POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Bangga Menjadi Santri Di Penjara Suci

RedaksiOleh Redaksi
September 20, 2018
🔊

Dengarkan Artikel

Ilustrasi : Tribunenews.com

          Oleh:Rama Triana
                            Siswi kelas VIII SMP Swasta Darussa’adah Putri, Pidie Jaya
Pengalaman menjadi seorang santri memiliki kesan  tersendiri yang tidak akan pernah terlupakan. Hiruk pikuk perjalanan menjadi santri memberikan warna berbeda, karena banyak ragam pengalaman cerita yang tidak akan pernah saya dapatkan  ketika mengenyam pendidikan di luar pesantren.
Hari pertama ke dua, hingga sebulan  hidup di pesantren, saya merasakan layaknya hidup di penjara karena kebebasan yang pernah  saya rasakan  di luar tidak saya rasakan  di kehidupan pesantren. Maka tidak heran jika sebagian orang menempelkan kalimat’’penjara suci’’ untuk sebutan lembaga pendidikan yang didesain berkamar-kamar hampir mirip sel tahanan ini. Lebih-lebih bagi  santri baru seperti saya yang sebelumnya belum pernah jauh dari orang tua.
Seiring berjalannya waktu, hampir dua tahun di penjara suci, saya mulai merasakan dan menikmati hidup di pesantren. Pengalaman serta kesan apapun yang saya alami  di pesantren memberi pelajaran berarti. Suka duka menjadi santri yang bersarung, berhijab ke mana-mana,  hanya bisa dialami di lingkungan pesantren.
Selama  masuk ke pesantren, saya tidak lagi bisa bermain-main sebebas waktu di rumah dulu. Semua aktifitas  mesti dibatasi  dengan jadwal-jadwal yang telah ditetapkan oleh pengurus pesantren. Jika dulu setiap hari saya bisa menghabiskan  waktu berjam-jam di depan televisi, saat di pondok jangankan nonton  televise, mendengar radio saja sudah merupakan pelanggaran yang tidak termaafkan. Kemudian, yang paling membuatku tidak nyaman ketika saya terbangun di tengah malam dan harus terjaga sendiri sedangkan teman yang lain terlelap tidur,rasanya  semua memori selama di rumah  mendadak berputar kembali.  Kehangatan bersama orang-orang yang saya cintai di rumah, terlihat jelas dalam ingatan. Jika sudah begitu butiran-butiran air mata mengalir menjadi anak sungai dan tanpa sengaja  membasahi buntalan sarung yang menjadi bantal tidur.
Berbicara tentang kebersamaan di pesantren  antara santri yang satu  dengan yang lainnya  sangat kuat, seakan-akan sudah menjadi keluarga yang selalu bersama. Saya ingat ketika   salah satu orang tua santri yang datang berkunjung membawa  makanan untuk anaknya, dari makanan itulah kebersamaan santri terlihat jelas, walaupun makaman yang dibawa tidak terlalu banyak, tetapi  rasa berbagi  sudah tertanam dalam diri setiap santri.
Menjadi seoarang santri  banyak hal yang harus di pertimbangkan di antaranya mesti benar-benar di pertimbangkan  adalah kesiapan tiga H; Heart,Head,Hand.Yakni kesiapan hati untuk ikhlas menerima ilmu yang disampaikan tampa pamrih, kesiapan kepala(otak) untuk berfikir dab mengkaji ilmu tersebut,dan kesiapan tangan untuk selalu mengamalkan ilmu  yang didapatkan kira-kira begitulah pesan-pesan yang di sampaikan  ustad kepada kami yang sampai saat ini masih saya ingat.pesan itulah yang mengantarkan ku untuk bertahan menghadapi hari-hari sulit saat pertama kali mondok hingga sekarang.
Banyak orang tua yang tidak tega melepaskan anaknya  untuk mondok di usia dini, karena  saat ini kebanyakan orang tua kalaupun punya niat untuk memondokkan anaknya, pasti menunggu setelah anaknya  menyelesaikan sekolah tingkat pertama. Padahal bisa dibilang  sangat jarang anak-anak yang mau memilih mondok setelah lulus SMP. Maka, dari ini saya bisa menangkap mengapa orang tua saya memondokkan ku setelah lulus SD.
Saya sendiri sempat berfikir,bagaimana jadinya kalau dulu saya tidak langsung mondok setelah lulus sekolah dasar. Bisa jadi saya tidak bakal mau dan memberontak karena sudah sangat nyaman menikmati asyiknya pergaulan remaja  dengan segala kenakalannya seperti sekarang.
 Sekarang saya bangga menjadi santri, karena dengan menjadi santri saya sedikit tahu tentang ilmu agama. Saya bangga menjadi santri karena dengan menjadi santri, saya bisa merasakan kebersamaan dan kemandirian yang tidak bisa saya dapatkan di luar penjara suci. Saya bangga menjadi santri  karena saat menjadi santri saya dididik untuk menjadi insan yang islami. Saya bangga menjadi santri, karena dari santri saya tahu bahwasanya ilmu dunia dan  akhirat harus seimbang agar tidak salah dalam melangkah. 
Terima kasih  kepada orang tua saya yang telah memasukkan saya ke pesantren untuk mengeyam ilmu di penjara suci. Sekarang saya sadar bahwasanya mondok itu penting, walaupun mengekang diri.
  Ayo mondok,jadi santri itu keren. Ukirlah cerita manis mu di penjara suci

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)

📚 Artikel Terkait

Negeri Ajaib: Demokrasi Rasa Mi Instan

PRAKIRAAN KONDISI POLITIK 2023

Menjaga Aurat, Niscaya Selamat Dunia Akhirat

Perawan Desa

📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Anak Merpati Belajar Terbang

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00