HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Februari 22, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Februari 22, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Bijaklah Berbelanja Di Era Digital

Redaksi by Redaksi
Oktober 7, 2023
in Artikel, bijak, Bingkai Utama, Ekonomi, Era digital, Finansial, POTRET Budaya, POTRET Utama
Reading Time: 8 mins read
0
Bijaklah Berbelanja Di Era Digital
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Tabrani Yunis

Akhirnya pemerintah melakukan tindakan terhadap TIK Tok, tidak berjual beli di Tik Tok shop. Per Rabu, 4 Oktober 2023, TikTok Shop, fitur jual beli dari media sosial TikTok, resmi ditutup di Indonesia. Penutupan TikTok Shop tersebut menyusul kebijakan baru pemerintah yang tidak mengizinkan social commerce berdagang, tetapi hanya sekadar berpromosi ( Kompas.com, 6 Oktober 2023). Sebuah keputusan yang memberikan jaminan kepada pedagang atau pengusaha lokal atau tradisional di tanah air dari serangan ekonomi global.

Baca Juga

Ketika Agama Menjadi Optik: Refleksi Ramadhan 1447 dari Serambi Mekkah

Maret 15, 2026

Di Bawah Langit yang Sama: Takjil Ramadan, Paskah, dan Taut Persaudaraan

Maret 14, 2026
Presiden Pedofil?

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026

Ya, dalam praktiknya Tik Tok melakukan dagang yang dianggap merusak pasar dengan cara menjual barang dengan harga yang sangat murah, terjun bebas dan mudah yang sangat mengganggu pasar, baik modern maupun traditional. Bahkan mematikan UMKM yang sedang diupayakan Pemerintah untuk menghidupkan ekonomi dari level bawah. Wajar saja kalau banyak pasar traditional besar dan kecil menjadi sepi. Sepinya pasar di mana-mana, akhirnya menjadi masalah dalam dunia perdagangan di tanah air. 

Tak dapat dimungkiri bahwa di sana sini, banyak terdengar cerita miris dan mengagetkan. Bukan hanya mengagetkan, tetapi memprihatinkan. Bayangkan sajalah ya. Tanah Abang, pasar besar yang selalu ramai dengan pengunjung yang sering sesak dan berdesak melewati lorong-lorong di setiap lantai Pasar Tanah Abang itu, dikabarkan oleh sejumlah media dan bahkan lebih heboh di media sosial yang memang dimiliki oleh setiap orang.

Seperti dipaparkan oleh CNBC Indonesia, “ Tidak seperti kondisi Pasar Tanah Abang biasanya yang selalu dipadati oleh pengunjung, kini terlihat sepi, bahkan ruang gerak yang biasanya padat sekarang menjadi lengang. Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) bahkan mengungkapkan ada fenomena pedagang di Pasar Tanah Abang satu per satu gulung tikar. Para pedagang tekstil tersebut mengalami nasib serupa dengan banyak pedagang tekstil di pasar-pasar tradisional di Indonesia.” Sangat memprihatinkan, bukan?

Ya, tentu sangat memprihatinkan, karena dengan sepi atau lengangnya Tanah Abang, mematikan banyak kegiatan ekonomi, baik besar, Menengah dan apalagi usaha kecil? Dampaknya sangat lah dahsyat. Otomatis, Tanah Abang yang selama ini menjadi salah satu sumber perputaran uang yang sangat besar karena padatnya pembeli yang datang, lalu berubah sepi atau lengang, bagaimana uang bisa berputar? Jadi macet, bukan?

Sepi adalah representasi dari kondisi macetnya ekonomi pasar. Karena gencarnya penjaualan lewat Tiktok dan platform bisnis online lainnya, banyak pihak yang ikut terdampak, pengusaha yang biasanya makmur dengan omzet setiap harinya, ketika pasar Tanah Abang sepi, atau pasar-pasar lainnya tidak banyak pembeli, maka omset berkurang, malah minus. Akhirnya mengurangi kemampuan membayar pajak dan lain-lain. Bukan hanya itu, nasib pekerja yang menggantungkan hidup dari bekerja di sektor pramuniaga akan terancam kehilangan Pekerjaan dan lain-lain.

Kondisi pasar yang sepi atau lengang juga terjadi di daerah-daerah, termasuk Aceh. Ya, di Aceh pun, bukan saja di pusat-pusat pasarbesar seperti di pasar Aceh, tetapi juga di daerah Kecamatan, seperti di Pasar Manggeng, Aceh Barat Daya. Begitu pula di pasar Aceh, belakangan ini disebut-sebut sedang dalam masa paceklik, ya usaha dagang mereka kurang pembeli. Pasar terasa sepi sehingga berdampak pada banyak hal, termasuk para pekerja yang mencari rezeki sebagai pelayan atau penjaga toko. Banyak yang harus keluar atau dikeluarkan karena tidak sanggup membayar gaji. Kasihan bukan? 

Betapa tidak kasihan. Bayangkan saja di tengah naiknya harga barang-barang dan harga BBM, rendahnya income atau pendapatan masyarakat, menambah buruknya wajah pasar tradisional kita. Cobalah lihat apa yang sedang dirasakan oleh masyarakat kita terkait masalah pangan. Ya, naiknya hargaberas, pasti pengaruhnya tidak hanya di kalangan masyarakat kecil, tetapi juga bagi kalangan pegawai pemerintah dan swasta.Apalagi selama ini yang sudah menjadi rahasia umum bahwa para pegawai negerisipil banyak terlilit utang di bank yang membuat uang gajinya tidak pernah utuh dan cukup dibawa pulang, untuk dibelanjakan kebutuhan rumah tangga. Semua ini membuat daya beli masyarakat melemah dan tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Akibatnya, pasar juga sepi.

