POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (2)

RedaksiOleh Redaksi
January 24, 2025
Tags: #22 Tahun POTRET#HUT Majalah POTRET
Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (2)
🔊

Dengarkan Artikel

 

Oleh Gunawan Trihantoro

(Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah)

Cornelis de Houtman adalah pelaut Belanda yang memimpin ekspedisi ke Nusantara pada akhir abad ke-16. Ia tewas dalam pertempuran melawan pasukan Aceh yang dipimpin oleh Laksamana Malahayati. [1]

***
Di bawah langit Aceh yang membentang biru,
Ombak berkejaran menyapa dermaga.
Di sana, kisah perempuan perkasa bermula,
Malahayati, Laksamana laut yang tak tertandingi.
Bukan sekadar nama yang tercatat dalam sejarah,
Ia adalah simbol keberanian,
Darah Aceh yang mengalir dalam tiap ombak.

Ketika Portugis dan Belanda datang,
Dengan kapal-kapal besar membawa kerakusan,
Malahayati berdiri di depan,
Bukan sekadar perisai,
Namun badai yang menggulung ambisi kolonial.
Di balik wajah lembutnya, ada tekad baja,
Di genggamannya, rencong adalah suara.

Cornelis de Houtman datang dengan kapal-kapalnya,
Menjanjikan perdagangan, membawa tipu daya.
Namun Aceh, negeri yang penuh marwah,
Tak akan tunduk pada ketamakan.
Malahayati memimpin pasukannya,
Janda-janda perang yang menyimpan luka,
Namun menjadikannya bara semangat.

“Rencong ini bukan sekadar senjata,” katanya,
“Ini adalah suara tanah yang enggan diam.”
Dan di tengah pertempuran,
Ia melangkah ke depan, menghadapi de Houtman.
Tikamannya adalah pesan,
Bahwa tanah Aceh takkan dijual.
Di tengah darah dan angin laut,
Cornelis de Houtman tumbang,
Dan sejarah mencatat kekalahan kolonial.

📚 Artikel Terkait

Pelukan Terakhir Ibu dan Anak Sebelum Keduanya Meninggal

Success: Yours to Define

Selamat Malam Secangkir Kopi, Habis Tak Habis

Hukum Internasional di Hadapan Penderitaan: Membaca Aceh dan Konflik Global Lainnya

Bagi Malahayati, ini bukan sekadar kemenangan,
Namun janji kepada leluhur.
Bahwa Aceh akan berdiri,
Sebagai benteng Islam di Nusantara.
Ia bukan hanya Laksamana pertama,
Namun juga penjaga marwah negeri.
Dalam setiap langkahnya,
Ada doa dari tanah dan air.

Aceh kala itu adalah singgasana,
Yang menjunjung tinggi nilai perempuan.
Malahayati menjadi bukti,
Bahwa perempuan adalah pilar negeri.
Ia memimpin armada laut dengan cermat,
Menyusun strategi dengan hati-hati.
Tak gentar meski lawan bersenjata lengkap,
Karena ia tahu,
Keberanian lebih tajam dari pedang.

Di dermaga, anak-anak bernyanyi,
Tentang Malahayati dan rencongnya.
Tentang bagaimana perempuan Aceh,
Mengguncang dunia dengan keberanian.
Ia adalah inspirasi,
Bagi generasi yang lahir setelahnya.
Bahwa perjuangan tak mengenal gender,
Bahwa cinta tanah air adalah panggilan suci.

Namun keberanian Malahayati,
Bukan tanpa duka.
Ia kehilangan suami di medan perang,
Namun kesedihan itu,
Dibakar menjadi api perjuangan.
Ia mendirikan pasukan Inong Balee,
Janda-janda yang kehilangan pasangan.
Bersama mereka, ia membangun benteng,
Benteng yang tak hanya dari batu,
Namun dari tekad dan doa.

Di tengah malam yang sunyi,
Malahayati merenung di atas geladak.
“Apakah tanah ini akan bebas selamanya?”
Ia bertanya pada bintang-bintang.
Namun ia tahu,
Setiap tikaman rencong adalah doa,
Setiap langkah adalah janji,
Bahwa Aceh akan terus merdeka.

Kini, namanya diabadikan,
Di setiap sudut Aceh,
Di setiap cerita rakyat.
Ia adalah bukti,
Bahwa perempuan mampu memimpin,
Bahwa keberanian tak mengenal jenis kelamin.
Di museum, di buku sejarah,
Nama Malahayati menjadi bintang.
Namun lebih dari itu,
Ia hidup dalam hati setiap anak Aceh.

Malahayati adalah teladan,
Bahwa kekuatan bukan hanya milik laki-laki.
Ia adalah inspirasi bagi perempuan,
Yang ingin melawan keterbatasan.
“Jadilah seperti Malahayati,”
Seorang ibu berbisik pada anaknya,
“Berani melawan ketidakadilan,
Berani mencintai tanah air.”

Di bawah langit Aceh yang sama,
Ombak masih berkejaran.
Namun kini, mereka membawa cerita,
Tentang seorang perempuan,
Yang menulis sejarah dengan rencongnya.
Cornelis de Houtman telah tumbang,
Namun semangat Malahayati tetap hidup.
Ia adalah gelombang yang tak pernah reda,
Ia adalah api yang tak pernah padam.
***

Rumah Kayu Cepu, 23 Januari 2025

CATATAN
[1] Puisi esai ini diinspirasi dari kisah Laksamana Malahayati yang disebut-sebut sebagai laksamana laut perempuan pertama di dunia. https://tirto.id/cornelis-de-houtman-tewas-dalam-tikaman-rencong-malahayati-cz2x

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 69x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tags: #22 Tahun POTRET#HUT Majalah POTRET
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Kolaborasi Guru dan Murid MIN 11 Banda Aceh Hasilkan Karya Buku Cerita Bergambar “Faiha dan Bunga Misteri”

Kolaborasi Guru dan Murid MIN 11 Banda Aceh Hasilkan Karya Buku Cerita Bergambar "Faiha dan Bunga Misteri"

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00