe Aikoby Ririe Aiko
Mei 14, 2025
Reading Time: 2 mins read
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang Hidupnya Jauh dari Sejahtera
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Ririe Aiko

Tidak dapat dimungkiri, profesi guru di Indonesia masih belum mendapatkan penghargaan yang setimpal. Banyak lulusan pendidikan yang menempuh jalur kuliah dengan biaya puluhan juta rupiah, namun ketika mereka lulus dan mengabdi sebagai guru, gaji yang diterima justru tak lebih dari tiga juta rupiah per bulan. Realitas ini sangat kontras jika dibandingkan dengan kondisi guru di negara-negara maju, di mana profesi ini dihargai dengan gaji tinggi dan berbagai fasilitas pendukung yang memadai.

Di Amerika Serikat, Kanada, Australia, bahkan Jerman, gaji guru berkisar antara 700 juta hingga lebih dari satu miliar rupiah per tahun. Selain itu, mereka juga menerima pelatihan rutin, jaminan kesehatan, serta sistem pensiun yang menjamin kesejahteraan di masa tua. Semua ini menunjukkan bahwa di negara-negara tersebut, guru dipandang sebagai investasi utama dalam pembangunan sumber daya manusia.

Namun di Indonesia, penghargaan terhadap guru masih sering terjebak dalam narasi usang: “pahlawan tanpa tanda jasa.” Frasa ini terdengar mulia, tetapi dalam praktiknya justru menjadi legitimasi untuk membiarkan guru hidup dalam ketidakpastian. Guru tetap harus makan. Mereka punya keluarga yang harus dinafkahi, anak yang harus disekolahkan, dan hidup yang layak untuk diperjuangkan. Bagaimana mungkin mereka bisa mengajar dengan optimal jika ongkos transportasi pun tak mampu ditanggung dari honor yang diterima?

Baca Juga

b25b943e-f0d2-47df-bd75-ad0c643a8322

Gara-gara Tahanan Rumah Gus Yaqut, Akhirnya KPK Minta Maaf

Maret 27, 2026

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 27, 2026
ChatGPT Image 27 Mar 2026, 08.43.09

Pelayanan Akses Kesehatan di Nabire Provinsi Papua Tengah Masih Minim

Maret 27, 2026

Lebih ironis lagi, ketika guru diminta bekerja dengan semangat ibadah dan ikhlas tanpa pamrih, mereka yang hidup berkecukupan di kursi kekuasaan justru bergelimang fasilitas negara. Jika benar kerja tanpa pamrih adalah nilai luhur, mengapa tidak diterapkan lebih dulu kepada para elite politik yang sudah hidup sejahtera? Mengapa bukan mereka yang lebih dahulu diminta bekerja untuk pahala, sementara profesi yang justru paling penting untuk mencerdaskan bangsa dibiarkan bergulat dengan kemiskinan?

Salah satu akar dari ketimpangan ini adalah lemahnya komitmen terhadap pendidikan serta budaya korupsi yang masih mengakar. Anggaran yang seharusnya digunakan untuk menyejahterakan guru dan memperbaiki kualitas pendidikan, justru sebagian besar terserap dalam praktik penyelewengan yang sistemik.

Sudah saatnya Indonesia keluar dari narasi retoris dan mulai berpikir secara rasional dan adil: guru adalah pilar utama dalam membangun masa depan bangsa. Menghargai mereka bukan hanya soal moralitas, tetapi juga tentang logika pembangunan. Jika ingin menghasilkan generasi unggul, maka negara harus mulai dari memastikan para pendidik kita hidup dengan layak dan dihormati secara nyata—bukan hanya lewat slogan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 256x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Mediasi Deadlock, Jokowi Siap Hadir di Pengadilan

Ijazah Pak Jokowi, Masalah sangat Serius

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com