• Latest
Seandainya Aku Tak Menjadi Guru - seorang guru di perpustakaan sekolah di Aceh suasana damai dengan buku buku dan nuansa budaya lokal | Biografi | Potret Online

Seandainya Aku Tak Menjadi Guru

Maret 24, 2025
IMG_0573

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Seandainya Aku Tak Menjadi Guru - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Biografi | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Seandainya Aku Tak Menjadi Guru - seorang guru di perpustakaan sekolah di Aceh suasana damai dengan buku buku dan nuansa budaya lokal | Biografi | Potret Online

Seandainya Aku Tak Menjadi Guru

Bagian 22

Bussairi D Nyak Diwa by Bussairi D Nyak Diwa
Maret 24, 2025
in Biografi
Reading Time: 3 mins read
0
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Bussairi D. Nyak Diwa

​Aku mulai kecanduan membaca. Hampir setiap sudut rak di perpustakaan sekolah aku jelajahi. Mula-mula aku tidak milih-milih buku untuk dibaca. Asalkan judul depannya menarik, langsung aku ambil dan kubaca bagian isi buku itu. Jika apa yang kubaca itu terasa enak dan menarik, langsung kutemui petugas perpustakaan sekolah untuk meminjamnya. Tapi lama-lama buku-buku di perpustakaan sekolah ini mulai kurang menarik minatku. Apalagi kebanyakan buku di sini berisi materi yang berhubungan dengan pelajaran.

Kemudian ada satu-dua buku yang berisi ilmu pengetahuan umum dan sastra, tetapi isinya terasa berat buat ukuran otakku yang masih muda dan terbatas. Aku menginginkan bacaan-bacaan yang lebih lewes, ringan, menarik, dan berisi intisari kehidupan atau pengalaman kehidupan sehari-hari. Dan ternyata buku-buku yang berisi seperti itu ada dalam buku-buku sastra. Tetapi buku-buku sastra sangat kurang di perpustakaan ini. Maka aku mulai melebarkan jaringan mengunjungi perpustakaan-perpustakaan yang ada di Kota Banda Aceh seperti Perpustakaan Wilayah di Lamnyong, Perpustakaan Pusat Dokumentasi dan Informasi Daerah di dekat Blang Padang, dan Perpustakaan Kodya di Peuniti. Tapi yang sangat sering kusambangi kala senggang adalah Perpustakaan Wilayah, karena perpustakaan ini mempunyai banyak koleksi buku-buku yang sesuai dengan minat baca dan kegemaranku.

Baca Juga

Seandainya Aku Tak Menjadi Guru - B378BDCB FFFA 422B B310 524AF04E1918 scaled | Biografi | Potret Online

Seandainya Aku Tak Menjadi Guru

Maret 20, 2025
Seandainya Aku Tak Menjadi Guru - 315da9c3 8510 463e 9918 ef29648900c6 | Biografi | Potret Online

Buku ‘Menembus Derita Menggapai Asa’ Diluncurkan; Kado Ultah ke-55 SOJ

Agustus 16, 2024

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

Juli 29, 2024

​Terus terang, buku-buku yang paling banyak menyita perhatianku adalah buku-buku sastra. Entah karena termotivasi oleh pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah yang diasuh oleh guru muda itu, entah karena pengaruh suasana jiwaku yang mulai labil, yang jelas setiap ke perpustakaan pertama-tamayang kutuju adalah rak buku sastra. Di sinilah aku mulai berkenalan dengan roman-roman masa lalu, kisah-kisah populer masa kini, dan tokoh-tokoh sastra setiap angkatan kesustraan Indonesia, maupun tokoh sastra dunia. Dan satu hal yang membuat minatku semakin termotivasi ke dunia sastra adalah pengalaman masa lalu saat aku SMP dulu. Pengalaman mondok di pesantren dan tinggal di samping perpustakaan di masa lalu itu telah menjadikan aku seakan menemukan jembatan yang menghubungkannya ke masa kini. Buku-buku roman yang kubaca sangat terbatas dulu, kini seakan-akan semakin luas memberi jalan menuju ke dunia yang tiada batas. 

