POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

Bagian 10

RedaksiOleh Redaksi
November 28, 2022
SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU
🔊

Dengarkan Artikel

Bussairi D. Nyak Diwa

 

​Begitulah, keseharian hidupku di pesantren sungguh menyenangkan. Setiap hari, sepulang sekolah aku bekerja, tanpa harus buang-buang waktu kepada hal-hal yang tidak bermanfaat. Jika sebagian teman-teman sibuk dengan kegiatan pramuka atau olahraga sepulang sekolah, aku malah sibuk dengan kerja yang sama-sama juga memeras keringat. Tapi bukan berarti bahwa aku tidak berolahraga samasekali, selesai shalat ashar aku juga sering main bola di halaman pesantren yang luas bersama teman-teman. Nek Abu tidak pernah melarang kami berolahraga setelah shalat ashar. Yang penting kami harus patuh pada peraturan bahwa olahraga dibolehkan sehabis shalat ashar berjamaah dan berhenti jangan lewat dari pukul setengah enam. Siapa yang melanggar pasti akan mendapat sanksi atau hukuman baik secara kolektif maupun secara individu.

​Jika bosan bekarja, apalagi kalau sedang tidak sekolah aku sering pergi ke kebun bersama Teungku Cunda dan Teungku Rusli. Biasanya hari Minggu pagi Teungku Cunda sering ke kamarku menanyakan apakah aku mau ikut ke kebun. Aku tak pernah menolak ajakan Teungku yang hanya punya sebelah tangan itu. Kami jalan kaki sejauh kurang lebih lima kilometer menelusuri pantai dan satu muara yang dangkal. Meski jauh berjalan kaki, tapi kami tak pernah merasa lelah karena sambil melangkah kami bercanda sepenjang jalan. Aku sangat bersyukur punya seorang teman sebaik Teungku Cunda, karena di samping pengertian, Beliau juga suka melucu dan bercerita. Cerita-cerita yang Beliau kisahkan padaku kebanyakan pengalaman hidup yang dialaminya di kampung halamannya di Aceh Utara sana. Salah satu kisahnya adalah tentang suatu peristiwa yang menyebabkan dia kehilangan tangan kanannya. Tak terasa air mataku menetes manakala mendengarkan ceritanya waktu itu. Tapi aku tidak pernah menceritakan kisah hidupnya yang menyedihkan itu kepada siapun hingga hari ini, meskipun sudah puluhan tahun kami berpisah dan tak bertemu muka. Kabar terakhir yang kudengar, Teungku Cunda saat ini sudah sukses di negeri seberang sana. Beliau sekarang menjadi seorang pendakwah yang ternama dan kayaraya di Malaysia. Beliau juga punya pesantren dengan ribuan santri di negeri jiran itu.

​Menjelang siang usai bekerja di kebun, kami ke muara membeli ikan segar dari nelayan yang baru pulang melaut. Ikan-ikan itu kami bakar di bawah pohon cemara. Kami bergiliran shalat dhuhur dan menunggu masaknya ikan bakar. Lalu makan bersama-sama dengan teman nasi ikan bakar dan daun pepaya muda yang baru dipetik dari batangnya. Betapa sedapnya makan bersama di bawah pohon-pohon cemara diselingi angin siang yang lembut dan sepoi-sepoi dari lautan. Menjelang sore kami pulang, meski capek tapi hati dan perasaan terasa lega. Malamnya, tidurku pun terasa nyenyak sekali.

📚 Artikel Terkait

Peradaban yang Dilabeli: Stigma, Sejarah Kolonial, dan Ketimpangan Global

Tinjau Ulang Menelaah Tulisan Latin Tegak Berdiri Atas Karya Peserta Lomba

Pemko Banda Aceh Siap Sukseskan Tahapan Pemilu 2024 Mendatang

MPLS Inovatif: Gagas Deklarasi Sekolah Anti Kekerasan dan Perundungan

​Malam-malam sehabis mengaji, aku sering duduk-duduk sendirian di teras perpustakaan sambil membaca buku, koran atau majalah. Di rak-rak dan lemari dalam perpustakaan banyak terdapat buku-buku bacaan. Bermacam-macam bahan bacaan ada di sana. Ada buku-buku umum dan buku-buku cerita, mulai dari yang ringan hingga bacaan yang berat. Ada juga majalah dan koran. Majalah yang sering kutemukan di sana adalah Panji Masyarakat, Santunan, dan Tabloid Darussalam. Tapi yang sering aku baca adalah Majalah Panji Masyarakat. Kalau buku, aku suka baca buku-buku cerita; kumpulan cerpen, novel, atau roman. Buku-buku roman masa ‘Poejangga Baroe’ atau ‘Balai Poestaka’ banyak terdapat di perpustakaan ini. Buku roman Tenggelamnya Kapal Vanderwijk, Salah Asuhan, Siti Nurbaya, Merantau Ke Deli, Tak Putus Dirundung Malang, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Pengalaman Masa Kecil, dan puluhan roman lainnya ada di sini. Dan buku-buku itu telah membuat diriku memperoleh pengalaman baru, dunia baru, dunia yang penuh dengan sensasi dan imajinasi, tapi kaya dengan bekal rohani. Saking banyaknya buku-buku dan bahan bacaan di perpustakaan ini, suatu ketika aku pernah bertanya dalam hati; dari mana Nek Abu mendapatkan semua bahan-bahan bacaan itu. Barulah puluhan tahun kemudian aku tahu jawabannya, itu pun setelah aku merantau dan menjadi mahasiswa di kota.

 

(Bersambung)

 

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 51x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Sajak Rosli K. Matari

Sajak Rosli K. Matari

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00