• Latest
IMPIAN YANG KUTUNDA - af5860d9 4ad8 41be ab3a a4c4662b7905 | Cerpen | Potret Online

IMPIAN YANG KUTUNDA

Januari 11, 2025
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
IMPIAN YANG KUTUNDA - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Cerpen | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
IMPIAN YANG KUTUNDA - af5860d9 4ad8 41be ab3a a4c4662b7905 | Cerpen | Potret Online

IMPIAN YANG KUTUNDA

Redaksi by Redaksi
Januari 11, 2025
in Cerpen
Reading Time: 5 mins read
0
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Antoni Abdul Fattah

Penulis adalah Tenaga Kependidikan di MIN Sabang dan Penulis Buku

Baca Juga

di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026
Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026

 

Hari ini, aku masuk kuliah dalam semester baru, Semester V. Memang sih, seharusnya aku tidak boleh bergembira, karena kini aku telah memasuki jenjang perkuliahan yang makin menantang ditambah usia yang terus meningkat tajam.

Di DAMRI, aku masih merasa gembira, karena aku bisa kembali bertemu dengan teman-temanku, seperti Risma, Faisal, Hilman. Aku bersyukur karena aku memiliki teman-teman seperti mereka. Selain itu, ada alasan lain, kenapa aku bergembira.

Hal ini disebabkan oleh Banda Aceh. Aku suka tinggal, bahkan ingin sekali aku menetap di sini, karena lebih banyak inspirasi untuk menulis. Aku kan punya hobi menulis.

Tak terasa, DAMRI sudah tiba di IAIN Ar-Raniry, sebuah kampus yang menjadi salah satu unggulan di Nanggroe Aceh Darussalam. Aku pun langsung turun dari angkutan sekolah tersebut untuk langsung menuju ke kampusku tercinta. Sesampainya aku di kampus, aku langsung menuju ke ruang 80 untuk mengikuti mata kuliah Jurnalistik. Matakuliah yang menjadi favoritku.

Ada alasan lain kenapa aku begitu bersemangat dengan mata kuliah ini, ya, kalian pasti tahu lah di mata kuliah ini ada adik-adik letting yang cantik-cantik dan pintar-pintar. Tentu saja di antaranya ada yang aku taksir, istilah anak muda jaman sekarang gebetan.

***

“Woi… kenapa bengong aja…,” kata temanku Faisal, membuyarkan lamunanku.

“Eh.. lo Sal. Biasa lah aku lagi mikir tema tulisan yang ingin aku buat lagi….,” kataku berbohong. Padahal aku lagi mikirin yang lain. Hehehehe….

“Eh, aku ada tulisan baru lho. Tapi, belum selesai ku ketik. Nanti deh pas sudah selesai, tolong lo edit ya?”

“Ya, tentu saja!” kataku mantap.

“Eh Sal. Lo punya nggak cewek yang lo sukai di ruangan kita?” tanyaku mengawali pembicaraan iseng-iseng.

“Nggak ada. Lo ada?” Faisal balik bertanya.

“wuada dung…,” jawabku mantap.

“Siapa?

“Ada saja…,” sahutku.

“Pasti adik letingkan?” selidiknya padaku.

“Eehh… Enak aja… Bukan whoi..,” tipuku. (Padahal iya. Hehehe…)

“Pasti Risma!” tebaknya yakin.

“Bukan! Dia cuma kawan saja…,” aku mengelak. (Tapi kalo ini memang benar, kalo aku tidak suka iya).

“Kalo bukan dia… Pasti cewek yang berkacamata itu…?” Faisal kembali mencoba menerka.

“Siapa pake kacamata? Bilqis?” aku balik bertanya.

“Ya. Siapa lagi!”

“Bukan lah yang itu…Kamu udah salah.”

“Jadi siapa juga? Tapi aku yakin, pasti Risma yang lo suka. Karena lo kan suka ngobrol sama dia. Dan obrolan lo tuh pasti nyambung…,”

“Alah… Terserah lo aja deh Sal. Lo penasaran kan? Besok aja lo jawab lagi dan jika benar pasti ku iyakan…” ujarku.

Padahal, aku pasti akan berbohong lagi pada si Faisal. Malas aku, karena pasti bakal jadi omongan lokal dan aku belum siap mental (alah, kayak mau perang aja).

***

Di kampus, Aku pun duduk-duduk santai sama si Risma, sembari membaca kumpulan cerpen buatannya, yang disuruh nilai pada aku. Lalu, gebetan aku itu muncul bersama temannya. Tepat sekali, mataku beradu dengan matanya, cewek yang aku taksir itu. Namun,

“Eh Ton, jurnalisme sastrawi apa pengertiannya?” Tanya si Hilman.

“Jurnalisme sastrawi itu adalah jurnalisme naratif, jurnalisme yang bertutur yang diperkenalkan oleh Thomas Wolfe pada tahun 197…,” jawabku, sengaja mengalihkan perhatian darinya.

“Tunggu dulu, aku catat..,” jawab Hilman sambil mengambil buku tulisnya.

ADVERTISEMENT

Setelah itu, untuk sementara aku tidak bisa memandangnya lagi karena aku harus belajar, karena hari ini Jurnalistik, midterm.

***

Jam 2 lebih sedikit, aku sudah stand by di ruang 80. Sebelum berangkat ke kampus, aku sudah membulatkan tekad untuk mengutarakan perasaanku kepadanya.

Waktu yang kutunggu-tunggu pun tiba. Dia naik ke ruang 80 bersama temannya.

“Sudah masuk?” Tanya temannya.

“Belum,” jawabku.

Yosh… aku harus segera melepaskannya…

“Hai ****, eh ada yang ingin kutanyakan nih sama lo. Tapi cuma berdua aja…”

“Wah, penting nih kayaknya, deep interview nih,” cela temannya bercanda. Temannya itu pun keluar dari ruang 80.

Aku pun memulai pembicaraan, “Eh, ada yang ingin kutanyakan nih sama lo, ***,” aku berusaha menahan gugup.

“Mau tanya apa emangnya?” ujar ****. Dia masih sibuk dengan buku kuliahnya. Ketika dia bilang “tanya apa,” aku bertambah deg-degan. Seperti suara mesin denyut jantung yang akan segera berhenti, karena pasiennya akan segera meninggal.

“Dari pertamakali kamu masuk kuliah dan sejak kemarin aku ingin kamu tahu sesuatu dariku. Aku sebenarnya su…,” belum habis mulut ini berucap. Teman-temanku sudah mulai berdatangan ke sini.

“Eh, sudah dulu ya, besok lagi aku bilang,” kataku langsung menuju ke kursi, karena Dosen Jurnalistik kami sudah memasuki ke ruangan. Tanda kalau pelajaran akan segera dimulai.

Sejak kulitku menyentuh kursi belajar, pikiranku mulai berubah. Aku akan menunda luapan perasaan ini dalam waktu yang lama. Aku tak tahu kapan aku akan mengutarakan perasaanku lagi padanya. Tapi, aku sudah bersiap. Bahwa perasaan ini akan kuutarakan ketika aku wisuda nanti.

Aku tidak tahu respon apa yang akan diberikannya nanti. Aku tak tahu. Apakah dia menerima cintaku ini atau tidak. Yang jelas pada saat itu aku sudah siap mental.

Ini bukan kegombalan. Tapi, keseriusan yang amat sangat. Aku tidak main-main.

Yang jelas, pada saat itu tiba, perasaan ini akan terungkap…[]

 

 

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 342x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 312x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Tags: #22 Tahun POTRET#HUT Majalah POTRET
SummarizeShare235Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

IMPIAN YANG KUTUNDA - IMG_2664 | Cerpen | Potret Online
Haba Mangat

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025
IMPIAN YANG KUTUNDA - 2025 01 25 21 08 12 | Cerpen | Potret Online
Artikel

Cara Orang Korea Menghargai Mega

Januari 25, 2025
IMPIAN YANG KUTUNDA - 2244b2e6 de91 4d09 bdcc 1a15c63254f5 | Cerpen | Potret Online
POTRET Budaya

Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (2)

Januari 24, 2025
IMPIAN YANG KUTUNDA - 7cff1bac 8d15 4a90 bf36 7d06f5cacd91 | Cerpen | Potret Online
POTRET Budaya

Lelaki Yang Lahir Dari Darah Perempuan

Januari 22, 2025
Next Post
IMPIAN YANG KUTUNDA - bcfe5b0a e74a 4b47 94fd 9d99a57d9711 | Cerpen | Potret Online

POTRET, Inspirasi bagi Guru Pemula dalam Menulis

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com