Bagi banyak pengusaha, terutama kalangan UMKM dan sektor ekonomi lainnya, gencarnya penjualan lewat aplikasi Tik Tok, Shopee dan lain-lain membuat para pelaku ekonomi mikro juga sepi dan memaksa mereka harus menutup usaha, karena kalah bersaing. Akibatnya pelaku UMKM tida mampu membayar upah para pekerja. Dalam kondisi ini, banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan yang berujung pada meningkatnya jumlah pengangguran. Biasanya ketika meningkatnya jumlah pengangguran akan berdampak terhadap kasus-kasus kejahatan atau kriminal. Oleh sebab itu, langkah pemerintah menghentikan Tik Tok shop merupakan wujud kepedulian Pemerintah terhadap para pedagang dan atau UKM di tanah air. Namun,muncul pula pertanyaan baru, “Apakah dengan ditutupnya Tik Tok Shop tersebut akan bisa menggeliatkan pasar-pasar tradisional tersebut?” Apakah Tanah Abangatau pasar Aceh dan pasar-pasar tradisional lainnya akan penuh sesak seperti dahulu? Belum ada jaminan. Apalagi, pasar online selama ini sudah mendapat tempat di hati masyarakat kita, semakin sulit rasanya untuk mengembalikan suasana ramai seperti dahulu.

Semua tahu bahwa selama ini gencarnyapenjualan di Tik Tok shop memang begitu hebat dan menggiurkan. Selain murah, juga mudah dan tidak perlu lelah serta mengeluarkan uang ekstra, seperti uang parkir, minyak kendaraan, dan lain-lain. Masyarakat kita sudah manja dan suka yang instan. Sehingga, walau tidak berbelanja di Tik Tok, masih ada Shoppee, beli-blu, Tokopedia, bukalapak dan lain-lain. Belanja lewat aplikasi di toko online, memberikan banyak kemuduhan dan lebih enak. Bukan hanya itu, sistem pembayaran yang ditawarkan juga lebih beragam dan memudahkan serta memanjakan. Selain itu, ada rasa bangga menerima kiriman paket belanja online. Hal-hal yang berkaitan dengan psikologis pembeli begini menjadi tantangan berat bagi pedagang yang belum menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih dan memudahkan hidup.

Para pedagang, termasuk UMKM mungkin saat ini merasa terbantu dengan adanya larangan dari pemerintah Indonesia atasberoperasinya penjualan produk lewat Tik Tok shop, namun percayalah bahwa pelarangan itu bukanlah jalan keluar yang benar-benar mampu menghidupkan kembali kondisi pasar Tanah Abang, Pasar Aceh dan pasar-pasar tradisional lainnya di tanah air. Dikatakan demikian, karena masih banyak platform media sosial lain yang melakukan penjualan online. Semua ini ikut  memengaruhi kondisi pasar. Oleh sebab itu, ketika larangan itu diberlakukan, para pedagang atau pelaku usaha harus mampu membangun kemampuan berdaing. Apalagi di tengah gencarnya gempuran produk-produk murah dari Cina,setiap pengusaha, UMKM dan lain-lain harus mampu melakukan usaha pembenahan usahadengan cepat.

Lalu, langkah apa yang harus diambil oleh pemerintah saat ini? Tentu saja di samping melarang, sekaligus harus menyiapkan para pedagang, pelaku binis untuk berlari mengikuti perubahan percaturan ekonomi global. Selain itu, pemerintah harus lebih cepat menyikapi persoalan sepinya pasar. Pemerintah pun harusnya bisa lebih cepat mengantisipasi hal – hal sepert ini. Namun yang lebih penting lagi adalah meningkatkan daya beli masyarakat. Daya beli masyarakat yang rendah, sangatlah rentan terhadap berbagai persoalan sosial. Daya beli yang rendah, sesungguhnya menjadi penyebab sepinya pasar besar, menengah dan kecil di tanah air. Pemerintah perlu mengevaluasi sistem peminjaman uang di Bank yang selama ini terjerat utang di bank. Ketika para pegawai sipil sudah terjerat utang di bank – bank atau lembaga keuangan mikro, selama itu pula daya beli menurun. Sudah selayaknya pemerintah menaikan gaji PNS atau ASN agar mereka memiliki uang yangcukup untuk dibelanjakan di pasar. Sehingga pasar pun ikut terbantu. Sayangnya, kenaikan gaji PNS dan Pensiunan di negeri ini dikalahkan oleh naiknya harga barang. Sehingga, para PNS dan Pensiunan selalu dalam kondisi kekurangan dan tak mampu berbelanja. Ujung-ujungnya tetap menimbulkan masalah sepinya pasar tradisional dan lainnya. Kerena kemampuan masyarakat hanya mampu membeli barang-barang murah yang ditawarkan di pasar online. Namun, hal yang penting juga harus dimiliki dan dijalankan oleh masyarakat adalah membangun sikap bijak berbelanja di era digital ini. Jangan besar pasak dari tiang.

Tabrani Yunis

Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 236x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 218x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 173x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 142x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 125x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum
#Doa di Bulan Ramadan

Malam Lailatul Qadar

Maret 15, 2026
Agama

Ketika Agama Menjadi Optik: Refleksi Ramadhan 1447 dari Serambi Mekkah

Maret 15, 2026
Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun
Kualitas pendidikan

Mengelola Pendidikan Ala Keledai?

Maret 15, 2026
POTRET Budaya

Di Bawah Langit yang Sama: Takjil Ramadan, Paskah, dan Taut Persaudaraan

Maret 14, 2026
Next Post
MENGGAPAI IMPIAN

MENGGAPAI IMPIAN

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com