Dengarkan Artikel
Ilustrasi : Sumber Journeysederhana.blogspot.com
Oleh Lina Zulaini
Untuk kamu, yang katanya ingin tinggal.
Di lumbung rinduku.
Aku bukan si sempurna dengan raut ranum.
Yang mampu menebar angan hingga pulam membawa kembali pucuknya.
Bukan pula si jelita dengan gincu merah yang senantiasa merekah wajah.
Untuk kamu, yang katanya ingin memetik embun pagiku.
Percayalah!
Akan butuh waktu sedikit lama guna mengenal rumput yang mencuak mekar di hatimu.
Harap bersabar.
Hingga senjaku menjemput fajarmu.
Untuk kamu, yang katanya ingin menyatu dengan kalbuku.
Biarkan wadah itu mengalir sendiri.
Hingga ia jadi sungai, sebuah laut yang mungkin tak bisa lagi kau bendung.
Untuk kamu, yang katanya butuh hati ini.
Menunggulah!
Ini jiwa akan mulai mengingat itu rupa.
Untuk kamu, yang katanya ingin melihat garis bibir di setiap keringat kerja.
Tenanglah!
Telah kusimpan agar kita menatap langit dan melebarkan senyum ke cakrawala.
Untuk kamu, yang katanya ingin menanti.
Yakinlah!
Ada masa akan menjawab dan mengganti jerih doamu.
Namun, saat itu belum semua terjadi.
Biar kusuguh pena dan karya sebagai ganti dari rasa terima kasih.
Untuk kamu, yang namanya belum pantas kusebut dalam doa ?
Dari jiwa yang tenang, 9 Januari 2019
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 234x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 217x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 168x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 138x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 129x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis.
Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.