​Pernah suatu ketika, aku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Kenapa namaku singkat sekali? Tidak seperti nama-nama rata-rata temanku yang kukenal? Dan mengapa aku tidak pernah menemukan nama orang lain yang sama dengan namaku? Beda sekali dengan nama Mustafa, Muslim, Ismail, misalnya. Nama-nama seperti ini dapat kita temukan puluhan di sekitar kita. Tapi BUSSAIRI? (BUSHAIRI, sewaktu masuk SD namaku salah ditulis oleh guru, mestinya H tertulis S) Tak ada nama lain, selain namaku.

​Apa latar belakang Abang sulungku, memberikan nama itu untukku. Ya, ibu pernah bercirita dulu padaku, bahwa namaku itu diberikan oleh Abang sulungku yang waktu itu dia sedang mondok di Pesantren Mudi Mesra Samalanga Aceh Utara, tahun 1965. Nama itu sengaja dikirimkannya kepada orang tuaku di kampung via surat kala itu. Sebagai kenang-kenangan, katanya dalam surat.

ADVERTISEMENT

​Tapi dengan membacalah akhirnya aku menemukan jawaban, ada apa dengan namaku itu. Suatu hari (aku sudah lupa hari apa) aku sedang membolak-balik sebuah buku yang dikarang oleh seorang sastrawan sekaligus ulama besar yang sangat kukagumi. Judul buku itu “Tatasauf Moderent”, ditulis oleh Buya HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), seorang ulama sekaligus sastrawan yang sangat terkenal dengan romannya “Tenggelamnya Kapal Vanderwijd”. Di bagian terakhir buku yang kubaca itu aku menemukan sebuah nama seperti namaku, BUSHAIRI. Lengkapnya Imam Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid Al-Bushairi, sastrawan terkenal Mesir, pengarang Kitab Al Banzanji yang sering dibaca saat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW itu. Masya Allah! 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 355x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 320x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 268x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 214x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Bussairi D Nyak Diwa

Bussairi D Nyak Diwa

Bussairi D. Nyak Diwa kerap menggunakan nama pena Bussairi Ende, atau B.S. Ende; lahir di Bakongan Aceh Selatan pada 10 Juli 1965. Saat ini menjabat Kepala SMP Negeri 4 Kluet Utara, Aceh Selatan. Alumni Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unsyiah, 1992. Pernah memimpin Gelanggang Mahasiswa Sastra Indonesia (Gemasastrin) sebagai Ketua Umum Periode 1988-1992. Pendiri Majalah Mahasiswa FKIP Unsyiah KALAM, 1990. Bersama Said Fadhil, Agam Ismayani, dan Mohd. Harun mendirikan Majalah Mahasiswa Unsyiah Monomen, 1991. Menulis puisi, cerpen, dan esai sastra di beberapa koran lokal. Bulan November 2009 diundang ke Jakarta sebagai Finalis Lomba Menulis Cerita Pendek Guru Bahasa dan Sastra Indonesia se-Indonesia yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. Cerpen dengan judul “Bulohseuma” terpilih sebagai 15 Cerpen Terbaik Tingkat Nasional 2009 dan memperoleh Tropi dari Depdiknas. Sementara Kumpulan Puisi dengan judul Ziarah Hati, memperoleh Juara III Tingkat Nasional dalam Lomba Menulis Buku Pengayaan Tahun 2010 yang diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan Depdiknas Jakarta. Untuk menerima hadiah diundang ke Jakarta bersamaan dengan peringatan Hari Buku Nasional yang disiarkan langsung oleh TVRI Pusat Jakarta 9 Juni 2010. Penulis juga tercatat sebagai penulis Indonesia dalam Buku Ensiklopedi Penulis Indonesia Jilid 7.  Hingga hari ini Penulis telah menghasilkan beberapa buku, di antaranya; Ziarah Hati (Kumpuln Puisi, Pusbuk, 2010), Senyum Terakhir Siti Sara (Kumpuln Cerpen, Fam Publishing 2017), Doa Sajadah (Kumpulan Puisi, Fam Publishing 2019), dan beberapa Buku Kumpulan Puisi Bersama. Sedangkan Buku yang bakal terbit dalam waktu dekat adalah Kumpulan Cerpen Ayah dan Anak (2021).

Baca Juga

IMG_0573
Sejarah

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a
#Amerika

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi
Esai

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
Next Post
Seandainya Aku Tak Menjadi Guru - d97b075c 1aeb 4547 b8a4 3f3519c36fd7 | Biografi | Potret Online

Begini Cara Kerja Mafia Hukum

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com