• Latest

SEPATU BUSUK

April 23, 2018
SEPATU BUSUK - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Cerpen | Potret Online

Geopolitik Empati: Bagaimana Kekuasaan Menentukan Siapa yang Boleh Menderita

April 1, 2026
IMG_0573

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
SEPATU BUSUK - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Cerpen | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Kamis, April 2, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

SEPATU BUSUK

Redaksi by Redaksi
April 23, 2018
in Cerpen
Reading Time: 5 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook


 Oleh Mulkan Kautsar
Hujan telah berhari hari turun dengan sangat deras. Sebagian jalanan di kota Banda Aceh, bahkan tergenang oleh air hujan yang seakan tidak mau berhenti. Seperti biasa, gaya gravitasi kasur tempat tidurku terasa sangat besar dalam keadaan cuaca seperti ini. Aku bahkan tidak sanggup untuk melihat jam.
“Kamu tidak ke kampus?” Tanya Kak Ari.
“Hujan” Jawabku santai.
“Aku juga tahu itu hujan, tapi itu bukan badai. Sana mandi dan bergegas ke kampus, pakai saja jas hujan milikku” Kak Ari kembali berceloteh.
Dengan sedikit dorongan aku berdiri dan menyambar handukku yang sudah semakin gelap. Dia terlihat lebih eksotis dan hitam manis dibanding saat aku membelinya tiga tahun yang lalu. Beberapa titik tahi lalat tampak memberi aksesoris di pinggirannya.
Selesai mandi, aku segera berpakaian rapi dan bersiap untuk pergi ke kampus. Untuk sesaat aku tidak bisa menemukan sepatuku. Aku sudah mencarinya ke seisi rumah, namun juga tidak menemukannya. Aku mulai pasrah, sampai Kak Ari memberitahu bahwa sepatuku ternyata masih di luar rumah. Astaga, aku lupa membawanya masuk dan sekarang pasti sudah basah. Benar dugaanku, sepatuku satu satunya sudah basah dan tidak layak dipakai untuk ke kampus dengan kondisinya yang demikian. Aku hanya punya dua pilihan saat itu, memakainya lalu berisiko kutu air dan berbau busuk atau mundur dan kembali tidur, tapi risikonya akan ada tanda silang menghiasi absenku.
Aku tidak punya waktu untuk berpikir lebih lama dan memutuskan untuk memilih pilihan pertama yaitu tetap memakainya. Aku sudah siap untuk hal ini karena ketakutanku saat ini adalah menghindari coretan silang dari dosen. Sesampainya di kampus aku segera masuk ke kelas dan duduk di bangku tengah. Aku mencoba bersikap biasa dengan kondisi kakiku yang dingin karena bersentuhan dengan sepatuku yang basah. Detik demi detik lalu menit berganti menit kakiku mulai gatal. Aku mencoba berkonsentrasi pada penjelasan dosen di depan, namun aku tidak bisa.
Aku sangat membenci keadaan seperti ini, pikiranku tidak bisa terfokus pada apa yang dijelaskan oleh dosen. Sepatu ini membuatku menjadi tidak nyaman dan hanya bisa bersikap seolah tidak terjadi apa pun. Oke aku bisa, hanya dua jam dan semuanya akan berakhir. Kalau ada bau yang tidak sedap untuk dicium untuk saat ini maka kupastikan bahwa itu adalah bau sepatuku. Astaga, aku menertawai diriku sendiri, ya terkadang hidup memang harus ditertawakan. Keadaan masih bisa kukendalikan sampai aku merasa ada yang aneh dengan sikap orang-orang di sampingku. Hidung mereka terlihat seperti mengendus sesuatu yang aku harap belum diketahui sumbernya.
“Bau apa ini? busuk sekali” kata Rizki.
“Seperti bau kaus kaki yang sudah lama tidak dicuci” Mirza ikut menimpali.
“Iya bau sekali ya, hahaha” Aku ikut menjawab untuk menghilangkan kecurigaan.
“Mungkin bau sepatu yang basah” kata Rahma.
Penghuni kelas yang lainnya mulai ikut dalam pembicaraan dan beberapa di antaranya dengan liar menggerayangi seluruh ruangan sembari memicingkan mata untuk mencurigai salah seorang di antara kami semua. Beberapa yang lainnya ada yang mulai beralih peran menjadi pelacak dengan mengendus seakan hidung mereka memiliki kemampuan indera penciuman yang sangat tinggi. Di antara yang sibuk tersebut ada yang masih berkonsentrasi mendengarkan materi dari dosen. Apa yang aku lakukan? Tentu saja aku berpura pura bodoh dan seakan berkata. Hei sepatu siapa ini busuk sekali?. Kalau aku disuruh memilih keadaan, maka hal terbaik yang terjadi adalah waktu segera cepat berjalan agar aku bisa keluar dari kelas ini dan menyingkirkan barang bukti.
Tidak lama setelah itu dosen mengakhiri materi kuliah dengan tugas makalah yang harus dikumpulkan pada minggu depan. Tidak biasanya beliau keluar dengan cepat seperti pada hari ini. Aku sempat berpikir apakah beliau merasa mual mencium bau yang tidak sedap dari sepatuku. Tapi setidaknya aku sangat bersyukur bahwa aku bisa segera pergi dari ruangan ini. Dengan secepat kilat aku segera mengambil motor yang kuparkir di belakang kampus dan menembus hujan tanpa menggunakan jas hujan. Aku pacu dengan secepat kilat berbalapan dengan jatuhnya hujan agar bisa segera pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah aku meletakkan sepatuku di luar. Kak Ari mual mencium baunya dan aku sendiri harus menunda masuknya oksigen ke hidung untuk beberapa saat. Kakiku menjadi sangat pucat dan berkerut. Keadaannya mengerikan dan kaku seperti mati rasa. Aku segera mencuci kaki dan merendamnya dalam ember yang sudah kutuangkan sabun cair. Akhirnya kakiku bebas dari bau yang bisa memuntahkan siapa saja yang di dekatku. Selamat tinggal sepatu busuk.
Biodata :
Nama               : Mulkan Kautsar
Email               : mulkankautsar@gmail.com
Alamat             : Gampong Pante Pisang, Jalan Medan-Banda Aceh, Kecamatan Peusangan, Bireun

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 359x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 295x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 268x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 224x dibaca (7 hari)
Trumon, Sekelumit Dalam Lintasan Masa
Trumon, Sekelumit Dalam Lintasan Masa
28 Mar 2026 • 185x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Baca Juga

di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026
Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026
SummarizeShare234Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

SEPATU BUSUK - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Cerpen | Potret Online
Artikel

Geopolitik Empati: Bagaimana Kekuasaan Menentukan Siapa yang Boleh Menderita

April 1, 2026
IMG_0573
Sejarah

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a
#Amerika

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Next Post

Majelis Wilayah Lantik Pengurus Forhati Se-Aceh

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com