Oleh: Siti Hajar Tradisi merantau merupakan bagian penting dari sistem nilai dan struktur sosial masyarakat Aceh, khususnya di Kabupaten Pidie. Tidak jarang, laki-laki yang telah menikah juga merantau meninggalkan istrinya (bahkan dalam kondisi hamil) bukanlah hal yang dianggap aneh. Justru, praktik ini dipandang sebagai wujud tanggung jawab dan kematangan sosial. Banyak laki-laki Pidie yang baru kembali ke kampung halaman setelah bertahun-tahun, bahkan saat anak mereka telah berusia antara tujuh hingga dua belas tahun. Tulisan ini mengkaji secara lebih dalam tradisi merantau bagi laki-laki di Pidie, dengan menelusuri latar belakang sosiokultural, alasan non-ekonomi, serta dampaknya terhadap ketahanan keluarga dan identitas kultural pada zaman dulu. Sejarah dan Akar Tradisi Merantau di Pidie...
Oleh Feri Irawan Kepala SMKN 1 Jeunieb, Kabupaten Bireuen, Aceh Setelah memiliki Venue Sepatu Roda bertaraf nasional di Pantai...
Oleh Renita Zuhra Gampong Cebreik, kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, dikenal sebagai desa yang mengolah garam dengan cara tradisional....
Oleh NAB BAHANY ASBudayawan, tinggal di Banda Aceh Dalam banyak riwayat yang ditutip para penulis sejarah, terutama dalam catatan bangsa Cina...
Tangse, Potretonline.com, 31/10/21. Muasyarah Habib dan Kiay Indonesia (MUHKI) Aceh melakukan kunjungan ke lokasi banjir di Tangse dan menyerahkan bantuan...
Foto Dokumen POTRETOleh Iqbal PerdanaStaf Center for Community Development and Education (CCDE) Banda AcehSiapa sangka, hidup sebuah keluarga di tengah...
Anak-anak Miskin di Seuneudon menerima bantuanOleh Tabrani YunisBanyak orang bercita-cita untuk bisa keliling dunia, atau bisa keliling Indonesia, atau ingin...
Sigli, Potretonline.com, 30/09/18. Musisi Slank yang telah tiba di Sigli, yang panggungnya untuk menggelar acaranya telah didirikan dekat GOR Alun-Alun...
Ā© 2026 potretonline.com






