• Latest
KPK: Komedi Pemberantasan Kelas Teri

KPK: Komedi Pemberantasan Kelas Teri

Mei 9, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

KPK: Komedi Pemberantasan Kelas Teri

Redaksiby Redaksi
Mei 9, 2025
Reading Time: 3 mins read
KPK: Komedi Pemberantasan Kelas Teri
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Sebelumnya saya telah menulis “KPK Beraninya pada Pejabat Rendahan.” Ramai ditanggapi netizen, dan ramai setuju. KPK mengobok-obok Kalbar hanya menyasar para pejabat setingkat kepala dinas dan staff. Sementara tak berani mengusik ke atasnya, ke penguasa. Padahal, kepala dinas itu bekerja atas restu bosnya. Apalagi kalau sudah main miliaran, tak mungkin sang penguasa tak mengetahui kerja kepala dinas. KPK semakin jauh dari harapan. Mestinya menangkap koruptor elite, bukan koruptor kelas teri yang cukup ditangani kejaksaan di sini.

Kalau Nietzsche hidup di Indonesia, dia pasti pensiun jadi filsuf dan buka warung kopi karena terlalu lelah melihat absurditas hukum di negeri ini. Sebab KPK, lembaga yang dulunya dielu-elukan rakyat sebagai penyambung tangan keadilan Tuhan, kini berubah jadi lembaga pencitraan yang ke mana-mana bawa rombongan kamera dan koper oranye, bukan untuk menangkap naga raksasa, tapi menciduk cicak.

Kalau nuan ingin tahu betapa hebatnya KPK, datanglah ke Kalbar. Mereka mengobok-obok birokrasi seperti chef mengaduk mi instan, tapi hanya sampai topping-nya. Kepala dinas dan para staf dipajang, dituduh, diangkut, seperti ikan mujair hasil tangkapan mancing harian. Sementara pemilik kolam, yang jelas-jelas tahu di mana jaring dan ke mana ikan dijual, malah tidak disentuh sama sekali. Seolah-olah uang miliaran itu muncul sendiri seperti siluman.

Apakah logika kita sedang dihina? Apakah kita semua ini anak TK yang harus percaya bahwa kepala dinas bisa mengatur sendiri anggaran miliaran tanpa seizin bos besar di belakang layar? Untuk membeli gula kopi di kantor saja perlu persetujuan atasan. Apalagi untuk proyek bernilai puluhan miliar? Tapi KPK tampaknya percaya pada mitos birokrasi mandiri. Kepala dinas dianggap makhluk superpower yang bisa menciptakan korupsi tanpa komando.

Sementara itu, mari kita tengok kembali museum kasus besar yang mangkrak. Kasus TPPU Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, adik dari mantan Gubernur Banten Ratu Atut. Sudah divonis dalam kasus suap Ketua MK Akil Mochtar, tapi dugaan pencucian uangnya yang melibatkan 74 mobil dan 100 tanah entah ke mana. Kasus ini seperti sinetron stripping, panjang, membosankan, dan tak tahu kapan tamat.

RJ Lino, eks Dirut Pelindo II, sejak 2015 diselidiki dalam kasus pengadaan crane kontainer. Sudah satu dekade, tapi penuntutan belum juga tiba. Kita tidak tahu apakah ini kasus korupsi atau proyek riset arkeologi. Lalu ada pula kasus e-KTP, si raksasa kerugian negara Rp2,3 triliun. Setya Novanto memang sudah dikurung, tapi nama-nama lain yang ikut menari dalam tarian uang elektronik itu masih bebas berkeliaran, mungkin sambil selfie di kafe atau main golf.

Baca Juga

b25b943e-f0d2-47df-bd75-ad0c643a8322

Gara-gara Tahanan Rumah Gus Yaqut, Akhirnya KPK Minta Maaf

Maret 27, 2026

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 27, 2026
ChatGPT Image 27 Mar 2026, 08.43.09

Pelayanan Akses Kesehatan di Nabire Provinsi Papua Tengah Masih Minim

Maret 27, 2026

Petral? Kasus minyak mentah dan produk kilang yang diduga merugikan negara triliunan itu seperti lubang hitam. KPK menyalahkan faktor teknis, hukum lintas negara, dan mungkin cuaca Mars sebagai alasan lambatnya penanganan. Sementara itu, rakyat diminta sabar, karena ternyata menangkap koruptor besar lebih sulit dari mengirim satelit ke orbit.

Lucunya, KPK masih percaya diri. Mereka berdiri tegak, memberi konferensi pers, mengumumkan penangkapan pejabat kelas menengah seperti sedang menaklukkan gembong narkoba internasional. Padahal, dengan semua anggaran, kewenangan, dan sumber daya yang dimiliki, mustahil KPK hanya mampu menangkap remah-remah dosa.

Ini bukan ujaran kebencian, tapi bentuk cinta paling keras dari rakyat. Karena lembaga ini dulu adalah simbol harapan. Kini, ia seperti superhero yang kehilangan kekuatannya dan malah sibuk jadi bintang iklan. KPK harus dibangunkan, ditampar oleh sejarah dan kesadaran filsafati. Bahwa hukum tidak hanya soal prosedur, tapi juga soal keberanian moral.

Jika tidak sanggup memburu predator-predator kelas kakap, serahkan saja urusan korupsi miliaran itu ke kejaksaan lokal. Biarlah KPK fokus jadi lembaga observasi sosial, mencatat, mencibir, lalu menunda.

Sebab kalau KPK hanya berani menangkap yang lemah, maka ia bukan pelindung rakyat, melainkan badut keadilan yang pentas di panggung kekuasaan.

ADVERTISEMENT

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Kalijambe: Elegi Rem yang Menangis

Kalijambe: Elegi Rem yang Menangis

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com