
Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Oleh Rizkina MeutuahKuamati sekelilingkuLengangTiada seorang punAku terperangkapKuamati sekali lagiSebuah siluet munculSesosok makhluk dengan tariannyaDia memainkan jemari lentiknyaMemainkan pundaknyaMengerlingkan matanyaDia terampil...
Baca SelengkapnyaDetailsBy Lina ZulainiWarna hijau tenggelam menjulang berganti tiangSejuk itu ku rindu Aroma asoka itu ku pilu Masihkah kau merindu halaman...
Baca SelengkapnyaDetailskurs rupiah stabil naikpemerintahan mulai membaik harga surga makin terjangkauorang miskin semakin galaukurs rupiah stabil naikpemerintahan mulai membaikbeli surat penebusan dosahanya...
Baca SelengkapnyaDetailsBy Lina ZulainiMahasiswi Jurusan Pendidikan Geografi FKIP Unsyiah Setelah hari ituAku masih memandang langit yang samaMasih menghirup udara yang samaDengan...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Auliana Rizky Mahasiswa FKIP Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Letting 2017Pagi itu ruang memang tampak sangat cerahKursi...
Baca SelengkapnyaDetailsBy Lina ZulainiKau,Bolehkah ku menyimpan sedikit amarah untuk mu?Tersemat luka dalam kisah asmara iniMencekik masa depan yang hampir rampungKau,Bolehkah ku...
Baca SelengkapnyaDetailsBy Lina Zulaini13 Maret 2018Sahabat, Jika boleh ku menitip masa depan yang belum sempat ku benah dengan sempurnaKarena aku terlena...
Baca SelengkapnyaDetailsBy Lina ZulainiDarussalam, 12 Maret 2018Puluhan kali Kau memanggilku kembaliNamun aku tetap pada jalankuJalanku yang curamRibuan kali Kau datangiku penuh...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Lina Zulaini Berdomisili di Jantho, Aceh BesarMentari cerah terkadang membuat ku tak bisa terbukaKau sering membuat ku menangis, membuatku...
Baca SelengkapnyaDetailsPuisi Tabrani YunisAyahHari ini izinkan aku menangisMelampiaskan rinduku padamuMungkin lewat tangisKu basuh rindu ituSudah tak ada yang mampu mempersatuKecuali doa...
Baca SelengkapnyaDetails© 2025 potretonline.com