HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Anak-anak (belajar) Jujur

Redaksi by Redaksi
Juni 12, 2025
in Artikel, Pendidikan insklusif, Pendidikan POTRET Sekolah
Reading Time: 2 mins read
0
Anak-anak (belajar) Jujur
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel


Catatan Paradoks; Wayan Suyadnya

Menjelang kenaikan kelas, ada kebiasaan yang tampak sederhana bagi anak-anak sekolahan di Kota Denpasar, namun sejatinya sarat makna: mereka mengembalikan buku paket ke sekolah.

Baca Juga

Hari Raya di Tengah Krisis Timur Tengah: Luka Aceh dan Kemiskinan yang Terabaikan

Maret 18, 2026
Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman

Belajar Menabung dari Surah Yusuf: Iktibar di Tengah Ketidakpastian Global

Maret 18, 2026
Menyusun Buku Antologi Relawan Bencana Banjir dan Longsor Di Tengah Bencana Hidrometeorologi Aceh

Pak Bisa Minta Tolong Mendorong Helikopter?

Maret 18, 2026
ADVERTISEMENT

Hari-hati ini anak-anak ke sekolah membawa buku yang dulu dipinjamkan negara melalui sekolah, dan menyerahkannya kembali dalam keadaan utuh.

Tidak ada keluh, tidak ada pamrih. Anak-anak ini tak pernah tahu betul apakah mereka wajib mengganti bila buku rusak atau hilang, karena bagi mereka, sudah cukup jika amanat itu dikembalikan dengan baik.

Tapi yang luput disadari banyak orang dewasa adalah pengembalian buku oleh siswa berarti penghematan nyata. Efisiensi yang tak didengung-dengungkan. Buku adalah salah satu pos belanja terbesar dari Dana BOS—Biaya Operasional Sekolah.

Ketika buku dikembalikan dengan layak, maka tak perlu lagi sekolah membeli banyak untuk pengadaan buku baru. Dana BOS bisa difokuskan untuk membiayai kebutuhan lain: listrik yang terus menyala, air yang terus mengalir, toilet yang layak, pelatihan guru, kegiatan siswa, hingga perbaikan fasilitas yang nyaris runtuh.

Namun justru di tengah semangat penghematan itulah, paradoks menampar wajah publik: mengapa masih ada pungutan komite? Mengapa sekolah di kota pariwisata yang katanya “gratis” masih mengetuk hati orang tua/wali untuk menyumbang dengan dalih uang komite?

Ini bukan soal besaran rupiahnya. Ini soal kejujuran sistemik. Soal kenapa pemerintah bersusah payah menyusun regulasi, menetapkan anggaran, dan mengikrarkan pendidikan gratis—lalu dikhianati oleh mekanisme semi-formal bernama “komite sekolah”.

Kita tahu, dalam praktiknya, sumbangan komite sering tak lagi sukarela. Banyak yang mengeluh, tapi takut bersuara. Banyak yang tahu, tapi memilih diam. Banyak pejabat pendidikan yang tahu, tapi memilih memalingkan wajah, karena pungutan itu—konon—untuk “menutup kekurangan anggaran”.

Tapi bukankah Dana BOS ada untuk itu? Bukankah BOS dirancang agar tidak ada lagi beban di pundak orang tua? Kalau begitu, siapa yang bertanggung jawab atas pembiaran ini? Siapa yang menutup mata ketika niat baik negara dicemari oleh praktik yang menyesakkan?

Yang lebih menyakitkan adalah anak-anak kecil dengan polos mengembalikan buku paket dalam kondisi baik, para pengelola sekolah—yang seharusnya jadi teladan moral—menyusupkan celah pungutan dalam aturan. Mereka yang seharusnya mengajarkan kejujuran, justru menormalkan kebijakan yang abu-abu.

Kita sedang hidup di dunia paradoks: anak-anak lebih jujur dari orang dewasa. Negara lebih berniat baik daripada sebagian aparatur pelaksananya. Pendidikan dijanjikan gratis, tapi dalam praktiknya tetap saja berbayar, hanya namanya yang diganti menjadi “sumbangan”.

Jika dunia pendidikan terus dibiarkan seperti ini, maka jangan heran bila suatu hari kelak anak-anak yang kini jujur mengembalikan buku, akan tumbuh menjadi generasi yang belajar satu pelajaran pahit: bahwa sistem bisa dimanipulasi, dan kejujuran hanya milik mereka yang tak berkuasa.

Kuta, 12 Juni 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 360x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 308x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 225x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 188x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Artikel

Hari Raya di Tengah Krisis Timur Tengah: Luka Aceh dan Kemiskinan yang Terabaikan

Maret 18, 2026
Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman
Artikel

Belajar Menabung dari Surah Yusuf: Iktibar di Tengah Ketidakpastian Global

Maret 18, 2026
Koperasi Merah Putih: Ketika Lilin Ekonomi Desa Ragu Menyala
Dinas Koperasi

Koperasi Merah Putih: Ketika Lilin Ekonomi Desa Ragu Menyala

Maret 18, 2026
Menyusun Buku Antologi Relawan Bencana Banjir dan Longsor Di Tengah Bencana Hidrometeorologi Aceh
Aceh

Pak Bisa Minta Tolong Mendorong Helikopter?

Maret 18, 2026
Next Post
Amanah yang Berat

Amanah yang Berat

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com