Artikel · Potret Online

Ada yang Salah dengan Hidup Kita?

Penulis Feri Ferdian
Mei 18, 2026
3 menit baca 10
IMG_1219
Foto / IlustrasiAda yang Salah dengan Hidup Kita?
Disunting Oleh

Oleh Feri Ferdian 

Pernahkah kita merasa bahwa hidup ini berjalan, tetapi hati tetap kosong? Hari demi hari dipenuhi aktivitas. Pagi bekerja, siang mengejar target, malam beristirahat, lalu esok kembali mengulang rutinitas yang sama. 

Secara lahiriah, semuanya tampak baik-baik saja. Namun, di dalam hati ada pertanyaan yang tak kunjung terjawab: “Mengapa aku masih merasa ada yang kurang?”

Bisa jadi, ada sesuatu yang keliru dengan hidup kita. Kita terlalu sibuk mengejar dunia, tetapi lupa menyiapkan bekal untuk akhirat. Kita berusaha keras mempercantik penampilan, tetapi lalai memperbaiki hati. Kita khawatir jika kehilangan harta, jabatan, dan pujian manusia, tetapi tidak merasa takut ketika kehilangan kedekatan dengan Allah سبحانه وتعالى.

Padahal, hidup ini bukan sekadar tentang makan, bekerja, dan mengumpulkan materi. Lebih dari itu Kita diciptakan untuk tujuan yang jauh lebih mulia, yaitu beribadah kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an, Surah Adz-Dzariyat ayat 56:

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

Ketika tujuan hidup bergeser, maka hati pun kehilangan arah. Sebesar apa pun kesuksesan yang diraih, semuanya tidak akan pernah mampu menenangkan jiwa jika kita jauh dari Sang Pencipta.

Setiap Insan manusia diberikan modal yang sangat berharga,yaitu kehidupan,dengan hidup manusia dapat merencanakan apa saja utk kebaikan yang akan kita tuai dikemudian hari (negeri akhirat).

Waktu-waktu yang kita lewati tanpa ada kebaikan berupa amal saleh di dalamnya adalah kesia-siaan yang nantinya menjadi penyesalan tak berujung di yaumil akhir.

Sebuah peringatan sangat keras dan mendalam disampaikan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah. Beliau berkata,

إضاعةُ الوقت أشدُّ من الموت ؛ لأنَّ إضاعة الوقت تقطعك عن الله والدار الآخرة، والموتُ يقطعك عن الدنيا وأهلها

“Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan dirimu dari dunia dan penduduknya.” (Al-Fawaid, hal. 44).

Sering kali kita menyalahkan keadaan. Kita mengira kebahagiaan terletak pada gaji yang lebih besar, rumah yang lebih mewah, atau penghargaan dari orang lain. Padahal, ketenangan sejati hanya hadir ketika hati mengenal Allah, lidah basah dengan zikir, dan hidup dipenuhi ketaatan.

Al-Qur’an Surah Ar-Ra’d ayat 28 mengingatkan:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

Jika hidup terasa berat, mungkin bukan karena Allah menjauh dari kita, tetapi karena kita yang terlalu jauh dari-Nya. Jika doa terasa hampa, mungkin karena hati kita dipenuhi oleh cinta dunia. Jika ibadah terasa berat, mungkin karena jiwa kita telah terlalu lama tidak diberi makan dengan iman.

Namun, selama napas masih berhembus, pintu taubat selalu terbuka. Tidak ada kata terlambat untuk kembali. Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni jika kita sungguh-sungguh menyesal dan memohon ampun kepada Allah. 

Yang Allah inginkan bukan kesempurnaan kita, tetapi kesungguhan kita untuk kembali kepada-Nya. Mari bertanya kepada diri sendiri: Apakah hidupku sudah mendekatkan diri kepada Allah?

Apakah kesibukanku membuatku lupa akan akhirat?

Apakah hatiku masih merasakan nikmatnya ibadah?

Jika jawabannya belum, maka inilah saatnya untuk memperbaiki arah hidup.

Karena yang keliru bukan takdir kita, bukan keadaan kita, melainkan cara kita menjalani hidup tanpa menjadikan Allah sebagai tujuan utama.

Semoga Allah membimbing kita untuk kembali kepada jalan yang lurus, membersihkan hati kita, dan menjadikan hidup ini penuh makna serta keberkahan.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Feri Ferdian
Majalah Perempuan Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...