POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Bingkai

Mendengar, Bicara, Membaca dan Menulis

Redaksi by Redaksi
April 11, 2021
in Bingkai, Essay, Literasi, POTRET Budaya
0

 


Oleh Ahmad Rizali

Baca Juga
  • Mendengar, Bicara, Membaca dan Menulis - 1000893856_11zon | Bingkai | Potret Online
    Artikel
    Membangun Identitas Kebangsaan dalam Pelatihan Beauty Queen Indonesia
    07 Sep 2025
  • Mendengar, Bicara, Membaca dan Menulis - f05fce6d 2e9b 4194 b8d8 a7b2944589d7 | Bingkai | Potret Online
    Artikel
    Bapak Tua Dengan Kursi Roda dan Surah Al-Ikhlas
    14 Nov 2024

Berdomisili di Depok


Baca Juga
  • 01
    Literasi
    BACK TO IQRA
    05 Mei 2018
  • 02
    POTRET Budaya
    Xianroe Xiao Long
    14 Nov 2021

Jelas setiap manusia umumnya akan mengikuti proses di atas, meski ada juga manusia yang konon bicara ketika bayi baru lahir,  sementara yang umum biasanya mulai bicara jelas artikulasinya di antara 1 sampai dengan 2 tahun. Orang bijak mengatakan, Tuhan memberi dua lubang telinga dan hanya satu lubang mulut agar manusia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Sehingga saking patuhnya dengan ujar orang bijak ini, umumnya manusia di dunia timur lebih banyak mendengar dan diam atau kurang dalam bicara.

Saat dewasa, ke empat proses ini semakin penting.  Mungkin masing – masing mengembangkan diri melalui passion dan akar budaya masing masing. Ada suku yang lihai berbicara, sehingga biasanya dari merekalah muncul para diplomat dan pengacara andal, penjual andal. Namun ada pula yang lebih senang mendengar dan mengamati. Jadilah mereka para ilmuwan. Biasanya, tradisi yang paling sulit berkembang adalah menulis. 

Baca Juga
  • 01
    Artikel
    AYO BELAJAR ENTREPRENEURSHIP
    17 Agu 2021
  • Mendengar, Bicara, Membaca dan Menulis - CEBE43FC 7501 42CE 81F2 547A7B63935D | Bingkai | Potret Online
    POTRET Budaya
    Senandung Burung
    28 Jul 2022


Tidak sedikit tokoh kita yang kemampuan menulis dan bicaranya sama baik. Hatta, Soekarno, Natsir, Hasyim Asyarie misalnya. Namun tak sedikit yang unggul di satu sisi saja. Gunawan Muhammad itu tulisannya menyihir, namun jika bicara mendorong pendengarnya bosan. Cak Nur agak lebih enak didengar dengan tulisan dahsyat. Dai “Sejuta Umat” Zainudin MZ itu bicaranya luarbiasa, namun miskin tulisan.


Saya lebih suka menulis daripada bicara. Saking malasnya bicara, saya selalu menyusun kata dan kalimat sesingkat mungkin sejauh pendengar bisa memahami. Namun sayapun tak suka menulis berpanjang panjang, karena cenderung ngelantur dan akhirnya tak jelas juntrungannya. Dengan demikian saya berbakat menjadi ilmuwan dong? Tidak juga, karena saya paling malas menulis sesuatu dengan merujuk dan mengutip gagasan orang lain persis seperti mereka tulis dan ucapkan. 


Sudahkan anda mengikuti proses tersebut? Ada satu yang tidak saya tulis niscaya, yaitu membaca. Manusia yang kurang membaca akan terlihat saat mereka bicara apalagi menulis, karena membaca dan mendengar itu adalah sari bunga yang diserap lebah dan ucapan/bicara serta tulisan itu adalah madu. Namun, mengapa tak sedikit ucapan dan tulisan yang beracun? Jelas asupan, penglihatan dan bacaan serta otak dan hati mereka keracunan.

Previous Post

BEM FKIP USK Gelar Konser Amal Untuk NTT

Next Post

Beribadah Hanya Di Awal Ramadan Saja

Next Post

Beribadah Hanya Di Awal Ramadan Saja

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah