POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Essay

DIALOG IMAJINER DENGAN SAHABAT

Redaksi by Redaksi
Mei 26, 2024
in Essay
0

Oleh Zulkifli Abdy

MATAHARI mulai ranum di ufuk barat, bagai hendak menabur kehangatan.
Geliat kendaraan yang lalu-lalang, balada kehidupan kota yang tak pernah sepi, dan pedagang kaki lima dengan wajah sumringah menyambut pelanggan. Ketika itu saya dan seorang sahabat bergegas masuk ke sebuah kedai kopi yang mulai disesaki pengunjung, lewat beranda samping.

Pertemuan menjelang siang ini, bermula saat kami berpapasan secara tak sengaja dua hari sebelumnya, di parkiran sebuah gerai swalayan franchise yang berpusat di ibukota, dan bersepakat untuk bertemu bila ada waktu senggang.

Baca Juga
  • 01
    Artikel
    TERHEMPAS PUN ADA BATASNYA
    16 Mar 2024
  • DIALOG IMAJINER DENGAN SAHABAT - IMG_8773 | Essay | Potret Online
    Artikel
    Mozaik Cahaya Misykat
    24 Mar 2024

Supaya lebih leluasa ngobrol, kami memilih duduk di bagian sudut dari beranda itu. Tanpa berpikir lama, saya memesan kopi sanger kesukaan saya, dan seperti biasa sahabat saya itu minta pada pelayan kedai untuk disedukan kopi hitam tanpa gula, kami pun mulai ngobrol “ngalor-ngidul”.

Entah mengapa, tiba-tiba saja sahabat saya itu menggoda saya untuk bicara tentang politik, saya pun menuruti saja. Dan yang bersangkutan mengawali perbincangan dengan satu pertanyaan pembuka, yang membuat saya sedikit kaget, namun merasa suprise juga;

Baca Juga
  • DIALOG IMAJINER DENGAN SAHABAT - 6601AE9B FD4D 4594 9340 F6B63670FC2E | Essay | Potret Online
    Edukasi
    Pesan Kak Cut
    09 Nov 2022
  • DIALOG IMAJINER DENGAN SAHABAT - DBFFBADF 8371 4104 8A8C E892F2266683 | Essay | Potret Online
    Essay
    Silaturahmi Warung Kopi
    05 Des 2022

Sahabat: Bro, ini sudah mau musim Pilkada lagi ya? (katanya memulai pembicaraan).
Saya: “Iya, memang kenapa?” (jawab saya santai).

Sahabat: Oh ya Bro, apa saja kiranya yang perlu disiapkan seorang tokoh yang hendak mengikuti kontestasi politik itu? seperti Pilkada Gubernur, Wali Kota dan Bupati nanti. (katanya dengan polos).
Saya: Uang. (jawab saya).

Baca Juga
  • 01
    Essay
    Petualangan
    03 Des 2021
  • DIALOG IMAJINER DENGAN SAHABAT - EA6C072B 04FE 432B 8FCA 2371E9041339 scaled | Essay | Potret Online
    Aceh
    Sepeda dan Upaya Eradikasi Sedentary Lifestyle
    22 Feb 2023

Sahabat: Selain uang apa lagi? (tanyanya penasaran).
Saya: Ya, uang. (saya coba menyederhanakan jawaban).

Sahabat: Ya, selain itu apa lagi Bro? (ia seperti ingin menggali lebih jauh).
Saya: Sembako. (kata saya sambil menunjuk ke arah toko kelontong di seberang jalan).

Sahabat: Masa hanya itu? tentu harus ada yang lain juga Bro. (ia mulai merasa diambangkan).
Saya: Selain itu, para calon harus menyiapkan juga Visi-misi, dan itu sebaiknya dia tulis sendiri, bukan dipesan pada konsultan politik. (jawab saya enteng).

Sahabat: Setelah Visi-misi apa lagi Bro? (ia bertanya, kali ini lebih serius).
Saya: Ya, uang dan lagi-lagi uang, begitu seterusnya sampai pada hari pemilihan nanti. (jawab saya tersenyum seraya menggesekkan jempol tangan dan jari telunjuk berulang-ulang).

Sahabat: Kalau begitu perlu banyak uang dong Bro. (katanya sambil menerawang dan mengarahkan matanya ke langit-langit).
Saya: Benar sekali, demokrasi sekarang ini memang sedang mahal, bukankah suara rakyat adalah suara Tuan, Tuan itu hanya kata saya lho. Tetapi dalam demokrasi ada adagium yang berbunyi; Vox Populi Vox Dei, yang artinya Suara Rakyat adalah Suara Tuhan, sehingga menang atau kalahnya kontestan politik ditentukan oleh suara rakyat yang memilihnya. (kata saya dengan ekspresi sedikit bercanda untuk mencairkan suasana).

Kami pun membahas topik yang menarik itu dari berbagai sudut pandang, termasuk dampaknya secara ekonomi, sosial dan budaya, bahkan juga aspek penegakan hukum dan kehidupan demokrasi yang turut pula terancam.

Agar tidak jenuh, obrolan kami sesekali ditingkahi dengan cerita lucu dan anekdot yang mengundang gelak-tawa, serta politik yang coba dikaitkan dengan kearifan lokal pada daerah tertentu. Tanpa terasa dua jam sudah kami ngobrol semeja di kedai itu, karena asyiknya waktu pun terasa begitu cepat berlalu.

Sambil melirik arloji yang melilit di tangan kirinya, sahabat saya itu pun mengajukan satu pertanyaan pamungkas;
Sahabat: Kalau begitu, seandainya tokoh yang hendak maju pada Pilkada nanti tidak punya cukup uang, atau punya tetapi tidak mau menggunakannya untuk mempengaruhi pemilih, akan sulit menang dong Bro? (kata sahabat saya itu masygul).
Saya pun menjawab ringkas: Memang, bahkan yang punya cukup uang pun belum tentu menang. Inilah mungkin dilema yang diketahui banyak orang, tetapi tidak cukup dipahami oleh sebagian politisi.

Sahabat: Ah, aku pun semakin mumang juga jadinya ini Bro. (dalam dialek Aceh yang artinya pusing, seraya mendekapkan kedua telapak tangannya di kening dan mengusap rambutnya hingga kusut).
Saya: Pada era politik yang pragmatis sekarang ini, sepertinya uang sebagai sarana, sudah menjadi suatu keniscayaan. Mungkin gejala ini akan berkurang atau bahkan dapat dihilangkan sama sekali bilamana rakyat secara ekonomi telah sejahtera dan terdidik dengan sangat baik. (jawab saya dengan nada sedikit berfilosofi).

Sebelum mengakhiri perbincangan, saya pun mohon izin pada sahabat yang baik hati itu, untuk menyimpulkan diskusi singkat menjelang siang itu;

Saya: Sahabat, apa yang kita bicarakan ini sesungguhnya adalah suatu fenomena pertarungan antara Idealisme versus Pragmatisme. Hanya orang yang benar-benar tangguh secara ‘imaniah’ yang dapat memenangkannya, walaupun yang bersangkutan akhirnya harus rela dan ‘mengalah’ secara politik. Agaknya suatu ikhtiar bersama yang dapat kita gelorakan ke depan untuk menghentikan sengkarut Politik Uang ini, adalah dengan mencanangkan satu tekad; Entaskan Kemiskinan dan Cerdaskan Kehidupan Bangsa. (demikian kesimpulan saya seraya berucap maaf padanya, karena telah berpanjang lebar).
Sahabat: Baik Bro, kalau begitu saya juga sependapat dengan anda, dan terima kasih, telah membawa alam pemikiran saya menerawang jauh ke batas angan. (jawabnya dengan nada lirih seraya bersalaman).

Seiring dengan itu, suara azan terdengar berkumandang dari menara masjid kecil, di lorong tak jauh dari kedai kopi tempat kami biasa bercengkrama itu.
Kami pun bersepakat untuk sementara waktu berpisah, dan akan bertemu lagi dilain kesempatan.

(Banda Aceh, 25 Mei 2024)

Note ;
– Cerita ini hanya fiksi belaka
– Foto hanya sebagai ilustrasi.

Previous Post

SUGUHI PEMBACA DENGAN BAHASA SATIR DAN PEMIKIRAN BERNAS

Next Post

Pilkada 2024 Padang Panjang Ubai Dillah Al Anshori: Energi Bangkit Bersama Milenial

Next Post
DIALOG IMAJINER DENGAN SAHABAT - 025e961e 86c3 4676 9bde bf87cad4271f | Essay | Potret Online

Pilkada 2024 Padang Panjang Ubai Dillah Al Anshori: Energi Bangkit Bersama Milenial

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah