• Latest
SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

Juli 23, 2022
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

Bagian 5

Redaksiby Redaksi
Juli 23, 2022
Reading Time: 3 mins read
SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Bussairi D. Nyak Diwa

Satu semester atau tepatnya enam bulan lamanya aku pergi-pulang dari rumah ke sekolah dalam proses menuntut ilmu di SMP Negeri di kota tepi pantai itu. Saat liburan semester pertama berlangsung, aku total berada di kampung dengan berbagai aktivitas yang melenakan.

Mandi di sungai bersama kawan-kawan sambil mencari udang di sepanjang aliran sungai yang deras, dalam, dan berbatu-batu. Bermain layang-layang di sawah yang terhampar luas usai para petani kampung kami memanen hasilnya. Pergi ke kaki gunung di pinggir kampung, lalu meretas getah ‘rambong’ dan mengoles ke daunnya yang lebar-lebar itu, kemudian menjemur, lalu membuat balon dan menggulung-gulungnya menjadi bola kasti atau bola kaki. Dengan bola-bola alami itulah sorenya kami bermain kasti, volly, atau sepak bola di sawah yang becek dan luas. Sungguh-sungguh mengasyikkan.

Baca Juga

Seandainya Aku Tak Menjadi Guru

Maret 24, 2025
Sang Pembangkang

Seandainya Aku Tak Menjadi Guru

Maret 25, 2025
Merajut Toleransi di Tengah Keberagaman

Merajut Toleransi di Tengah Keberagaman

Maret 16, 2025

Kami juga sering membuat bubu-bubu kecil dari bambu dan dirangkai dengan rotan yang telah dihaluskan. Sore menjelang malam, bubu-bubu kecil itu kami bawa ke pematang sawah. Di antara pematang sawah yang airnya mengalir, kami pasang bubu-bubu itu. Biasanya kegiatan ini kami lakukan kala padi mulai berbunga. Ikan-ikan seperti lele, gabus, sepat, dan ikan-ikan kecil lainnya banyak berkeliaran di dalam sawah mengikuti arus air. Jika malamnya turun hujan, maka dipastikan banyak sekali ikan itu yang tersangkut di dalam bubu. Pagi-pagi sekali kami mengangkat bubu-bubu itu, lalu membawa pulang berbagai macam ikan ke rumah untuk kemudian dimasak oleh ibu menjadi lauk makan pagi. Begitulah melewati keseharian di kampung halaman selama liburan berlangsung.

Mengawali semester ke dua di kelas satu SMP, aku mulai sadar akan sesuatu. Waktu itu sudah lama mengaji di rumah seorang Teungku di kampung kami. Sudah bertahun-tahun aku mengaji pada teungku yang bernama Tgk. Abdullah itu dan seingatku sudah lima kali khatam. Suatu malam terbetik di pikiranku untuk melanjutkan mengaji ke tingkat yang lebih tinggi. Maka kukatakanlah niatku itu pada ibu, tapi aku bilang pada ibu bahwa aku ingin melanjutkan mengaji ke kota Bakongan, ibukota kecamatan. Di sana ada sebuah pesantren yang diasuh oleh seorang ulama kharismatik dan sepuh yaitu Abuya Syech Haji Adnan Mahmud atau lebih akrab kami panggil Nek Abu. Pesantren itu bernama Ashabul Yamin. Ke sanalah maksud hatiku untuk mengaji. Saat kusampaikan maksudku itu pada ibu, ibu sangat setuju.

Tanpa kuduga Ibu menyampaikannya pada Ayah. Dan ternyata Ayah juga sangat setuju dan mendukung rencana Ibu. Maka bulatlah tekad, mulai pertengahan tahun atau permulaan tahun ajaran baru aku sudah boleh mengaji di sana dengan syarat aku harus mondok di pesantren itu.

Mengetahui bahwa Ayah sangat setuju, hatiku pun sangat senang dan berbunga-bunga. Ibu mempersiapkan bahan-bahan keperluanku untuk mondok. Sebuah ranjang solo terbuat dari besi warisan orang tua ibu, Beliau persiapkan untukku. Ada juga sebuah tong yang terbuat dari kayu meranti yang mengkilat meskipun sudah tua dimakan usia, Ibu bersihkan tempat menyimpan pakaianku. Selebihnya adalah sebilah parang yang sudah mengecil ujungnya, sebuah pisau dapur, dan sebuah ‘umpang’ yang khusus dianyam ibu dari daun ‘sikee’ tempat menyimpan buku-buku dan kitab untuk persiapan sekolah dan mengaji. Oh ya, hampir lupa, Ibu juga tak lupa menyelipkan dalam eumpang itu selembar sajadah yang kelihatan masih baru. Jika tak salah, sajadah itu adalah sajadah yang sering digunakan ibu saat menunaikan shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Meskipun seingatku sajadah itu sudah berulang kali digunakan Ibu untuk shalat hari raya, namun dari fisiknya kelihatan bersih dan masih baru. Begitulah, aku menerima semua pemberian itu dengan hati yang sangat senang dan bahagia.

 

(Bersambung)

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 335x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 296x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 278x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 253x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 190x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Wisata Hari Raya

Wisata Hari Raya

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com