Dengarkan Artikel
Utopia Rasa
“Aku tidak bisa hidup tanpa Baha”, ucap Cani dalam keadaan diinfus. Malam itu, Baha yang sedang bersama teman-temannya akrhirnya meluncur ke rumah sakit.
Rasa cinta yang dirasa seolah sangat besar. Cani merasa sangat bahagia saat melihat Baha tiba.Sebenarnya itu bukan pertama kali terjadi. Beberapa kali ia masuk RS karena rasa cinta pada Baha.
Beberapa tahun kemudian Cani menikah dengan pria lain, ia tetap sehat. Tak seperti ucapannya saat itu. Mengapa demikian, barangkali ini yang disebut utopia rasa.
Saat itu Cani sedang dimabuk rasa. Baginya hanya Baha, Baha dan Baha. Hingga ia merasa tidak bisa hidup tanpa Baha. Padahal ia sedang ditipu perasaannya sendiri, sedang dimanipulasi pikirannya sendiri.
Kita sering jumpai hal tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Kita dimanipulasi perasaan dan pikiran sendiri. “Kalau tidak begitu maka saya akan begitu”, ucap pikiran kita tanpa data. Hanya asumsi yang lahir dari peristiwa, rasa, dan membuat logika kita mati.
Utopia negeri adil dan sejahtera pernah dikampanyekan mereka. Sebelum terpilih, utopia itu sering kita dengar. Bahkan jurkam mengucapkannya dengan agitasi. Kita yang berlogika paham bahwa itu hanya lips service. Enak didengar namun bikin kecewa di realitas. Kita boleh anggap itu hanya hiburan di alam demokrasi. Panggung politik sekarang memang sedang menghadirkan para badut. Karenanya, mari ngopi bersama mantan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini




