POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Manggeng, Maafkan Hanya Sejenak

Sebuah catatan Perjalanan Wisata Silaturahmi

Tabrani YunisOleh Tabrani Yunis
July 27, 2024
Manggeng, Maafkan Hanya Sejenak
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Tabrani Yunis

Bagian ke Dua

Perjalanan wisata Silaturahmi ke Pasaman Barat, Sumatera Barat, baru sampai ke kota  Blang Pidie, Aceh Barat Daya atawa

Abdya, kala matahari rebah ke barat, menjelang senja atau sunset. Kami sempatkan singgah sejenak untuk menikmati kuliner di AW Kupi. Rencana semula harusnya bermalam atau berhenti  bersilaturahmi dengan sanak famili beberapa saat di Manggeng, sembari bernostalgia di tanah kelahiran yang sudah sejak Juni 1979 ditinggalkan hijrah mencari ilmu ke Banda Aceh, ternyata hanya bisa beberapa menit saja.

Namun, karena  kala tiba di Manggeng, di tanah  kelahiran itu, sudah bergema suara azan. Pertanda malam telah tiba. Karena sebagai musafir,  bisa di qasar atau dijamak, kami niatkan diqasar atau jamak di saat Isya. Allah sudah memberikan memudahkan bagi semua Muslim dan Muslimah yang sedang mengadakan perjalanan jauh.  Sehingga rencana untuk bermalam pun berubah. Kami memutuskan menginap di Subulussalam.

Terbayang di pikiran dan terniat di hati seperti di awal, ya bisa duduk-duduk sejenak. Bisa bercengkerama  dengan adik atau sahabat lama. Karena sesungguhnya tidak elok bila  kampung halaman hanya dilewati saja. Ya, apa pula kata sahabat-sahabat sepermainan  masa kecil yang masih tinggal di Manggeng?  Pasti mereka ada yang mengatakan dengan ungkapan “sangat sombong.”  Lupa akan kampung halaman dan sebagainya. Juga tidak elok bila tak singgah menginjakkan kaki di tanah kelahiran. Bukan saja itu, tetapi juga tidak etis bila tidak menyapa satu atau dua orang sahabat lama yang telah pilihan tahun tidak berjumpa. Bayangkan saja, sudah lebih 40 tahun meninggalkan kampung halaman.

Namun ketika melewati pasar Manggeng, ki sempatkan turun menginjakkan kaki di bumi Teuku Peukan itu. Kuhentikan mobil sejenak, lalu turun  menyapa dan bersalaman dengan seorang sahabat masa kecil yang kebetulan  sedang berdiri di depan pintu tokonya. Sambil mengucapkan salam, dengan penuh rasa hormat bersalaman saling bertanya. Yang jelas, aku punya kisah hidup yang sangat sarat dengan aksi-aksi struggling semasa kecil.

📚 Artikel Terkait

Cara Orang Jepang Bertahan dan Tanggap Menghadapi Bencana

Memproklamirkan Hari Keadilan Ekologis di Pulau Sumba

Gen-Z dan Masa Depan Puisi Esai

Penulis Buku Bahasa Indatu Mengajak Masyarakat Berbahasa Aceh yang Santun

Nah, ketika mengenang kampung halaman, ada sejuta cerita masa kecil yang masih terekam dalam ingatan. Betapa tidak, dari kota kecil, Manggeng yang saat itu masih menjadi bagian dari wilayah Aceh Selatan, penulis hadir sebagai Tabrani kecil yang lahir dan belajar hidup merangkai masa depan, belajar entrepreneurship dari seorang ibu, Isnani yang hanya sempat mengenyam pendidikan jenjang SD. Ibu mengajarkan dan menempaku dengan setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, menjajakan pisang goreng dari pintu ke pintu, hingga waktu berangkat sekolah tiba. Pekerjaan di usia SD yang harus dilakoni, agar bisa bertahan hidup dengan berbagai macam kesulitan dan kerja keras. Berjalan kaki ke sekolah berkilo-kilo meter, mendayung becak mengantarkan barang seperti kayu, besi dan semen, tapi harus tetap bersekolah.

Aku bersyukur karena ibu juga mengajarkan, menempa dan memberi pengalaman menjual jenis makanan lain, seperti menjual kacang goreng ketika ada acara pemutaran filem layar tancap atau kala ada pertandingan sepak bola dan lain-lain. Tidak salah bila Ibu adalah guru pertama untuk belajar entrepreneurship, walau tidak sehebat para guru di sekolah atau para dosen di kampus. Ya, pendidikan saja setara SD dan bahkan tak pernah mengenyam bangku sekolah.

