• Latest
Manggeng, Maafkan Hanya Sejenak - IMG_9128 | Abdya | Potret Online

Manggeng, Maafkan Hanya Sejenak

Juli 27, 2024
IMG_0573

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Manggeng, Maafkan Hanya Sejenak - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Abdya | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Manggeng, Maafkan Hanya Sejenak - IMG_9128 | Abdya | Potret Online

Manggeng, Maafkan Hanya Sejenak

Sebuah catatan Perjalanan Wisata Silaturahmi

Tabrani Yunis by Tabrani Yunis
Juli 27, 2024
in Abdya, Aceh, Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Aceh Besar, Aceh Carong, Aceh Selatan, Ayah, Banda Aceh, Berbagi, Catatan Perjalanan, Cerita Perjalanan, Jalan-Jalan, Manggeng, nostalgia, Pasaman Barat, Pasie Raja, Silaturahmi, Subulussalam, Sumatera Barat, Traveling, Wisata
Reading Time: 5 mins read
0
593
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Tabrani Yunis

Bagian ke Dua

Perjalanan wisata Silaturahmi ke Pasaman Barat, Sumatera Barat, baru sampai ke kota  Blang Pidie, Aceh Barat Daya atawa

Abdya, kala matahari rebah ke barat, menjelang senja atau sunset. Kami sempatkan singgah sejenak untuk menikmati kuliner di AW Kupi. Rencana semula harusnya bermalam atau berhenti  bersilaturahmi dengan sanak famili beberapa saat di Manggeng, sembari bernostalgia di tanah kelahiran yang sudah sejak Juni 1979 ditinggalkan hijrah mencari ilmu ke Banda Aceh, ternyata hanya bisa beberapa menit saja.

Namun, karena  kala tiba di Manggeng, di tanah  kelahiran itu, sudah bergema suara azan. Pertanda malam telah tiba. Karena sebagai musafir,  bisa di qasar atau dijamak, kami niatkan diqasar atau jamak di saat Isya. Allah sudah memberikan memudahkan bagi semua Muslim dan Muslimah yang sedang mengadakan perjalanan jauh.  Sehingga rencana untuk bermalam pun berubah. Kami memutuskan menginap di Subulussalam.

Terbayang di pikiran dan terniat di hati seperti di awal, ya bisa duduk-duduk sejenak. Bisa bercengkerama  dengan adik atau sahabat lama. Karena sesungguhnya tidak elok bila  kampung halaman hanya dilewati saja. Ya, apa pula kata sahabat-sahabat sepermainan  masa kecil yang masih tinggal di Manggeng?  Pasti mereka ada yang mengatakan dengan ungkapan “sangat sombong.”  Lupa akan kampung halaman dan sebagainya. Juga tidak elok bila tak singgah menginjakkan kaki di tanah kelahiran. Bukan saja itu, tetapi juga tidak etis bila tidak menyapa satu atau dua orang sahabat lama yang telah pilihan tahun tidak berjumpa. Bayangkan saja, sudah lebih 40 tahun meninggalkan kampung halaman.

Namun ketika melewati pasar Manggeng, ki sempatkan turun menginjakkan kaki di bumi Teuku Peukan itu. Kuhentikan mobil sejenak, lalu turun  menyapa dan bersalaman dengan seorang sahabat masa kecil yang kebetulan  sedang berdiri di depan pintu tokonya. Sambil mengucapkan salam, dengan penuh rasa hormat bersalaman saling bertanya. Yang jelas, aku punya kisah hidup yang sangat sarat dengan aksi-aksi struggling semasa kecil.

Nah, ketika mengenang kampung halaman, ada sejuta cerita masa kecil yang masih terekam dalam ingatan. Betapa tidak, dari kota kecil, Manggeng yang saat itu masih menjadi bagian dari wilayah Aceh Selatan, penulis hadir sebagai Tabrani kecil yang lahir dan belajar hidup merangkai masa depan, belajar entrepreneurship dari seorang ibu, Isnani yang hanya sempat mengenyam pendidikan jenjang SD. Ibu mengajarkan dan menempaku dengan setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, menjajakan pisang goreng dari pintu ke pintu, hingga waktu berangkat sekolah tiba. Pekerjaan di usia SD yang harus dilakoni, agar bisa bertahan hidup dengan berbagai macam kesulitan dan kerja keras. Berjalan kaki ke sekolah berkilo-kilo meter, mendayung becak mengantarkan barang seperti kayu, besi dan semen, tapi harus tetap bersekolah.

Baca Juga

IMG_0573

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026

Aku bersyukur karena ibu juga mengajarkan, menempa dan memberi pengalaman menjual jenis makanan lain, seperti menjual kacang goreng ketika ada acara pemutaran filem layar tancap atau kala ada pertandingan sepak bola dan lain-lain. Tidak salah bila Ibu adalah guru pertama untuk belajar entrepreneurship, walau tidak sehebat para guru di sekolah atau para dosen di kampus. Ya, pendidikan saja setara SD dan bahkan tak pernah mengenyam bangku sekolah.

