Oleh: Lina Zulaini
Tersimpan rasa takut saatku melihat tanggal ini
Embun di pelupukku nyatanya juga tak tinggal diam
Ketika angka itu mulai tiba
Pun rindu semakin mengepak dan membubung tinggi ke semesta raya
Kadang aku berhasil, kadang kalap pula menimpa ini diri
Menangkap hujan di wadah pipiku
Sesekali aku serah saja
Biar hujan itu bermain mesra di atas luka
Menari bersama rindu sambil sesekali tertawa berat
Aku berpikir
“Mungkin sudah takdir aku menangis”
Tapi lain waktu aku bisa saja jauh lebih terluka
Saat rindu benar-benar menjadi tombak dan menombak ini raga
Pun malam, tak kuasa menimpa ini jiwa yang semakin serakah
Hingga aku berkata
“Semua salahmu, Tuhan!”
Lain masa, rupanya aku menang
Walau darah tumpah bersama rindu di pematangan sawah
Namun aku bahagia si picik hati tak bisa bangun dari tidurnya
Sampai lidah mampu berucap
“Terima kasih untuk luka, Tuhan”
Untukmu:
Yang senantiasa di hatiku
Dariku di:
Kubang Rindu, 18 Oktober 2018
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 337x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 298x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 248x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 238x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis.
Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.


















