(Pelajaran Kepemimpinan dari QS. An-Nisa Ayat 58–59).
Oleh: Tgk. H. Erli Safriza Al-Yisufy, Lc
Di tengah banyaknya krisis kepemimpinan hari ini, Al-Qur’an sebenarnya telah lama memberikan panduan yang sangat jelas. Dua ayat dalam Surah An-Nisa, yakni ayat 58–59, memuat fondasi besar tentang bagaimana seorang pemimpin harus bersikap, dan bagaimana masyarakat seharusnya menempatkan ketaatan.
Ayat ini bukan sekadar bacaan ritual, tetapi peta jalan tata kelola kehidupan. Di dalamnya ada tiga kata kunci penting: “amanah, adil, dan taat”.
Amanah: Jabatan Bukan Milik, Tapi Titipan.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya…”
Pesan pertama ayat ini sangat kuat: segala kekuasaan, jabatan, tanggung jawab, bahkan ilmu yang kita miliki bukanlah milik pribadi. Itu adalah titipan.
Karena itu, jabatan tidak boleh dipakai untuk memperkaya diri, memihak kelompok, atau membangun dinasti kepentingan. Amanah harus diberikan kepada yang layak, bukan kepada yang dekat.
Dalam kehidupan sehari-hari, amanah tidak hanya soal kursi kekuasaan. Menjaga janji, menjaga rahasia, menunaikan tugas, mengajar dengan sungguh-sungguh, hingga memimpin keluarga dengan baik, semua itu adalah amanah.
Adil: Tidak Berat Sebelah.
Allah melanjutkan:
“Dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.”
Keadilan adalah nyawa kepemimpinan. Pemimpin boleh tegas, tetapi tidak boleh zalim. Pemimpin boleh kuat, tetapi tidak boleh sewenang-wenang.
Adil berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya. Yang salah tetap salah, meski ia teman sendiri. Yang benar tetap benar, meski datang dari lawan.
Masyarakat akan sabar hidup dalam kekurangan, tetapi sulit bertahan di bawah ketidakadilan. Karena itu, runtuhnya sebuah sistem sering kali bukan karena miskin, tetapi karena hilangnya rasa adil.
Taat: Bukan Tunduk Buta.
Ayat berikutnya berbunyi:
“Wahai orang-orang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kamu…”
Ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan ketaatan sosial. Namun ketaatan itu bukan tanpa batas. Taat kepada pemimpin berlaku selama tidak bertentangan dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya.
Artinya, Islam tidak mengajarkan budaya menjilat kekuasaan, tetapi juga tidak mendorong kekacauan tanpa aturan. Yang dibangun adalah keseimbangan: hormat kepada pemimpin, namun tetap kritis dalam koridor kebenaran.
Jika Berselisih, Kembali ke Nilai.
Ayat ini juga memberi solusi ketika terjadi konflik:
“Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.”
Maksudnya, ketika ada perbedaan pendapat, jangan diselesaikan dengan emosi, fitnah, atau ego. Kembalilah kepada nilai, ilmu, aturan, dan petunjuk agama.
Hari ini banyak pertikaian lahir bukan karena masalah besar, tetapi karena semua orang ingin menang sendiri. Padahal Al-Qur’an mengajarkan: jika berselisih, carilah kebenaran, bukan kemenangan.
Pelajaran untuk Zaman Sekarang.
Dua ayat ini sangat relevan untuk semua level kehidupan:
Bagi pejabat: jadilah pemegang amanah, bukan pemilik kuasa.
Bagi guru: didik dengan adil.
Bagi orang tua: pimpin keluarga dengan tanggung jawab.
Bagi masyarakat: taatlah kepada aturan yang benar, bukan kepada hawa nafsu massa.
Penutup.
Jika amanah ditegakkan, keadilan dijaga, dan ketaatan dipahami dengan benar, maka masyarakat akan kokoh.
Namun jika amanah dikhianati, hukum diperjualbelikan, dan rakyat dipaksa taat secara buta, maka kehancuran hanya tinggal menunggu waktu.
Al-Qur’an telah memberi rumusnya sejak lama. Tinggal kita: mau mendengar atau terus mengulang kesalahan yang sama.
Penulis merupakan Pimpinan Dayah Madinatuddinayah Babusa’adah dan Ketua HUDA Aceh Selatan.
