• Latest

FGD Wadah Silaturahmi Pemersatu Seniman Aceh

Agustus 27, 2023
IMG_0573

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
FGD Wadah Silaturahmi Pemersatu Seniman Aceh - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Banda Aceh | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

FGD Wadah Silaturahmi Pemersatu Seniman Aceh

Redaksi by Redaksi
Agustus 27, 2023
in Banda Aceh, Seniman
Reading Time: 3 mins read
0
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Banda Aceh -Potretonline.com- Digelarnya Forum Group Discussion  (FGD) atas prakarsa Cut Ratnawati dkk, di Indoor Taman Seni dan Budaya Aceh  menjadi momen silaturahmi, pemersatu seniman Aceh. Para seniman berbagai bidang menyuarakan pentingnya berbagai solusi kreatif dan urgensial guna menjawab tantangan berkesenian khususnya di Aceh, Sabtu (26/8/2023).

“Kemungkinan berbagai tantangan berkesenian di Aceh dapat ditangani melalui beragam strategi. Hal terpenting adalah melakukan silaturahmi lintas personal, juga lintas komunitas. Hari ini kita bersama para seniman Aceh menggelar FGD dalam satu komitmen bersatu untuk maju, bersama saling meuripe alias akomodasi tenaga juga materi gelaran FGD bersama pula,” ungkap Cut Ratnawati.

Diinisiasi juga oleh Yan Kande yang juga Ketua Majelis Seniman Aceh secara pribadi menguak keheningan ruang diskursus berkesenian,. Yan juga membuka acara FGD bertajuk ‘Merajut Kebersamaan Membangun Kesenian mewakili panitia yang telah menyiapkan FGD sepekan sebelumnya.

“Inisiatif berbagai pihak terhadap ide dan niatan, kita kongkritkan melalui terlaksananya FGD. Berbagai usulan kita tampung dan jadi bahan rekomendasi atas nama FGD. Pada tahap lanjut, para pihak juga diminta terus terlibat mengawal dan menjembatani kelanjutan FGD mendatang. Bahkan telah disepakati rekomendasi hasil FGD  yang bakal diteruskan kepada berbagai saluran yang tepat. Bisa saja kepada dinas terkait bahkan langsung saja mengundang PJ Gubernur Aceh untuk mendengar dan memaknai langsung segala soalan yang kini dihadapi kalangan seniman di Aceh,” papar Yan Kande.

Hadir menjadi pemantik FGD antaranya Dr. Nurlis, Din Saja, Djamal Taloe, Ampon Yan. Secara personal masing-masing menelaah konsepsi juga temuan hambatan tumbuh kembangnya kesenian di Aceh, menyorot lebih luas duduk pangkal munculnya hambatan berkesenian; personal seniman, program lembaga kesenian, unsur daya dukung suasana berkesenian,  bahkan pada tatanan stakeholder dan pengambil kebijakan terkait program kesenian juga budaya di Aceh.

“Saya menyorot adanya kemunduran dalam aktifitas kesenian di Aceh, bahkan dari segi media, karenanya setiap pihak sangat berpotensi menjadikan perkembangan seni budaya di Aceh untuk dapat lebih baik di masa depan,” papar Nulis.

“Beberapa argumen harus diulang persoalan 30 tahun lalu. Padahal, saya menekankan pentingnya regulasi, soal personal sebagai seniman. Menurut saya itu tanggung jawab masing-masing diri si seniman. Terlepas dari semua itu, sudah saatnya momentum mempertanyakan fungsi lembaga formal terhadap kemajuan kesenian kita di Aceh. Jika lembaga semacam dinas itu tak ada manfaat, perlu pada titik ini disepakati saja untuk dihapus-bubarkan!,” ungkap Din Saja.

Djamal menyorot pentingnya ada bargaining seniman dalam konteks menghadapi ketidaksinergian program pemerintah terhadap dunia berkesenian di Aceh. Unsur ini menurutnya cukup signifikan dalam upaya menjaga peningkatan kemajuan berkesenian. Ternyata diperlukan sikap yang tegas demi menjaga ‘harga diri’ seniman itu sendiri agar tidak terjebak dalam konflik kepentingan terkait anggaran kesenian.

Baca Juga

FGD Wadah Silaturahmi Pemersatu Seniman Aceh - IMG_0031 | Banda Aceh | Potret Online

Apa Kabar Pelukis Indonesia

Februari 25, 2026
FGD Wadah Silaturahmi Pemersatu Seniman Aceh - 9e121d66 0ad0 4850 9bd0 71a6fdf78f88 | Banda Aceh | Potret Online

Mengenang P. Ramlee, Seniman Melayu yang Selalu Hidup

Februari 11, 2026
FGD Wadah Silaturahmi Pemersatu Seniman Aceh - 99840128 d4ca 41aa a17a 4104b004adac | Banda Aceh | Potret Online

Banda Aceh Menuju Kota Empat Bahasa: Gerbang Baru Indonesia ke Dunia

November 9, 2025

“Saya mengkritik sebagai satu cara menyampaikan apa dan bagaimana seharusnya anggaran kesenian di Aceh ini yang secara patut dan bermartabat dapat diterapkan. Pemerintah Aceh melalui dinas harus mengambil peran secara proporsional terkait anggaran dari program. Kitalah yang juga sebagai pemilik anggaran seni budaya ini yang seharusnya ikut menentukan. Ini malah tidak dilibatkan, bahkan apabila terlalu mengkritik, bisa-bisa dianggap tidak kooperatif, ini aneh buat Saya selaku seniman,” ungkap Djamal.

Pemantik FGD, Ampun Yan dalam sesinya memaparkan pentingnya cara pandang masa depan karya seni. Baginya berkarya dan mampu membuktikan nilai ‘jual’ karya jugalah urgensi sekaligus gengsi. Dari hal ini menurutnya, pemerintah akan menilai sendiri kepatutan para seniman di Aceh. Pilihannya justru pada karya dan kiprah berkesenian sebagai jawaban beragam tantangan masa depan kesenian kita.

“Sungguh aneh jika bergantung pada lembaga struktural yang kadangkala tiap 2 tahun sekali berganti-ganti orang mengurus program seni di dinas. Karena itu, pilihannya bukan pada keberadaan dinas atau pemerintah dalam arti potensi utama berkiprah di bidang seni. Kita sebagai seniman patut membawa konsep nilai kemandirian, meski betapa pentingnya lembaga formal itu, namun kepercayaan diri seniman memiliki nilai jual tersendiri,. Artinya untuk dilirik, seniman perlu eksistensi kekaryaan yang mampu menembus batas dan ruang, termasuk dalam soal anggaran,” papar Ampon Yan.

Beberapa peserta turut berdialog mengutarakan persoalan dari tantangan berkesenian. Luasnya masalah yang dianggap membawa dampak pasang surutnya suasana berkesenian di Aceh.

Di akhir FGD disepakati lanjutan tahap lanjutan. Panitia bermaksud ke depan akan mengundang para pihak yang dianggap patut mendengarkan secara bermuka-muka , terkait apa dan bagaimana tantangan dan perkembangan seni budaya di Aceh masa kini termasuk dengan pihak eksekutif di pemerintahan, legislatif juga para tokoh seni Aceh yang dalam kesempatan FGD perdana belum berkesempatan hadir.

ADVERTISEMENT

Lebih empat puluhan seniman berbagai bidang seni tampak antusias mengisi ruang indoor Taman Seni Budaya Aceh di momen FGD.  Suasana berkesenian memerlukan silaturrahmi terus menerus demi mengurai kebekuan lintas kalangan seni.  Tampak kesempatan berkumpul di FGD menjadi ruang diskursus paling ditunggu.

Kontributor : Muhrain

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 355x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 320x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 268x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 214x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234Tweet146
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

IMG_0573
Sejarah

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a
#Amerika

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi
Esai

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
Next Post
FGD Wadah Silaturahmi Pemersatu Seniman Aceh - 22dc9ec9 088a 474f b72e f35919787a30 | Banda Aceh | Potret Online

Membanggakan, Siswi dari Kepulauan Simeulue Raih Medali Perak Tingkat Nasional di Ajang FLS2N

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com