Ayahku juga begitu berjasa. Peran sang ayah, M. Yunus  yang kala itu dikenal dengan sebutan Ayah Unus telah mengajarkan hidup yang begitu keras dan harus dihadapi dengan kerja keras. Ya, dari ayah yang semua orang memanggilnya ayah Unus dan buta huruf  telah memotivasi diri untuk berjuang keluar darı belenggu kemiskinan. Kehidupan ayah yang harus  bekerja sebagai buruh kasar, menggulam (memikul) setiap barang dari angkutan yang menaikan dan menurunkan barang di stasiun bus, menjadi pelajaran  untuk hidup, merangkai mimpi, walau mereka bukanlah para entrepreneur yang memiliki ilmu dan ketrampilan seperti para entrepreneur saat ini yang begitu berjaya. Mereka melakukan hal itu sebagai upaya bertahan hidup atau survival.

Masih segar dalam ingatan tentang kondisi Manggeng di masa kecil itu. Ya, Manggeng yang saat itu mencakup wilayah dari jembatan Krueng Baru, hingga ke Simpang Tiga, Lhok Pawoh itu memang banyak menyimpan cerita masa kecil, sejak lahir hingga menyelesaikan pendidikan sekolah di SMP Negeri Manggeng tahun 1979 itu.  Begitu lama dan panjang sekali yang ada dalam ingatan.

Kini Manggeng, sebuah kecamatan yang sebelum pemekaran masuk ke wilayah Aceh Selatan dan setelah pemekaran masuk ke Abdya itu adalah ranah kelahiran dan titik awal membangun kehidupan. Ya, Manggeng, yang menjadi kota kedua di Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya yang menjadi magnet bisnis daerah ini, menjadi tempat yang bersejarah. Apalagi Manggeng adalah kecamatan yang dalam catatan sejarah pernah dipimpin oleh raja-raja di era sebelum merdeka. Seperti yang pernah diceritakan oleh seorang sejarawan Aceh yang pernah memimpin Perpustakaan Wilayah Aceh, Almarhum Drs. Thamrin Z bahwa Manggeng itu pernah berada di bawah kepemimpinan raja-raja yang tercatat 10 raja kala itu.

Ya sangat banyak untuk diceritakakan. Memang panjang cerita masa kecil kala hanya sejenak singgah di Manggeng. Bisa jadi perjalanan menuju Pasaman lupa teruai. Apalagi perjalanan masih panjang, masih harus menempuh ratusan kilometer lagi.

Tanka terasa pula, waktu magrib pun berjalan begitu cepat, kami terus melaju meninggalkan  Manggeng yang telah banyak berubah itu.  Terus melaju menyibak gelap malam  melewati kecamatan Labuhan Haji, Meukek, Sawang, Samadua dan tiba di Tapaktuan, kota naga yang merupakan ibukota Aceh Selatan. Kami tiba di kota Tapaktuan yang dikenal dengan pala ini sekitar pukul 20.00 WIB. Singgah mengisi BBM dan istirahat sejenak sekalian melaksanakan salat, karena sudah masuk waktu Isya dengan melakukan jamak qasar.

Lalu usai salat, sembari istirahat menggerak -gerakan badan yang penat kami membeli jagung rebus yang dijajakan di pintu keluar SPBU.  Jagung rebus terasa nikmat, karena dalam waktu bersamaan menikmati suara merdu seorang perempuan yang ngamen bersama anak-anaknya yang masih kecil-kecil di SPBU Tapaktuan. Perempuan itu melantunkan beberapa lagu dangdut dengan pengeras suara yang keras. Orang-orang yang mengisi BBM pun banyak yang menitipkan tips ke dalam ember kecil di depan perempuan pengamen itu.

Kami, tentu tidak bisa berlama-lama di kota yang indah dengan pemandagan laut dan menyimpan banyak sejarah ini. Apalagi waktu terus berjalan dan kami meninggalkan kota ini melaju mendaki gunung batu itam, batu merah, panorama Hatta, Guliran Naga, tangga besi dan turun ke Ujung Batu, Terbangan. Stir mobil berada di tangan adik iparku, Muslim. Ia melajukan mobil dengan cepat dan aku sempat terlelap dan terbangun kala tiba di Subulussalam. Tak sadar kalau Terbangan, Kota Fajar, Kandang, Bakongan, Trumon dan Sultan Daulat, tak dapat kusaksikan, sembari menyetir mobil.

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 355x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 353x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 319x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 268x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 212x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare237Tweet148
Tabrani Yunis

Tabrani Yunis

Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Baca Juga

IMG_0573
Sejarah

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a
#Amerika

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi
Esai

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
Next Post
Manggeng, Maafkan Hanya Sejenak - 627cc75f 928f 485f b941 ddbc6e072fb4 scaled 1 | Abdya | Potret Online

Empe Awe

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com