
Oleh: Dahlan Iskan Sabtu 10-05-2025 Yang pertama merespons pertanyaan saya adalah Prof Dr Busyro Muqoddas. Ia setahun lebih muda dari...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Heri Iskandar Minggu, 04/5/2025 (Edisi 1039) SUNGGUH KETERLALUAN Ustad yang satu ini. Demi tersalurkan nafsu birahinya menggauli seorang remaja...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Rosadi Jamani Pada tulisan sebelumnya, saya sudah mengulas secara singkat siapa Dr. Warsito Purwo Taruno. Beliau bukan cuma dokter,...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Rosadi Jamani Sebuah pameran fashion tak biasa kembali digelar oleh Kejaksaan Agung. Kali ini bukan Paris Fashion Week, melainkan...
Baca SelengkapnyaDetailsCara Mudah Merawat Logika Sabtu, 16/3/2025 (Edisi 1333) "Ada dengar berita heboh dari keluarga besar Baju Coklat tidak Bib?" "Ya....
Baca SelengkapnyaDetailsOleh : Ririe Aiko Di sebuah negeri yang terkenal dengan sumber daya yang melimpah, kreativitas bukan sekadar hobi atau bakat,...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Heri Iskandar Cara Mudah Merawat Logika Selasa, 12/3/2024 (Edisi 1329) "Gawat juga kelakuan oknum Baju Coklat satu itu...
Baca SelengkapnyaDetails968 T dan Mencemburui Neraka Aku melihat mereka dengan 968 T,mereka tertawa,sementara aku mengunyah kehampaan Aku berpuasa, aku bersujud,tapi cemburu ini lebih digdayaLebih panas dari dahaga.Lebih pekat dari malam-malamku yang hampa doa. Mereka mencuri, tapi tak dihukum.Mereka menipu, tapi tetap sucimereka menukar dosa dengan sedekah,Sementara aku menahan diri,perutku melilit, kerongkonganku kering,dan hatiku membusuk dalam dengki karena aku hanya menghitung receh di kantong lusuhmenakar iman yang semakin hambar. Tuhan, katakan padaku,Apakah surga hanya untuk mereka yang bisa membelinya,dengan uang yang didapat semudah air liur? Tuhan, mengapa mereka tetap tersenyum?tertawa di meja-meja megah,sementara aku menunggu magribdengan perut yang mengutuk langit? Malam ini aku sujud lebih lama,bukan untuk meminta ampun,tapi untuk bertanya,apakah aku boleh mencemburui neraka? Montasik, 5 Ramadhan 1446 Puasa Tanpa Cahaya Terhuyung dalam lapar dan haus, Bersama matahari dan palu pemecah batu Aku tahankan lapar ini, tapi aku kenyang oleh iri,hausku bukan air, tapi dendam yang tak terpuaskan.menghanguskan setiap ibadah,menjadikannya abu tanpa cahaya. Aku duduk merunduk di sajadah lusuh,tapi hatiku penuh letusan keluh,Tuhanku tetap terasa jauh,lidahku hanya mengulang,tanpa jiwa yang berserah. Orang-orang bersujud, menangis dalam syukur,aku bersujud, menangis dalam kehampaan.Malam-malamku penuh doa,tapi tak lebih gema kosong,memantul di dinding langit yang tak jua terbuka. Aku berpuasa, aku shalat, aku membaca firman-Nya,tapi di dalam dadaku,amarah masih menggeram, dengki masih berakar,tak bisa menyelamatkan hati yang menolak tunduk....
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Rosadi Jamani Sebuah video amatir yang baru-baru ini viral memperlihatkan dua jaksa yang sedang dengan santainya mendorong tumpukan uang...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Rosadi Jamani Setelah kita berkenalan dengan Riva Siahaan, Maya Kusmaya, dan Kerry Chalid, koruptor elite di tubuh Pertamina,yok kenalan...
Baca SelengkapnyaDetails© 2025 potretonline.com