POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

Bagian 5

RedaksiOleh Redaksi
July 23, 2022
SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU
🔊

Dengarkan Artikel

Bussairi D. Nyak Diwa

Satu semester atau tepatnya enam bulan lamanya aku pergi-pulang dari rumah ke sekolah dalam proses menuntut ilmu di SMP Negeri di kota tepi pantai itu. Saat liburan semester pertama berlangsung, aku total berada di kampung dengan berbagai aktivitas yang melenakan.

Mandi di sungai bersama kawan-kawan sambil mencari udang di sepanjang aliran sungai yang deras, dalam, dan berbatu-batu. Bermain layang-layang di sawah yang terhampar luas usai para petani kampung kami memanen hasilnya. Pergi ke kaki gunung di pinggir kampung, lalu meretas getah ‘rambong’ dan mengoles ke daunnya yang lebar-lebar itu, kemudian menjemur, lalu membuat balon dan menggulung-gulungnya menjadi bola kasti atau bola kaki. Dengan bola-bola alami itulah sorenya kami bermain kasti, volly, atau sepak bola di sawah yang becek dan luas. Sungguh-sungguh mengasyikkan.

Kami juga sering membuat bubu-bubu kecil dari bambu dan dirangkai dengan rotan yang telah dihaluskan. Sore menjelang malam, bubu-bubu kecil itu kami bawa ke pematang sawah. Di antara pematang sawah yang airnya mengalir, kami pasang bubu-bubu itu. Biasanya kegiatan ini kami lakukan kala padi mulai berbunga. Ikan-ikan seperti lele, gabus, sepat, dan ikan-ikan kecil lainnya banyak berkeliaran di dalam sawah mengikuti arus air. Jika malamnya turun hujan, maka dipastikan banyak sekali ikan itu yang tersangkut di dalam bubu. Pagi-pagi sekali kami mengangkat bubu-bubu itu, lalu membawa pulang berbagai macam ikan ke rumah untuk kemudian dimasak oleh ibu menjadi lauk makan pagi. Begitulah melewati keseharian di kampung halaman selama liburan berlangsung.

📚 Artikel Terkait

Petuah Jitu Memilih dan Memulai Bisnis

Belajar Empati di Tengah  Krisis Ekologis

Puisi-Puisi Muhammad Sholeh Arshatta

Tiga Bule Resmi Perkuat Timnas Jelang Lawan Australia

Mengawali semester ke dua di kelas satu SMP, aku mulai sadar akan sesuatu. Waktu itu sudah lama mengaji di rumah seorang Teungku di kampung kami. Sudah bertahun-tahun aku mengaji pada teungku yang bernama Tgk. Abdullah itu dan seingatku sudah lima kali khatam. Suatu malam terbetik di pikiranku untuk melanjutkan mengaji ke tingkat yang lebih tinggi. Maka kukatakanlah niatku itu pada ibu, tapi aku bilang pada ibu bahwa aku ingin melanjutkan mengaji ke kota Bakongan, ibukota kecamatan. Di sana ada sebuah pesantren yang diasuh oleh seorang ulama kharismatik dan sepuh yaitu Abuya Syech Haji Adnan Mahmud atau lebih akrab kami panggil Nek Abu. Pesantren itu bernama Ashabul Yamin. Ke sanalah maksud hatiku untuk mengaji. Saat kusampaikan maksudku itu pada ibu, ibu sangat setuju.

Tanpa kuduga Ibu menyampaikannya pada Ayah. Dan ternyata Ayah juga sangat setuju dan mendukung rencana Ibu. Maka bulatlah tekad, mulai pertengahan tahun atau permulaan tahun ajaran baru aku sudah boleh mengaji di sana dengan syarat aku harus mondok di pesantren itu.

Mengetahui bahwa Ayah sangat setuju, hatiku pun sangat senang dan berbunga-bunga. Ibu mempersiapkan bahan-bahan keperluanku untuk mondok. Sebuah ranjang solo terbuat dari besi warisan orang tua ibu, Beliau persiapkan untukku. Ada juga sebuah tong yang terbuat dari kayu meranti yang mengkilat meskipun sudah tua dimakan usia, Ibu bersihkan tempat menyimpan pakaianku. Selebihnya adalah sebilah parang yang sudah mengecil ujungnya, sebuah pisau dapur, dan sebuah ‘umpang’ yang khusus dianyam ibu dari daun ‘sikee’ tempat menyimpan buku-buku dan kitab untuk persiapan sekolah dan mengaji. Oh ya, hampir lupa, Ibu juga tak lupa menyelipkan dalam eumpang itu selembar sajadah yang kelihatan masih baru. Jika tak salah, sajadah itu adalah sajadah yang sering digunakan ibu saat menunaikan shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Meskipun seingatku sajadah itu sudah berulang kali digunakan Ibu untuk shalat hari raya, namun dari fisiknya kelihatan bersih dan masih baru. Begitulah, aku menerima semua pemberian itu dengan hati yang sangat senang dan bahagia.

 

(Bersambung)

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Wisata Hari Raya

Wisata Hari Raya

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00