Duh Sabang” Santai Bangat” Bro

Oleh Tabrani Yunis
Ketika pada tanggal 28 April 2026 lalu, menumpang kapal cepat Bahari dari pelabuhan Ule Lhe menuju Sabang, kami sempat duduk-duduk di bagian belakang kapal untuk bersantai menyaksikan air laut dan gunung di daratan yang bisa dilihat dari kapal. Sekali-kali juga menyaksikan perahu nelayan yang sedang mencari ikan. Duduk di dek belakang kapal memang terasa santa bangat. Kita bisa merasakan deru angin yang bisa menerbangkan topi yang kita kenakan.
Pokoknya duduk di bagian belakang kapal memandang lautan sambil membuat dokumentasi atau bercengkerama dengan sahabat, memang terasa santai bangat. Situasi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap orang yang datang dan pergi ke Sabang. Maka wajar saja banyak orang atau penumpang yang berada di dalam kapal ikut datang melihat atau merasakan kenikmatan duduk santai di dek belakang itu.
Setiba di Balohan, Sabang ketika turun dari kapal, kita sebagai penumpang pun tidak perlu buru-buru atau berebut transportasi, karena di Balohan ada banyak kendaraan yang bisa kita gunakan. Kita bisa menggunakan jasa pengantaran seperti kendaraan roda dua atau roda empat dengan tarif yang juga santai bangat. Ya, tidak mahal-mahal amat lah. Ingin nyetir sendiri agar lebih santai menikmati keindahan Sabang, kita bisa menyewa sepeda motor atau mobil.
Untuk jalan-jalan keliling kota Sabang atau keliling pulau Weh, kita juga tidak perlu kebut-kebutan. Juga tidak perlu takut ada kemacetan alias traffic jam. Kita bisa mengendarai kendaraan dalam keadaan santai bangat, walau jalan berliku dan menanjak. Tak perlu tergesa-gesa. Kita bisa nikmati keindahan alam Sabang dengan nyaman. Bukan hanya itu, ketika kita membawa kendaraan apakah mobil atau sepeda motor, tidak perlu takut kehilangan sepeda motor atau mobil , karena kondisi Sabang aman dari aksi pencurian kendaraan. Jadi, santai saja.
Ketika perut terasa lapar, apalagi pada sore hari, kita bisa menikmati kuliner di kawasan kota Bawah Sabang, dekat pelabuhan yang dikenal dengan Taman wisata Kuliner Sabang. Ketika sore hari kita sekalian dengan santai bangat bisa menikmati kuliner Sabang sembari menikmati keindahan panorama yang memesona. Tentu saja ada banyak pilihan kuliner yang bisa kita nikmati di Sabang yang memiliki hidangan mie gurita itu. Pokoknya kalau soal kuliner, selain cita rasa sedap juga terjamin kehalalannya.
Sabang memang memiliki banyak tempat untuk kita bersantai. Ada banyak objek wisata yang bisa kita nikmati.
Misalnya bisa menikmati suasana di kilometer Nol, Goa Sarang, Pantai Ibouh, Pulau Rubiah, Gunung berapi Jaboi,pantai Anoe Itam, Danau Aneuk Laot, Pantai Sumur Tiga dan lain-lain. Semua tempat ini sangat cocok bagi kita yang ingin menikmati Sabang dalam keadaan santai bangat.
Pokoknya, berwisata ke Sabang, kita bisa merasakan suasana Sabang yang santai bangat itu. Maka, wajar kalau banyak orang menyebutkan Sabang dengan kota Santai Bangat, yang merupakan kepanjangan dari Sabang itu sendiri.
Nah, istilah “Santai Bangat” yang dilekatkan pada Sabang di satu sisi memberikan konotasi positif, karena setiap pelancong mungkin ingin bersantai ria di pulau Weh ini. Namun, menambatkan sebutan. santai bangat untuk Sabang, juga sering menimbulkan konotasi negatif karena dianggap mencerminkan sikap masyarakat yang terlalu pasif, kurang produktif, dan tidak berorientasi pada pembangunan.
Walaupun bisa dimaknai positif sebagai kota yang tenang dan nyaman, label ini juga berimplikasi pada citra Sabang sebagai daerah yang lamban berkembang dan kurang serius menghadapi tantangan ekonomi dan sosial lainnya.
Dikatakan demikian karena ungkapan ini memang memberikan implikasi negatif yang menggambarkan citra pasif dan tidak produktifnya masyarakat dan pemerintahan kota Sabang. Sebab, citra ini juga memberi kesan bahwa masyarakat Sabang lebih suka beristirahat daripada bekerja keras. Suka tidur dari pagi hingga siang hari. Juga terkesan malas berusaha dan konotasi negatif lainnya.
Jadi, menambalkan Sabang dengan ungkapan Santai Bangat, akan menjadikan ungkapan ini menjadi stereotype orang Sabang yang kurang disiplin dan tidak berorientasi pada efisiensi dan lain-lain.
Sebagai bagian dari masyarakat dan pemerintah yang santai bangat, juga merefleksikan Sabang yang bergerak lamban dalam pembangunan karena kurangnya semangat untuk mengejar kemajuan ekonomi.
Label ini juga akan membawa dampak negatif bagi Sabang yang mungkin mengundang masuknya para investor. Dikatakan demikian, karena investor atau pihak luar bisa ragu menanam modal karena khawatir birokrasi dan tenaga kerja dianggap tidak gesit.
Bukan hanya itu, label ini juga berisiko sosial dan budaya. Dikatakan demikian karena konotasi negatif dapat memperkuat stigma bahwa Sabang hanya cocok untuk wisata “healing” dan bukan pusat aktivitas produktif. Sehingga, lebih lanjut bisa mengurangi kebanggaan lokal dan membuat generasi muda merasa daerahnya tidak kompetitif.
Sementara dampak ekonomi akan terlihat pada kehidupan ekonomi masyarakat Sabang dan juga pendapatan daerah. Sebab, muncul dan berkembangnya persepsi “Santai Bangat” bisa menghambat branding Sabang sebagai pelabuhan bebas dan hubungan perdagangan internasional.
Kalau sudah begini, label ini berpotensi menurunkan daya tarik Sabang dibandingkan Batam atau Singapura yang dikenal dinamis.
Oleh sebab itu, penggunaan sebutan Sabang sebagai kota Santai Bangat harus bisa diluruskan, kalau tidak bisa dihapus, karena Santai Bangat itu juga berkonotasi positif bagi dunia pariwisata. Sebab juga difahami bahwa istilah “Santai Bangat” juga punya daya tarik sebagai citra wisata, namun seharusnya juga diimbangi dengan narasi yang lebih dinamis yang membangkitkan semangat masyarakat dan juga para wisatawan yang berkunjung ke Sabang. Misalnya, menikmati geliat ombak Sabang yang penuh tantangan dan sebagainya.
Nah, kini sudah saatnya pemerintah Sabang lebih aktif mengubah persepsi Sabang sebagai kota Santai Bangat menjadi Sabang yang menggeliat dan dinamis. Misalnya dengan mengubah perilaku dagang di Sabang, yang toko-tokonya baru buka pada pukul 17.00 menjadi lebih pagi. Sehingga para pengunjung yang ingin berbelanja di Sabang tidak harus menunggu buka toko pada pukul 17.00 sore.
Bukan hanya, pemerintah Sabang, juga harus mampu melihat potensi Sabang yang begitu kaya. Carilah orang-orang kreatif, inovatif dan produktif untuk memproduksi produk lokal secara kreatif dan bisa menjadi souvenir bagi para wisatawan, bukan hanya bisa memproduksi bak pia Sabang. Juga harusnya tidak membiarkan taman ria itu, benar-benar menjadi panggung hantu, karena tidak dikelola dan dirawat dengan baik. Pemerintah Sabang harus bekerja lebih keras lagi, jangan terlena dalam kondisi Santai Bangat.









