Oleh Fileski Walidha Tanjung
Saya dan kawan-kawan pegiat budaya duduk berdiskusi di pendopo Taman Obor di Kota Madiun, di bawah cahaya lampu yang memperlihatkan wajah-wajah yang datang dengan niat yang sama: ingin memahami. Malam itu, dalam sebuah acara bertajuk “Falsafah Telur: Diskusi Kemanusiaan dalam Keberagaman”, hasil kerja sama Jaringan Kebudayaan Madiun, Titikan Art School, dan Negeri Kertas, saya tidak hanya hadir sebagai pemantik diskusi, tetapi juga sebagai seseorang yang diam-diam sedang mencari jawaban. Jawaban tentang sesuatu yang sejak lama kita yakini tanpa pernah benar-benar kita pertanyakan: bahwa yang utuh adalah yang tidak retak.
Poster acara itu menampilkan sebuah telur, disertai tulisan dalam tiga bahasa: Indonesia, Arab, dan Mandarin. Dalam bahasa Mandarin tertulis “蛋的哲學” (dàn de zhé xué), filsafat telur. Dalam bahasa Arab tertulis “التنوع وحدة” (at-tanawwu‘ waḥdah), keberagaman adalah kesatuan, dan “الحب” (al-ḥubb), cinta. Sementara dalam bahasa Mandarin lainnya tertulis “融合與團結” (róng hé yǔ tuán jié), perpaduan dan persatuan. Tiga bahasa, tiga peradaban, satu pesan: bahwa keberagaman bukanlah masalah yang harus diselesaikan, melainkan kenyataan yang harus dipahami.
Namun malam itu, saya tidak ingin berhenti pada pesan yang indah. Saya ingin mengusik sesuatu yang lebih dalam. Sebab keindahan sering kali meninabobokan kita. Ia membuat kita merasa telah memahami, padahal kita baru saja menyentuh permukaan.
Kita tumbuh dalam keyakinan bahwa kesempurnaan adalah keadaan tanpa cela. Kita diajarkan untuk memperbaiki retakan, menutup celah, dan menjaga bentuk agar tetap utuh. Tetapi kita jarang diajarkan untuk bertanya: bagaimana jika justru dari retakan itulah kehidupan dimulai?
Telur, dalam banyak peradaban, adalah simbol penciptaan. Ia melambangkan awal, potensi, dan misteri kehidupan. Tetapi telur yang tidak retak adalah telur yang tidak pernah melahirkan apa pun. Ia sempurna, tetapi mandek. Ia utuh, tetapi tidak hidup. Kehidupan hanya mungkin terjadi ketika ada retakan—ketika sesuatu yang tertutup mulai terbuka, ketika batas mulai dilonggarkan. Di titik inilah, saya mulai melihat bahwa retakan bukanlah kegagalan. Ia adalah syarat.
Filsuf Perancis Jacques Derrida pernah mengatakan, “Makna tidak pernah hadir secara utuh; ia selalu tertunda dan tersebar.” Kalimat ini, jika kita renungkan, mengguncang keyakinan kita tentang keutuhan. Bahwa apa yang kita anggap utuh sebenarnya hanyalah ilusi stabilitas. Makna, seperti kehidupan, justru lahir dari ketidaksempurnaan—dari celah-celah yang memungkinkan sesuatu bergerak.
Hal ini membawa kita pada kemanusiaan.
Kemanusiaan tidak pernah lahir dari keseragaman. Ia tumbuh dari pertemuan antara perbedaan—bahasa yang tidak sama, keyakinan yang tidak identik, pengalaman yang tidak serupa. Kita sering melihat perbedaan sebagai potensi konflik, sesuatu yang harus dikendalikan atau bahkan dihapus. Tetapi mungkin kita keliru. Mungkin perbedaan itu bukan ancaman, melainkan sumber kehidupan itu sendiri.
Masalahnya, kita terlalu sering terjebak pada simbol. Kita sibuk mempertahankan identitas, membangun batas, dan menjaga jarak. Kita lupa bahwa simbol seharusnya menjadi jembatan, bukan tembok. Ketika simbol menjadi tujuan, ia membeku. Ia kehilangan daya hidupnya.
Padahal, seperti yang dikatakan oleh Martin Buber, seorang filsuf dialog, “Manusia menjadi manusia melalui perjumpaan.” Dalam perjumpaan itulah, kita tidak lagi berbicara sebagai label, tetapi sebagai manusia. Kita tidak lagi hadir sebagai representasi kelompok, tetapi sebagai individu yang membawa pengalaman dan kerentanannya sendiri.
Di sinilah dialog menemukan maknanya.
Dialog bukan sekadar pertukaran kata. Ia adalah keberanian untuk membuka diri terhadap kemungkinan bahwa kita tidak sepenuhnya benar. Ia adalah kesediaan untuk mendengar tanpa segera menghakimi, untuk memahami tanpa harus menyetujui. Dalam dialog yang sejati, tidak ada hierarki. Semua duduk dalam lingkaran yang sama.
Namun dialog tidak lahir dari kenyamanan. Ia lahir dari ketegangan—dari perbedaan yang tidak selalu mudah diterima. Ia membutuhkan kerendahan hati, sesuatu yang semakin langka di dunia yang serba cepat ini.
Kita hidup di zaman di mana identitas seringkali dijadikan benteng. Ketika dunia terasa tidak pasti, manusia cenderung mencari kepastian dalam kelompoknya sendiri. Kita mempertegas batas, memperkeras perbedaan, dan menjauh dari yang lain. Dalam situasi seperti ini, dialog menjadi semakin sulit, tetapi justru semakin penting.
Diskusi yang diadakan malam itu, di sebuah pendopo sederhana, adalah upaya kecil untuk melawan kecenderungan itu. Ia bukan sekadar acara, tetapi sebuah ruang. Ruang dimana perbedaan tidak disembunyikan, tetapi dihadirkan. Ruang di mana manusia dapat berbicara tanpa takut dihakimi, dan mendengar tanpa merasa terancam.
Kita mungkin tidak akan sepakat dalam banyak hal. Kita mungkin akan tetap berbeda. Tetapi mungkin memang bukan itu tujuannya.
Tujuannya bukan untuk menyamakan, melainkan untuk memahami.
Dan pemahaman itu, saya kira, adalah bentuk tertinggi dari kemanusiaan.
Telur yang retak tidak pernah kembali utuh. Tetapi justru dari ketidakutuhannya, kehidupan muncul. Anak ayam tidak lahir dari kesempurnaan, tetapi dari kehancuran sebuah bentuk lama. Ini adalah paradoks yang jarang kita sadari: bahwa untuk hidup, sesuatu harus rela kehilangan keutuhannya.
Maka pertanyaannya bukan lagi bagaimana menjaga agar kita tetap utuh, tetapi bagaimana kita berani retak.
Retak dalam arti membuka diri. Retak dalam arti membiarkan cahaya masuk. Retak dalam arti memberi ruang bagi yang lain untuk hadir dalam kehidupan kita.
Pada akhirnya, kita semua hidup dalam “telur” yang sama: dunia yang rapuh, penuh ketidakpastian, tetapi juga penuh kemungkinan. Kita tidak bisa menghindari retakan. Yang bisa kita lakukan hanyalah menentukan bagaimana kita memaknainya.
Apakah kita akan melihat retakan sebagai ancaman, atau sebagai peluang?
Apakah kita akan menutup diri untuk menjaga keutuhan yang semu, atau membuka diri untuk menemukan kehidupan yang nyata?
Dan yang lebih penting, apakah kita berani percaya bahwa justru dalam ketidaksempurnaan itulah, kita menjadi manusia?



























Diskusi