POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Jika Malam Itu Tak Terjadi Hujan

RedaksiOleh Redaksi
May 13, 2025
Jika Malam Itu Tak Terjadi Hujan
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Hendriyatmoko
Guru SMK Muda Cepu dan Anggota Satupena Kabupaten Blora

Malam itu, kota kecil di kaki gunung Merbabu baru saja tersapu hujan deras. Rintiknya belum sepenuhnya reda ketika Arman berdiri di teras rumah, menatap lekat ke jalan setapak yang mengarah ke rumah Chika. Hatinya masih berdebar mengingat kejadian beberapa jam lalu.

Padahal, jika malam itu tak terjadi hujan, segalanya mungkin berbeda.


Sore harinya, langit masih cerah. Arman, Joko, Agus, Darto, dan Wahyu sedang nongkrong di warung bu Sari, membahas rencana pentas seni kampung. Arman sebenarnya tak ingin lama-lama di situ. Ia sudah berjanji akan bertemu Chika di taman kecil belakang balai desa, tempat mereka biasa bertukar cerita.

“Bro, bentar lagi hujan. Awan barat gelap banget,” ujar Wahyu sambil menunjuk ke langit.

Arman hanya tersenyum. “Aku cuma mau sebentar. Chika udah nunggu.”

Joko bersuit pelan. “Cieee, pacaran diam-diam ya?”

Arman menggeleng. “Bukan pacaran. Cuma… ngobrol aja.”

Namun semua tahu, Arman dan Chika saling menaruh rasa. Mereka hanya terlalu takut pada perbedaan yang membentang — bukan hanya karena keluarga, tapi juga masa lalu. Keluarga Arman pernah berselisih dengan keluarga Chika soal batas tanah warisan. Sejak saat itu, hubungan dua keluarga itu dingin seperti salju.


Saat Arman sampai di taman, hujan mulai turun rintik. Tapi Chika sudah di sana, duduk di bangku kayu basah, mengenakan sweater abu-abu dan menunduk.

“Maaf telat. Aku—” Arman menghentikan kalimatnya saat melihat wajah Chika murung.

“Kita gak bisa terus begini, Man,” ucap Chika pelan.

Arman menarik napas. “Kenapa? Karena orang tuamu?”

📚 Artikel Terkait

Sunyiku Mengeja Langkah Kemarin

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Majalah Anak Cerdas Itu Mencerdaskan

Mengenal Ir. Kasmudjo, Dosen Pembimbing Akademik Jokowi

Chika diam sejenak. “Bukan cuma itu. Ibuku sakit. Ayahku keras kepala. Kalau mereka tahu aku sering ketemu kamu, aku takut…”

Petir menyambar di kejauhan. Arman duduk di sampingnya, walau hujan makin deras.

“Chik, aku serius. Aku sayang kamu. Kita gak harus sembunyi terus. Aku akan bicara dengan Bapak dan Ibu.”

Chika menatapnya dengan mata berkaca. “Kamu yakin? Ayahmu—”

“Aku yang akan urus semuanya. Kalau malam ini aku gak ngomong ke mereka, aku pengecut.”

Dan malam itu, basah kuyup oleh hujan, Arman pulang. Ia mengetuk pintu ruang tengah, mendapati Wiryo sedang membaca koran dan Wati menyiapkan teh.

“Aku mau bicara, Pak. Bu. Tentang Chika.”


Pertengkaran terjadi malam itu. Wiryo meledak. “Kamu waras, Man? Kamu tahu siapa ayahnya? Karyo itu manusia keras kepala, yang pernah mau gebuk aku cuma gara-gara batas tanah!”

Wati mencoba menengahi, tapi suara Wiryo mengalahkan semuanya.

Namun, malam itu juga, karena derasnya hujan yang memaksa semua diam di rumah, Arman bicara dari hati ke hati. Ia tak pergi. Ia bertahan di ruang tengah, meski suaranya gemetar, meski wajah ayahnya merah.

Esok harinya, kabar pertemuan Arman dan Chika sampai juga ke telinga Karyo. Karti sempat menjerit, Dita dan Salsa mencoba menenangkan.

Tapi sesuatu yang tak terduga terjadi.

Dewi, tetangga mereka, datang membawa kabar: “Pak Wiryo kirim salam. Katanya ingin bicara baik-baik. Katanya, Arman yang minta.”


Jika malam itu tak terjadi hujan, mungkin Arman tak akan pulang cepat.

Jika malam itu tak terjadi hujan, mungkin ia tak akan punya keberanian bicara dengan orang tuanya.

Dan jika malam itu tak terjadi hujan, mungkin cinta mereka tetap diam-diam di bangku taman, di antara rintik yang menyembunyikan ketakutan mereka.

Tapi karena malam itu hujan turun deras, dua keluarga yang dulu bertikai mulai membuka jendela bicara. Karena malam itu, Chika dan Arman tidak berpisah. Dan karena malam itu pula, cinta yang tertahan akhirnya punya jalan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Pendidikan Karakter dalam Bermedsos: Menyemai Etika, Menuai Cahaya

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00