Oleh Afridal Darmi Aku mengenal Agam lebih lama dari siapa pun. Sejak kecil, kami tumbuh bersama, berbagi mimpi, dan menghafal dunia dengan cara yang berbeda....
Baca Selengkapnya
<span class="s2">Afridal Darmi, SH, LLM. Seorang advokat profesional dan penulis amatir. Pernah menjejakkan kaki di berbagai sudut Bumi di negeri-negeri yang jauh di empat benua dalam menjalankan misinya sebagai </span><span class="s3">Human Right Defender</span><span class="s2">. Tapi selalu mendapati dirinya merindu Aceh, tempat perahu hatinya tertambat dan membuang sauh, tempat ketiga anak dan istrinya bermukim. Menyukai kopi dan bacaan. Segelas seduhan kopi Aceh dan sebuah buku, serta pojok yang tenang untuk membaca, hanya itu yang diperlukan untuk membuatnya bahagia. Afridal Darmi berkediaman di Aceh Besar. Alamat email: <a href="mailto:afridaldarmi@gmail.com"><span class="s5">afridaldarmi@gmail.com</span></a></span>
Oleh Afridal Darmi Aku mengenal Agam lebih lama dari siapa pun. Sejak kecil, kami tumbuh bersama, berbagi mimpi, dan menghafal dunia dengan cara yang berbeda....
Baca Selengkapnya968 T dan Mencemburui Neraka Aku melihat mereka dengan 968 T,mereka tertawa,sementara aku mengunyah kehampaan Aku berpuasa, aku bersujud,tapi cemburu ini lebih digdayaLebih panas dari dahaga.Lebih pekat dari malam-malamku yang hampa doa. Mereka mencuri, tapi tak dihukum.Mereka menipu, tapi tetap sucimereka menukar dosa dengan sedekah,Sementara aku menahan diri,perutku melilit, kerongkonganku kering,dan hatiku membusuk dalam dengki karena aku hanya menghitung receh di kantong lusuhmenakar iman yang semakin hambar. Tuhan, katakan padaku,Apakah surga hanya untuk mereka yang bisa membelinya,dengan uang yang didapat semudah air liur? Tuhan, mengapa mereka tetap tersenyum?tertawa di meja-meja megah,sementara aku menunggu magribdengan perut yang mengutuk langit? Malam ini aku sujud lebih lama,bukan untuk meminta ampun,tapi untuk bertanya,apakah aku boleh mencemburui neraka? Montasik, 5 Ramadhan 1446 Puasa Tanpa Cahaya Terhuyung dalam lapar dan haus, Bersama matahari dan palu pemecah batu Aku tahankan lapar ini, tapi aku kenyang oleh iri,hausku bukan air, tapi dendam yang tak terpuaskan.menghanguskan setiap ibadah,menjadikannya abu tanpa cahaya. Aku duduk merunduk di sajadah lusuh,tapi hatiku penuh letusan keluh,Tuhanku tetap terasa jauh,lidahku hanya mengulang,tanpa jiwa yang berserah....
Baca SelengkapnyaOleh Afridal Darmi Saat terbaik membaca Quran adalah bulan yang kita nanti-nantikan ini, yang kata Nabi SAW setiap...
Baca SelengkapnyaOleh Afridal Dharmi Persahabatan sejati tak selalu lahir dari perjuangan berat atau janji setia. Terkadang, ia tumbuh di...
Baca SelengkapnyaBiasanya Anda akan mendapati sosok-sosok yang memancarkan aura ketenangan ini, duduk atau berdiri di tepi sungai yang mengalir...
Baca SelengkapnyaOleh Afridal Darmi Denting gitar seorang Dewa syahdu mengisi ruang memoriku, saat aku menuliskan essay ini. Lalu suara...
Baca SelengkapnyaOleh Afridal Darmi Sudah musim durian lagi di Lamuri. Angin malam berhembus membawa harumnya ke indera penciuman Johan...
Baca Selengkapnya