Ayahku juga begitu berjasa. Peran sang ayah, M. Yunus  yang kala itu dikenal dengan sebutan Ayah Unus telah mengajarkan hidup yang begitu keras dan harus dihadapi dengan kerja keras. Ya, dari ayah yang semua orang memanggilnya ayah Unus dan buta huruf  telah memotivasi diri untuk berjuang keluar darı belenggu kemiskinan. Kehidupan ayah yang harus  bekerja sebagai buruh kasar, menggulam (memikul) setiap barang dari angkutan yang menaikan dan menurunkan barang di stasiun bus, menjadi pelajaran  untuk hidup, merangkai mimpi, walau mereka bukanlah para entrepreneur yang memiliki ilmu dan ketrampilan seperti para entrepreneur saat ini yang begitu berjaya. Mereka melakukan hal itu sebagai upaya bertahan hidup atau survival.

Masih segar dalam ingatan tentang kondisi Manggeng di masa kecil itu. Ya, Manggeng yang saat itu mencakup wilayah dari jembatan Krueng Baru, hingga ke Simpang Tiga, Lhok Pawoh itu memang banyak menyimpan cerita masa kecil, sejak lahir hingga menyelesaikan pendidikan sekolah di SMP Negeri Manggeng tahun 1979 itu.  Begitu lama dan panjang sekali yang ada dalam ingatan.

Kini Manggeng, sebuah kecamatan yang sebelum pemekaran masuk ke wilayah Aceh Selatan dan setelah pemekaran masuk ke Abdya itu adalah ranah kelahiran dan titik awal membangun kehidupan. Ya, Manggeng, yang menjadi kota kedua di Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya yang menjadi magnet bisnis daerah ini, menjadi tempat yang bersejarah. Apalagi Manggeng adalah kecamatan yang dalam catatan sejarah pernah dipimpin oleh raja-raja di era sebelum merdeka. Seperti yang pernah diceritakan oleh seorang sejarawan Aceh yang pernah memimpin Perpustakaan Wilayah Aceh, Almarhum Drs. Thamrin Z bahwa Manggeng itu pernah berada di bawah kepemimpinan raja-raja yang tercatat 10 raja kala itu.

Ya sangat banyak untuk diceritakakan. Memang panjang cerita masa kecil kala hanya sejenak singgah di Manggeng. Bisa jadi perjalanan menuju Pasaman lupa teruai. Apalagi perjalanan masih panjang, masih harus menempuh ratusan kilometer lagi.

Tanka terasa pula, waktu magrib pun berjalan begitu cepat, kami terus melaju meninggalkan  Manggeng yang telah banyak berubah itu.  Terus melaju menyibak gelap malam  melewati kecamatan Labuhan Haji, Meukek, Sawang, Samadua dan tiba di Tapaktuan, kota naga yang merupakan ibukota Aceh Selatan. Kami tiba di kota Tapaktuan yang dikenal dengan pala ini sekitar pukul 20.00 WIB. Singgah mengisi BBM dan istirahat sejenak sekalian melaksanakan salat, karena sudah masuk waktu Isya dengan melakukan jamak qasar.

Lalu usai salat, sembari istirahat menggerak -gerakan badan yang penat kami membeli jagung rebus yang dijajakan di pintu keluar SPBU.  Jagung rebus terasa nikmat, karena dalam waktu bersamaan menikmati suara merdu seorang perempuan yang ngamen bersama anak-anaknya yang masih kecil-kecil di SPBU Tapaktuan. Perempuan itu melantunkan beberapa lagu dangdut dengan pengeras suara yang keras. Orang-orang yang mengisi BBM pun banyak yang menitipkan tips ke dalam ember kecil di depan perempuan pengamen itu.

Kami, tentu tidak bisa berlama-lama di kota yang indah dengan pemandagan laut dan menyimpan banyak sejarah ini. Apalagi waktu terus berjalan dan kami meninggalkan kota ini melaju mendaki gunung batu itam, batu merah, panorama Hatta, Guliran Naga, tangga besi dan turun ke Ujung Batu, Terbangan. Stir mobil berada di tangan adik iparku, Muslim. Ia melajukan mobil dengan cepat dan aku sempat terlelap dan terbangun kala tiba di Subulussalam. Tak sadar kalau Terbangan, Kota Fajar, Kandang, Bakongan, Trumon dan Sultan Daulat, tak dapat kusaksikan, sembari menyetir mobil.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Tabrani Yunis

Tabrani Yunis

Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Empe Awe

Empe Awe

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00