POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Bingkai

Mendengar, Bicara, Membaca dan Menulis

Redaksi by Redaksi
April 11, 2021
in Bingkai, Essay, Literasi, POTRET Budaya
0

 


Oleh Ahmad Rizali

Mendengar, Bicara, Membaca dan Menulis - 2025 07 19 15 15 31 | Bingkai | Potret Online
Baca Juga
Duta Literasi
Dunia Literasi dan Aksi
25 Jul 2025

Berdomisili di Depok


Mendengar, Bicara, Membaca dan Menulis - E9724436 3820 4678 9A1A 140808146F32 | Bingkai | Potret Online
Baca Juga
Aceh Selatan
Kembangkan GLS, Kadisdikbud Aceh Selatan Bagikan Majalah ke Siswa SMP Satu Atap Alur Keujrun
12 Nov 2022

Jelas setiap manusia umumnya akan mengikuti proses di atas, meski ada juga manusia yang konon bicara ketika bayi baru lahir,  sementara yang umum biasanya mulai bicara jelas artikulasinya di antara 1 sampai dengan 2 tahun. Orang bijak mengatakan, Tuhan memberi dua lubang telinga dan hanya satu lubang mulut agar manusia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Sehingga saking patuhnya dengan ujar orang bijak ini, umumnya manusia di dunia timur lebih banyak mendengar dan diam atau kurang dalam bicara.

Saat dewasa, ke empat proses ini semakin penting.  Mungkin masing – masing mengembangkan diri melalui passion dan akar budaya masing masing. Ada suku yang lihai berbicara, sehingga biasanya dari merekalah muncul para diplomat dan pengacara andal, penjual andal. Namun ada pula yang lebih senang mendengar dan mengamati. Jadilah mereka para ilmuwan. Biasanya, tradisi yang paling sulit berkembang adalah menulis. 

Baca Juga
Artificial Intelligence
Forum Kreator Era Artificial Intelligence ( KEAI) Terbentuk di Sumbar
30 Sep 2024


Tidak sedikit tokoh kita yang kemampuan menulis dan bicaranya sama baik. Hatta, Soekarno, Natsir, Hasyim Asyarie misalnya. Namun tak sedikit yang unggul di satu sisi saja. Gunawan Muhammad itu tulisannya menyihir, namun jika bicara mendorong pendengarnya bosan. Cak Nur agak lebih enak didengar dengan tulisan dahsyat. Dai “Sejuta Umat” Zainudin MZ itu bicaranya luarbiasa, namun miskin tulisan.


Saya lebih suka menulis daripada bicara. Saking malasnya bicara, saya selalu menyusun kata dan kalimat sesingkat mungkin sejauh pendengar bisa memahami. Namun sayapun tak suka menulis berpanjang panjang, karena cenderung ngelantur dan akhirnya tak jelas juntrungannya. Dengan demikian saya berbakat menjadi ilmuwan dong? Tidak juga, karena saya paling malas menulis sesuatu dengan merujuk dan mengutip gagasan orang lain persis seperti mereka tulis dan ucapkan. 


Sudahkan anda mengikuti proses tersebut? Ada satu yang tidak saya tulis niscaya, yaitu membaca. Manusia yang kurang membaca akan terlihat saat mereka bicara apalagi menulis, karena membaca dan mendengar itu adalah sari bunga yang diserap lebah dan ucapan/bicara serta tulisan itu adalah madu. Namun, mengapa tak sedikit ucapan dan tulisan yang beracun? Jelas asupan, penglihatan dan bacaan serta otak dan hati mereka keracunan.

Next Post

Beribadah Hanya Di Awal Ramadan Saja

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah