Bertanya Soal Kartu Aceh Carong
Oleh Tabrani Yunis Usai salat asar tadi, penulis duduk-duduk sejenak di dekat koleksi bunga kering yang dipajang di...
Rubrik Artikel menyajikan tulisan-tulisan pilihan yang mengupas isu sehari-hari dengan sudut pandang segar, kritis, dan bermakna. Setiap artikel disusun untuk membantu pembaca memahami fenomena sosial, budaya, dan kehidupan modern secara lebih jernih—tanpa sensasi, tanpa bertele-tele. Di sini, gagasan dipaparkan dengan bahasa yang renyah, analisis yang terarah, dan cerita yang menyentuh sisi manusia, sehingga setiap tulisan bukan hanya informasi, tetapi ruang refleksi.
Oleh Tabrani Yunis Usai salat asar tadi, penulis duduk-duduk sejenak di dekat koleksi bunga kering yang dipajang di...
Konflik Amerika Serikat dan Iran pada 2026 bukan peristiwa baru, melainkan akumulasi panjang dari sejarah ketegangan, krisis kepercayaan,...
Kecemasan yang muncul tanpa alasan jelas sering kali bukan terjadi begitu saja. Dalam psikologi, pengalaman masa kecil atau...
Oleh : Din Saja Kita mulai saja diskusi ini dengan pertanyaan-pertanyaan seperti, apa itu proses, apa itu kreatif,...
Oleh: Novita Sari Yahya Sejarah Indonesia memperlihatkan bahwa para pendiri bangsa tidak lahir sebagai pemimpin secara instan. Mereka...
Oleh Rosadi Jamani Kalian pasti curiga, para koruptor secara hukum memang dipenjara. Tapi, fisiknya, tidak. Kalau pun dipenjara,...
Oleh: Tgk. H. Erli Safriza Al Yusufiy, Lc. (Dosen STAI Aceh Selatan & Pimpinan Dayah Babussaadah) Dalam dinamika pemikiran Islam kontemporer, kita seringmenyaksikan kecenderungan memahami agama secara parsialatau sepotong-sepotong. Ada kelompok yang hanya terpakupada keindahan sastra Al-Qur’an (Tafsir), ada yang hanyafanatik pada riwayat (Hadis), dan ada pula yang terjebak dalambelantara logika hukum (Usul Fiqh). Padahal, dalam arsitektur ilmu syariat, pemisahan ketiga disiplinini secara kaku adalah sebuah kekeliruan epistemologis.Ketiganya bukanlah kamar yang terisolasi, melainkan satu”sirkuit intelektual” yang saling mengikat. Tanpa integrasiketiganya, bangunan hukum Islam akan kehilangankeseimbangan. Satu Teks, Tiga Dimensi Analisis Untuk memahami bagaimana interkoneksi ini bekerja, mari kitaambil contoh sederhana namun fundamental: perintah salatdalam ayat “Aqimush Shalah” (Dirikanlah salat). Bagaimanaseorang sarjana muslim merumuskan perintah ini menjadisebuah kewajiban yang praktis? Pertama: Matra Tafsir (Mencari Makna) Pisau analisis Tafsir bekerja di level semantik atau bahasa. Iamembedah apa itu Aqimu dan apa itu As-Shalah. Tafsirmembuka pintu pemahaman tentang “apa” yang diinginkanTuhan. Namun, di level ini, teks masih bersifat global (mujmal).Kita tahu ada perintah, tapi kita belum tahu bagaimana caraoperasionalnya. Kedua: Matra Hadis (Mencari Model)...
Oleh Yani Andoko Siang Bolong Yang Terik Dan Sebuah Bom Waktu Tak terbayangkan di sebuah ruangan sempit seluas...
Oleh Rosadi Jamani Di negeri ini, tidak ada yang lebih sakral dari status “lolos ke Universitas Indonesia,” apalagi...