Dengarkan Artikel
” Semua baik-baik saja, Nak. Bapak pun ingin pulang bersamamu.”
Sebaris senyum mengembang dari bibir sang ayah. Lalu mata itu. Entah mengapa tatapan itu yang sungguh Zulaikha rindukan. Tatapan sosok pelindung yang menenangkan.
Dooarrr!!
Satu ledakan kembali ciutkan nurani. Api berkobar dengan asap ungu kehitaman membumbung dan menyebar. Mendadak buritan merendah. Kargo kian tumpah bahkan kini malah menggelinding menerjang ruangan depan lantai satu.
“Mansyur!!!! Mansyurr!!!!” panggil satu ABK. Ayah Zulaikha tanggap.
“Ada apa!!!”
“Ledakan ini berasal dari turbin kapal. Mungkin baling-balik tersangkut jaring nelayan yang bercampur rumbai rumput dan pecahan karang. Ledakan merembet sampai ruang mesin. Kita harus hentikan air agar tidak naik ke dek 3.
“Tinggalkan kapal, Burhan! Persetan dengan ini semua!”
📚 Artikel Terkait
Pria bawahan Pak Mansyur itu tersenyum pucat. Pak Mansyur mengerti bahwa uraian itu adalah pertalian. Dengan siluet gelap di antara sela rambutnya yang kuyu, Pak Mansyur menebak.
” Benarkah sekoci tak akan sempat menjarak dan akan segera terperangkap pusaran karam kapal?”
Zulaikha merasakan keheningan di antara keriuhan. Dua pria itu yang berbicara itu kini bisu ditampari angin dan air hujan.
“Tidak malam ini! Bapak tak perlu ke sana. Orang lain saja. Zulaikha mohon satu kali ini saja Bapak nurut!”
” Di sini bapak adalah seorang mekanik. Sudah kewajiban bapak lakukan hal itu” terang sang ayah sambil mencium kening Zulaikha.
“Turunkan sekoci!” perintah Pak Masyur.
Rekan ABK segera menuruti.
Zulaikha menggelijang berontak kesetanan hendak memburu naik tapi Anggi dan Dila menahannya. Soar di atas kepala Pak Mansyur menyinari dan ejakan luka. Dari bawah, Zulaikha berteriak hancur berserak-serak. Kapal makin tak seimbang. Semua makin keruh. Manakala sekoci hanyut menjauh dipermainkan ombak, Zulaikha memandang butiran pasir itu luruh dalam sela genggamannya.
*****Selesai******
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





