POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Pertarungan di Sebuah Gedung Tua

Reza FahleviOleh Reza Fahlevi
February 17, 2025

Ilustrasi

🔊

Dengarkan Artikel

1Salah satu kisah dari Detektif Jimmy

Oleh Reza Pahlevi

Di tengah derasnya hujan, Genzi memacu mobil di kecepatan tinggi. Di momen tengah malam begini, ia seolah-olah begitu leluasa mengemudi. Hampir sepanjang jalan tak ada kendaraan lain yang lewat.

Kedua mata Genzi tetap fokus menatap jalan — sesekali dia juga melirik kaca spion tengah dan juga kiri serta kanan. Gelagat lelaki ini dalam kewaspadaan tinggi.

“Ke mana… kau membawaku?” tanya seorang wanita. Suaranya terdengar lemah dan tidak berdaya.

Ya, Genzi tidak sendirian. Dia membawa seorang wanita berusia sekitar dua puluh lima tahun dari kadiamannya. Saat ini, wanita yang dikenal sebagai Azkiya itu berada di bagian belakang mobil. Dia terbaring lemah di kursi dengan lumuran darah di sekujur wajah dan sebagian pakaiannya.

“Apa kau… ingin… membunuhku?” tanya sang wanita lagi.

Genzi menanggapi perempuan itu dengan senyuman sinis dan menjawab, “membunuhmu tak ada artinya bagiku. Lebih baik aku menyiksamu terlebih dahulu — dengan begitu kau bisa memahami bagaimana penderitaanku selama ini setelah kau membunuh istriku.” katanya.

Azkiya spontan berteriak. “Aku tidak membunuh istrimu!”

📚 Artikel Terkait

APA YANG MEMBUATMU MARAH

Membaca Ulang Machiavelli Di Era Kuasa Digital

APA UNTUNGNYA JADI KONSELOR?

Penjamah di Tanah Tuah

“Memang… kematian istriku bukan langsung dari tanganmu. Tapi, kau orang yang sudah membuat istriku tewas melalui orang lain. Kau menuduhnya berselingkuh, dan semua itu berujung pada kematian istriku.”

“A… aku tidak menuduh — istrimu memang berselingkuh. Aku melihatnya langsung — ”

“Diam…!” teriak Genzi. Ia cukup berang mendengar ujaran Azkiya. Dan, kekesalannya itu membuat dirinya secara tak sadar memacukan kendaraan lebih tajam dari sebelumnya.

Sekitar dua puluh menit berselang, Genzi menepikan mobilnya di depan sebuah gedung yang gelap dan kusam. Bangunannya yang berlantai tiga itu terlihat sudah lumayan rusak. Wajar saja sebab sudah sangat lama tidak dipakai.

Di dalam mobil, Genzi melirik ke sekitar untuk memastikan keadaannya. Saat ia mengira situasinya aman, lantas lelaki ini membawa masuk mobilnya ke pekarangan belakang gedung, kemudian keluar dari dalam dengan membawa serta Azkiya.

Ketika sedang menggotong sang wanita berjalan yang sudah berdarah-darah itu, terlihat ada sebuah belati yang menancap di paha kirinya. Sepertinya, Genzi melukai Azkiya menggunakan senjata tajam tersebut.

Tiba di lantai dua, Genzi membaringkan Azkiya di atas sebuah meja. Tempat yang mereka datangi ini dipenuhi dengan meja, kursi serta rak-rak buku yang tertata kacau. Pemandangan itu menandakan bahwa gedung tua yang kusam ini dulunya adalah sebuah perpustakaan.

“Jangan. Tolong jangan.” ujar Azkiya. Kedua tangan wanita itu spontan menggenggam erat pakaiannya.

“Hanya pria bodoh yang mau melakukannya…” balas Genzi. Dia paham gelagat Azkiya yang menggenggam erat pakaiannya. Wanita itu takut Genzi berniat memerkosainya.

“Aku tidak melampiaskan dendam dengan cara menodai kesucianmu. Tapi, ada hal yang lebih penting untuk membuatmu paham bahwa semua perlakuanmu terhadapku — juga keterlibatanmu di balik tewasnya istriku —semua sudah meninggalkan luka batin di hatiku.

Karna itu, kau harus tau apa yang sedang kurasakan saat ini. Mungkin, aku tidak bisa melukai hatimu seperti yang kau lakukan — maka satu-satunya cara adalah menyiksamu sampai kau benar-benar merasa bersalah dan memohon ampun padaku — memohon seperti budak.”

Genzi lantas melepas ikat pinggangnya dan mulai mencambuk sekujur tubuh Azkiya. Ia terus melakukannya dan sama sekali tidak peduli terhadap wanita itu yang berteriak serta juga menangis histeris. Tidak hanya itu, Genzi juga sesekali mencekik leher sang perempuan, menjambak rambutnya bahkan juga mengantukkan kepala wanita tersebut ke permukaan meja.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Reza Fahlevi

Reza Fahlevi

Lahir di Banda Aceh pada Tanggal 9 september 1996, Reza Fahlevi sudah mulai menyukai dunia kepenulisan sejak masih duduk di bangku SMP. Tulisannya berupa cerita-cerita pendek terdapat di berbagai platform seperti KBM, Fizzo, Blogspot dan sekarang aktif menulis di Medium. Beberapa tulisan Reza dalam bentuk puisi pernah diterbitkan oleh Warta USK. Ia juga pernah memenangkan lomba menulis novel yang diadakan oleh penerbit USK Press serta juga menjadi salah satu penulis dalam dua buku antologi yang berjudul Jembatan Kenangan (Jilid II) dan Kebun Bunga Itu Telah Kering. Selain menulis, Reza turut serta menjadi salah satu tenaga pendidik di sekolah MIN 20 Aceh Besar.

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Calon Pewaris

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00