Rubrik Esai menghadirkan tulisan-tulisan reflektif yang merangkai pemikiran mendalam, kritik halus, dan pengalaman personal menjadi satu kesatuan naratif. Setiap esai mengajak pembaca melihat dunia dari sudut pandang yang lebih jernih—melampaui berita harian dan opini cepat. Di sini, gagasan diolah dengan bahasa yang tenang namun tajam, memberi ruang bagi penulis untuk bertanya, meragukan, menantang, dan menemukan makna di balik peristiwa. Rubrik ini menjadi tempat bagi suara yang ingin merenungkan hidup, zaman, dan manusia dengan cara yang lebih intim dan intelektual.
Oleh : Teuku Masrizar Pagi Minggu 16 Syawal 1447 H, jelang pukul 11 siang, kami kedatangan tamu sangat...
Oleh Sastri Bakry Saya beberapa hari lalu menikmati suasana perpustakaan Jakarta. Cuaca panas Jakarta tak lagi terasa ketika...
Oleh Afridal Darmi Bermula kisah ini pada suatu hari di tahun 1995, di kota Pittsburgh , Amerika Serikat,...
Bagian ke Tiga Oleh Teuku Masrizar Negeri Hamatisa menghadapi kondisi yang semakin sulit. Walau mengganti pejabat, namun belum...
Oleh Aswan Nasution Pernahkah Anda duduk diam di dapur yang masih remang, menatap uap yang meliuk-liuk dari sebuah...
Oleh ReO Fiksiwan “Kupat saka janur, ngaku lepat, nyuwun pangapura.Janur jatining nur, pepadhang ati kang suci.” Arti harafiah:“..ketupat...
Salah satu wajah terindahnya adalah maidatul rahman, meja-meja panjang yang dipenuhi makanan berbuka gratis. Setiap hari, tanpa jeda. Mahasiswa,...
Oleh Aswan Nasution Lebaran selalu identik dengan kata pulang. Jalan-jalan dipenuhi kendaraan. Terminal sesak oleh orang yang membawa...