POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ucapkan Sampai Jumpa di Hari Orientasi

RedaksiOleh Redaksi
April 24, 2018
🔊

Dengarkan Artikel


Oleh Mulkan Kautsar
Gampong Pante Pisang, Jalan Medan-B. Aceh, Kec. Peusangan, Bireuen
Aku tidak mengerti, sejak kapan bertanya dianggap sebagai sebuah kejahatan?. Hari ini aku merasa sangat malu. Dikacangin seorang mahasiswa yang baru kutemui sedang duduk di depan gedung kampus. Kalau dia menyombongkan dirinya karena dia ternyata kakak leting, maka harus kukatakan padanya bahwa aku juga membayar SPP di sini. Apa yang aku tanyakan padanya? Aku hanya bertanya di mana tempat registrasi ulang mahasiswa baru dan aku harus bertanya dua sampai tiga kali sampai dia melihatku. Sepertinya aku bertanya pada patung. Jika dia sedang berusaha meniru patung, maka kukatakan bahwa dia sangat berhasil. Beritahu jika yang akau tanyakan itu salah. Aku bahkan yakin dia tidak punya suara emas, sehingga enggan menjawab pertanyaanku. “Aku berharap tidak bertemu dengan manusia seperti dia lagi”.
            “Hai, kamu mahasiswa baru juga? Aku juga mau melakukan registrasi ulang. Kamu bisa ikut bersamaku jika tidak keberatan”, Seorang mahasiswa lain menghampiriku setelah beberapa saat aku merasakan kekesalan. Dia tersenyum memamerkan sederetan pagar besi di giginya yang rapi. Aku tidak yakin kenapa dia memakainya, mungkin itu terlihat keren.
            “Tentu aku mau, aku sedang menunggu seseorang yang bisa kutanyai” jawabku. Kami pergi bersama dengan jalan kaki menuju gedung tempat seharusnya mahasiswa baru berada. Dia memulai pembicaraan dengan banyak hal, menurutku dia terlalu terbuka untuk ukuran orang yang baru kukenal. Aku sendiri memilih untuk menjawab setiap pertanyaannya dengan seadanya, karena aku bukan tipikal orang yang suka untuk dikorek dalam hal kehidupan. Satu hal yang membuatku beruntung adalah ternyata kami satu fakultas. Ya, setidaknya sudah ada orang yang kukenal di kampus sebesar ini.
            “Aku Syakir, maaf aku terlalu banyak bicara sampai lupa memperkenalkan diri” Katanya menjulurkan tanganya.
            “Oh, Aku Aditya. Senang bertemu denganmu” Jawabku menerima uluran tangannya.
Hal pertama yang tidak kuinginkan kembali terjadi ketika masa orientasi mahasiswa baru adalah bertemu si mahasiswa sombong itu lagi. Nyatanya aku kembali dipertemukan dengannya dan kami sekelompok. Dugaanku sepertinya salah karena aku sempat berfikir dia kakak leting. Harus kuakui dia terlihat lebih tua dengan wajah menyebalkannya. Dia masih terlihat sama menyebalkan dengan ketika pertama kali bertemu waktu itu. Mataku menyipit, dia berdiri tepat di depanku. Ingin rasanya aku memberinya sianida saat itu juga. Dia berdiri angkuh, kuharap dia tidak lupa pernah membuatku kesal.
Kami hanya diberi waktu sebentar untuk beristirahat ketika orientasi. Sebentar? Oke, kata itu terdengar lebih jelas dari kata-kata lainnya di telingaku. Aku terus mengibaskan kertas nama yang tergantung di dadaku untuk memberikan sedikit sensasi segar dari udara. Sesekali aku minum dari botol air yang kubawa dari rumah. Aku tahu akan membutuhkan ini jadi sudah kupersiapkan sebelumnya. Sekilas aku melihat si Mursal yang tampak sangat kehausan di sampingku. Mursal, nama si mahasiswa sombong itu. Aku bisa membacanya dari kertas nama yang juga terpasang padanya. Dia melihat ke arahku dan kuarahkan botol airku mendekatinya. Dia menerimanya dan minum dengan sangat cepat seakan sedang berada di padang pasir atau tidak minum selama berhari hari.
            “Terima kasih” Katanya sembari mengembalikan botol airku.
            “Kupikir kamu tidak bisa berbicara, ternyata kamu tahu caranya berterima kasih”  Aku menjawabnya dan mengambil kembali botol airku.
            “Maaf mengenai waktu itu, aku tidak bermaksud mengacuhkan pertanyaanmu, tapi saat itu aku sedang mempunyai masalah keluarga. Jadi sedikit mempengaruhi mood. Namaku Mursal”. Dia menjulurkan tangannya. Aku sedikit terkejut karena dia masih mengingatku. Kurasa kini aku tahu alasannya mengapa dia bisa bersikap seperti itu. Mungkin aku akan melakukan hal yang sama jika berada di posisinya.
“Aditya” kataku membalas uluran tangannya.
Kami berdua tersenyum. Dia tidak seangkuh kelihatannya. Setidaknya dia tidak terlihat sama seperti ketika pertama kali kami bertemu. Hari orientasi berikutnya berlangsung lebih dramatis. Bahkan di hari terakhir ketika hujan turun dengan sangat derasnya panitia menutup kegiatan orientasi. Mereka yang dua hari sebelumnya terlihat antagonis berubah menjadi protagonis. Ucapkan sampai jumpa pada hari orientasi. “Selamat datang di kampus hijau”.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)

📚 Artikel Terkait

Mengenal Petinggi Wilmar Group Penyuap Tiga Hakim 60M

Lelaki Pemendam Cinta

İnikah Generasi Plagiator?

Denny JA: Keliru mencampuradukkan Puisi Esai dengan Satupena

📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Apa sih Mobile Blogging itu?

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00