• Latest

Sahabat Pena

November 12, 2018
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Sahabat Pena

Redaksiby Redaksi
November 12, 2018
Reading Time: 4 mins read
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
ADVERTISEMENT

Oleh Chindy Bulan Chintanur
Pelajar SMP Negeri 3 Ingin Jaya, Aceh Besar
Malam yang sunyi. Hanya suara jengkrik dan dentang jarum jam yang terdengar. Waktu sudah menunjukan pukul 00.00, aku masih terbangun dan masih ditemani sehuah telepon genggam. Bukan tanpa alasan aku berbuat seperti itu, aku ingin bisa berkomunikasi dengan sahabat. Ya, hanya dengan cara itu saat ini yang bisa dikakukan dengan mudah untuk berkomunikasi dengan sahabat yang dulu pernah menjadi sahabat pena, yang aku hubungi dengan sepucuk surat. Kini aku bisa saling bicara dan juga bisa saling menatap.
Waktu terus berjalan. Hari berganti minggu, minggu pun berganti bulan dan bulan pun berganti tahun, aku dan empat sahabat penaku belum juga bisa bertemu di dunia nyata, kecuali di dunia maya. Ingin sekali bisa bertemu langsung, bisa saling berbicara, tertawa dan bergurau bersama secara langsung. Kini hanya via whatsapp kami bisa bercerita. 
Harapanku yang selalu aku sebutkan di sepertiga malam itu, aku ingin bertemu dengan mereka. Aku terus bertanya dan bertanya, kapankah aku bisa bertemu dengan mereka. Kapan? Kapan? Pertanyaan ini terus mengawang-ngawang di pikiran. Ya, karena sudah sangat lama, sudah bertahun-tahun rasa rindu itu menyelimuti hati. Waktu yang lama dalam melawan kerasnya dunia. Aku tahu, sebenarnya mereka bukanlah orang yang terkenal. Namun di mataku mereka sangat hebat. Mereka dapat mengerti sifat dan sikapku yang terkadang tidak jelas, egois dan selalu saja ingin menang sendiri.
Empat orang hebat yang menjadi sahabatku itu adalah Halisa, Dwita, Alya dan Tira. Mereka adalah orang-orang selalu setia menemaniku. Mereka mau mendengar cerita dan bahkan celoteh-celotehku yang terkadang tidak ada manfaatnya dan tak nyambung. Namun, mereka masih tetap setia denganku. Tidak hanya dari berasal dari daerah yang berbeda, kami juga dari agama yang berbeda. Dwita, teman yang beragama Kristen dan kami dari kalangan yang beragama Islam. Namun perbedaan itu tidak membuat dan menghalangi perahabatan kami. Prinsip kami adalah perbedaaan bukanlah penghalang, seperti yang selama ini sering kita saksikan di televisi (TV), dimana banyak orang yang tidak mau menerima perbedaan. Kita merasa sedih ketika terjadi pertikaian hanya karena berbeda pendapat, baik seagama, maupun berbeda agama. Mereka hidup dalam permusuhan. Maka, aku pun berpikir, apakah aku dan Dwita harus begitu? Jelas, aku tidak ingin begitu, aku ingin bertemu dengan Dwita dalam keadaan aman dan tentram.
Rasa ingin berjumpa semakin lama semakin membuncah. Ingin sekali rasanya memeluk mereka. Ingin rasnya menyndarkan bahu di pundak mereka kala aku sedang sedih dan menangis. Itu semua sudah tidak mungkin. Aku hanya bisa berharap dan berharap. Mungkin hanya bait-bait puisi ini, yang aku gubah untuk mengenang mereka
Sahabat pena
Dear kawan
Meski wajah tak bisa bertemu
Mata tak bisa bertatap
Dan tangan tak bisa berjabatan
Namun nama kalianlah
Salah satu doa yang kumohonkan
Di pertiga malam
Jarak bukanlah halangan
Sayangku tetap mengalir
Seperti air terjun
Perbedaan bukanlah penghalang
Inilah yang selama ini kutetapkan
Kala rasa ingin bertemu datang
Andaikan kita dekat, ya andaikan
Semoga kita berempat bisa kembali bertemu, merangkai ras bahagia dalam perbedaan yang memiliki rasa kebersamaan. I love you all.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 355x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 314x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 265x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 259x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Baca Juga

IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
5de97004-0731-46d3-b7a2-38575dadc077

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026

Discussion about this post

Next Post

Selamat Hari Ayah Nasional

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com