Berubahkah Iklim?

IMG_0740
Ilustrasi: Berubahkah Iklim?

(Bagian Kedua)

Oleh : Teuku Masrizar 

Jam menunjukkan pukul 11.00 WIB. Sejak pagi saya sudah berkutat dengan pekerjaan kantor. Badan mulai terasa lelah, pikiran pun agak penat—tanda klasik butuh kafein. Saya pun keluar kantor, berniat mencari secangkir kopi.

Langit yang tadi cerah tiba-tiba berubah. Awan hitam menggantung, seolah memberi tanda,  hujan akan segera turun.

Saya menyalakan Innova dinas keluaran 1998, mobil yang hampir empat tahun setia menemani pekerjaan. Saya pacu sedikit lebih cepat, berharap sampai tujuan sebelum hujan benar-benar jatuh.

Tujuannya sederhana,  RTH Taman Pala Indah. Selain kopinya yang terkenal “nendang”, tempat itu juga menjadi salah satu titik yang perlu saya pantau.

Namun alam bergerak lebih cepat dari rencana saya.

Baru sekitar tujuh menit di jalan, hujan turun deras. Saya segera memarkir mobil di tempat yang teduh dan mencari kursi kosong. Tak lama, pelayan datang dan saya memesan segelas arabika pahit, teman terbaik di tengah hujan.

Suasana siang itu lebih ramai dari biasanya. Banyak orang singgah, sebagian memang ingin menikmati kopi, tapi tak sedikit yang hanya berteduh. Motor dan mobil parkir sembarangan, sedikit mengganggu arus jalan.

Di tengah suasana itu, telinga saya menangkap percakapan dua ibu di dekat meja.

“Dari tadi panas, tiba-tiba hujan. Bikin susah aja,” gerutu salah satu dari mereka sambil mengelap wajah dengan tisu.

Temannya hanya tersenyum.

“Kok diam? Sarinya habis ya?” candanya.

Temannya menjawab ringan, “Makanya, jangan pakai make up tebal-tebal. Hujan dikit langsung luntur. Bawa sapu tangan dong, bukan tisu terus.”

Percakapan sederhana, tapi cukup menggelitik. Saya tersenyum sambil menyeruput kopi. Kafein mulai bekerja, dan pikiran saya ikut mengembara.

Mungkin ibu pertama belum benar-benar menyadari bahwa perubahan cuaca seperti ini kini makin sering terjadi. Pagi cerah, siang mendung, lalu hujan deras, dan tak lama kemudian kembali terang, seolah alam sedang “bingung” dengan ritmenya sendiri.

Fenomena ini bukan lagi hal langka.

Saya lalu merenung dari sudut pandang yang lebih luas. Bahkan hal kecil seperti make up dan tisu yang mereka bicarakan sebenarnya punya jejak panjang terhadap lingkungan. 

Produk-produk itu berasal dari proses industri, dari bahan baku alam, mesin produksi, hingga limbah yang dihasilkan.

Memang, satu orang memakai tisu atau kosmetik tidak langsung merusak bumi. Tapi bayangkan jika jutaan orang melakukannya setiap hari, dalam sistem produksi besar, dampaknya tentu tidak kecil.

Ngopi siang itu ternyata memberi “pelajaran tambahan”.Secara sederhana, perubahan iklim adalah perubahan pola alam dalam jangka panjang, suhu yang meningkat, hujan yang tak menentu, dan cuaca yang makin sulit diprediksi.

Ini bukan hanya hujan tiba-tiba atau panas yang lebih terik dari biasanya. Ini adalah perubahan besar yang perlahan menggeser keseimbangan alam. Dan yang perlu kita sadari, perubahan ini tidak lepas dari ulah manusia.

Mulai dari pembukaan hutan, aktivitas industri, hingga pola konsumsi kita sehari-hari yang kurang ramah lingkungan, semuanya berkontribusi.

Dampaknya pun nyata. Aktivitas terganggu, penyakit bermunculan, tanaman terganggu pertumbuhannya, bahkan banyak spesies yang terancam punah.

Pada akhirnya, persoalan ini bukan hanya tentang pemerintah atau industri besar. Ini juga tentang kita, tentang kebiasaan kecil yang kita lakukan setiap hari.

Mulai dari hal sederhana, tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, hingga kembali menghargai kearifan lokal dalam menjaga alam.

Karena menjaga lingkungan bukan hanya tren, tapi kebutuhan. Sebab ketika kita menjaga alam, sejatinya kita sedang menjaga masa depan kita sendiri.

Dan mungkin, dari secangkir kopi di siang yang hujan itu, saya mulai lebih paham, bahwa perubahan iklim bukan lagi wacana, tapi kenyataan yang sedang kita hadapi bersama.###

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Teuku Masrizar Peminat Lingkungan, berdomisili di Tapaktuan, Aceh Selatan

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.