HABA Mangat

Kabar Redaksi

Tema Lomba Menulis Bulan Februari

Februari 2, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Kabar Redaksi

Tema Lomba Menulis Bulan Februari

Februari 2, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Mudik yang Hampa

Aswan Nasution by Aswan Nasution
Februari 27, 2026
in Esai
Reading Time: 3 mins read
0
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Aswan Nasution 

Di bawah langit kelabu yang merunduk laksana kening seorang musafir dalam sujudnya, ia melangkah. Ia adalah laki-laki sunyi, seorang pemuda yang memanggul nasib ke tanah seberang, memilih jalan senyap di antara rimba beton dan deru mesin perantauan. 

Baca Juga

Separuh Nafas Untuk Paruh Waktu

Maret 17, 2026
Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

Maret 14, 2026
Pelukan Bangga Seorang Ibu

Pelukan Bangga Seorang Ibu

Maret 13, 2026

Namun, setiap kali semilir angin Syawal membawa aroma tanah basah dan gema takbir memecah cakrawala, ia selalu menempuh jalan yang sama. Ia pulang. Ia mudik.

Ia mudik dengan keyakinan yang getir; sebuah keyakinan bahwa sesungguhnya tidak ada lagi yang benar-benar menunggunya dengan tangan terbuka di ambang pintu. Di kampung halamannya yang jauh itu, kedua orang tuanya telah lama bersalin rupa—nama mereka kini terukir kaku di atas batu nisan yang dingin, dikelilingi rumput-rumput liar yang menari ditiup angin pegunungan. 

ADVERTISEMENT

Rumah tempat ia pertama kali menghirup udara dunia, kini hanyalah rongsokan cerita yang runtuh bersama dinding-dinding bambu yang dimakan usia. Tak ada lagi lampu teras yang menyala pucat untuk menyambut langkah kakinya di kegelapan malam. Tak ada lagi suara parau penuh kasih yang memanggil namanya dari kepul asap dapur.

Namun, mengapa ia tetap kembali?

Inilah estetika dari sebuah perlawanan jiwa. tentang keselarasan antara jiwa dan alam, Dia adalah personifikasi dari manusia yang mencari sintesis antara masa lalu yang hancur dan masa depan yang asing. Ia pulang bukan untuk merebut kembali harta, melainkan untuk melakukan ziarah batin ke pusat asal-usulnya. Baginya, mudik adalah sebuah ritus kemanusiaan yang lebih dalam dari sekadar perjalanan fisik.

Namun, di dalam kalbunya, ia merasakan perih yang menyerupai sajak-sajak yang karam dalam duka. Ia merasa rindunya adalah rindu yang piatu—sebuah rindu yang tidak lagi memiliki alamat. Rindunya sadar diri, bahwa ia tak akan pernah tuntas, tak akan pernah sampai pada muara pelukan yang ia dambakan. Ia seperti pengembara yang mengetuk pintu-pintu tetangga dan kerabat jauh, mencari serpihan kenangan yang tercecer. Ia bersimpuh di kaki kerabat, menyandarkan kepalanya pada bahu-bahu yang sebenarnya tidak lagi ia rindukan, hanya demi mencari sisa-sisa aroma masa kecil yang barangkali masih melekat di sana.

Di tengah riuh rendah gelak tawa dan hidangan lebaran yang tersaji di atas meja kayu yang asing, ia selalu paham: ada sunyi yang duduk dengan setia tepat di sebelahnya. Sunyi itu tidak bicara, ia hanya menatap dengan mata yang dalam, mengingatkan sang pemuda bahwa rumah sesungguhnya adalah sesuatu yang telah hilang ditelan waktu. 

Ia adalah gambaran dari “Manusia Baru” yang dinamis, yang terus bergerak maju ke depan, namun secara tragis masih terikat oleh akar romantisme masa lalu yang pedih. 

Ia berjuang antara keinginan untuk melepaskan diri dari melankoli dan kebutuhan purba untuk merasa memiliki sebuah tempat untuk pulang.

Baginya, lebaran bukanlah sekadar perayaan kemenangan atas nafsu, melainkan kemenangan atas keputusasaan. Ia menang karena ia masih mampu bertahan dalam kesunyian. Ia menang karena ia masih memiliki keberanian untuk pulang, meski yang ia peluk di sepanjang jalan hanyalah bayang-bayang dan kenangan yang meriap. Pilu? Tentu saja. Namun, dalam kepiluan itu ada martabat yang tegak.

Ia tetap mudik tanpa orang tua yang menunggu. Ia tetap pulang meski rumah tak lagi memiliki atap yang utuh. Sebab, ia tahu, rindu yang tak beralamat adalah rindu yang paling murni. Ia tidak pulang kepada bangunan kayu atau tembok semen; ia pulang kepada dirinya sendiri yang tertinggal di sudut desa itu puluhan tahun silam. 

Ia memulangkan rindu kepada tanah, kepada udara, dan kepada tawa masa kecil yang kini telah menjadi rahasia antara dirinya dan Tuhan.

Laki-laki sunyi itu mengajarkan kita satu hal: bahwa rumah tidak selalu berupa bangunan dengan lampu yang menyala. Kadang, rumah adalah ketabahan untuk tetap berjalan menempuh rute yang sama, demi menghormati jejak-jejak cinta yang pernah ada, meski kini ia hanya bisa menyapa nisan dan memeluk sunyi. Ia adalah sang pujangga mudik, yang di dalam hatinya, fajar kebangkitan dan senja kerinduan bertemu dalam satu tarikan napas Syawal yang syahdu.

Penulis :

Aswan Nasution, Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini masih bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara. Di mana Semua lelaki dewasa di panggil “Ketua”.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 284x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 243x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 206x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 159x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236
Aswan Nasution

Aswan Nasution

Aswan Nasution, Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini masih bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara. Di mana Semua lelaki dewasa dipanggil “Ketua”. Apabila ingin menghubunginya bisa kirimkan ke emailnya aswannasution09@gmail.com.

Baca Juga

Artikel

Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Membaca Konflik Iran–Israel dan Implikasinya bagi Strategi Geopolitik Indonesia serta Masa Depan Aceh

Maret 17, 2026
Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya
#Korban Bencana

Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya

Maret 17, 2026
Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum
#Hari Buruh

Koeli Kontrak (Contractarbeider)

Maret 17, 2026
Cerpen

Aku Merindu

Maret 17, 2026
Next Post
Melekan Budaya: Sebuah Upaya Menghidupkan Ekosistem Kesenian di Daerah

Melekan Budaya: Sebuah Upaya Menghidupkan Ekosistem Kesenian di Daerah

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com