POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Danantara, Harapan Baru Indonesia

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
February 18, 2025
Danantara, Harapan Baru Indonesia
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Kemarin mahasiswa demo. Alasannya, Indonesia Gelap. Lalu, dibalas pemerintah dengan harapan baru, Danantara. “Ape bende age tu, Bang?” tanya budak Pontianak. Sambil menikmati kopi tubruk tanpa gula, yok kita bahas Danantara yang banyak dipesan follower saya.

Indonesia tidak pernah kekurangan mimpi besar. Kita pernah bermimpi punya mobil nasional, tapi berakhir jadi bahan meme. Kita pernah bercita-cita jadi lumbung pangan dunia, tapi malah sibuk impor beras. Kita pernah janji setop utang, tapi utang terus bertambah. Tapi, tenang. Kini hadir Danantara, cahaya baru di ujung terowongan ekonomi. Harapan baru di tengah efisiensi anggaran.

Nama lengkapnya, Daya Anagata Nusantara. Artinya? “Energi Masa Depan Indonesia.” Ini bukan sekadar nama, ini mantra sakti. Sebuah janji bahwa Indonesia akan melesat ke masa depan dengan kekuatan baru. Presiden Prabowo Subianto siap meluncurkannya pada 24 Februari 2025. Katanya, ini akan menjadi lembaga pengelola investasi terbesar yang pernah dimiliki negeri ini. Sebanding dengan Temasek di Singapura, Khazanah di Malaysia. Luar biasa, wak!

Tapi, sejarah mengajarkan kita satu hal, mimpi besar sering kali berakhir sebagai patung proyek mangkrak. Danantara berjanji akan mengelola kekayaan negara, mengoptimalkan aset, dan membawa Indonesia ke puncak kejayaan ekonomi. Persis seperti kisah-kisah sukses dalam buku-buku ekonomi. Tapi kenyataan sering kali lebih keras dari halaman buku.

Modal awalnya? US$20 miliar. Jangan salah. Ini bukan uang yang jatuh dari langit. Ini hasil dari pemotongan anggaran negara dan dividen BUMN. Dalam bahasa sederhana, duit rakyat dan keuntungan perusahaan pelat merah akan disalurkan ke sini. Sebuah pengorbanan besar demi masa depan yang katanya lebih cerah.

Danantara akan membiayai 15 megaproyek bernilai miliaran dolar. Proyek-proyek strategis yang, jika berhasil, akan membawa Indonesia ke level baru dalam perekonomian global. Energi terbarukan, industri canggih, manufaktur, produksi pangan, semua sektor penting akan disentuh. Visi ini begitu sempurna. Terlalu sempurna, bahkan.

📚 Artikel Terkait

Nilai Prabowo

Tips Supaya Tidak Terlambat ke Sekolah

Ibu Cerdas di Era Digital – Ulasan Artikel

Penulis Islam Guru Mahdi Idris Teungku Aceh Pintar Menulis Sastra Itu Telah Pergi

Tapi pertanyaannya, apa bedanya Danantara dengan BUMN yang sudah ada? Bukankah kita sudah punya ratusan BUMN yang tugasnya juga mengelola aset negara? Jawabannya sederhana, Danantara bukan sekadar BUMN. Ini adalah superholding. Bayangkan semua BUMN yang ada dikendalikan oleh satu tangan besar. Sentralisasi total. Satu komando, satu kekuatan, satu mimpi besar.

Tapi sejarah juga mengajarkan bahwa ketika kekuasaan terlalu terpusat, risiko semakin tinggi. Apakah ini akan menciptakan efisiensi atau justru memperlambat segalanya dengan birokrasi? Apakah ini akan melahirkan kejayaan atau malah membuka ruang lebih besar bagi kepentingan politik? Apakah ini akan membawa keuntungan bagi rakyat atau hanya jadi ladang baru bagi oligarki?

Kritik mulai berdatangan. Transparansi dan akuntabilitas jadi pertanyaan. Dasar hukum pembentukannya dipertanyakan. Kekhawatiran akan politisasi semakin nyaring. Tapi pemerintah tetap percaya diri. Seperti biasa, rakyat diminta untuk percaya dulu. Bersabar dulu. Memberi kesempatan dulu. Sabar ya, wak!

Sejarah akan mencatat. Apakah Danantara akan menjadi mercusuar ekonomi Indonesia, atau sekadar proyek ambisius yang akan dikenang sebagai satu lagi eksperimen yang gagal? Akankah ini menjadi awal dari era baru ekonomi Indonesia atau justru jadi pengulangan kisah lama yang sudah sering kita lihat?

Satu hal yang pasti, saat ini, yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu. Berharap. Atau, jika ingin lebih realistis, mempersiapkan mental untuk kejutan-kejutan berikutnya.

“Coretax biayanya 1,2 triliun. Sedangkan Deepseek yang menggucang dunia hanya 97,8 miliar. Gimana tu, Bang?” tanya Matasam teman ngopi di Kafe Joss Mora Jl Wahidin Pontianak.

“Ente ni, kite ngomong Danantara, malah nanya Coretax. Ancore.”

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 69x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Rabu Abeh dan Terapi Air Laut untuk Kesehatan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00