Menjadi Guru Yang Entertainer

3B16BCC9-5860-4D88-89D6-B676DAE2E109
Ilustrasi: Menjadi Guru Yang Entertainer

 Oleh Tabrani Yunis 

Teaching is an art, begitu ungkapan yang pernah saya baca dari sebuah buku yang saya sendiri sudah lupa. Karena mengajar itu adalah seni, maka proses mengajar itu bisa diimprovisasi. Kita bisa memolesnya dengan berbagai bentuk kreasi-kreasi baru. Mengemasnya dengan hal-hal yang inovatif. Mengajar tentu saja bukan sekadar mentransfer ilmu dan ketrampilan, tetapi harus memilki fungsi-fungsi lain seperti fungsi hiburan. 

Nah, bila kita adalah sosok guru-guru yang menganut falsafah guru yang pembelajar, kita harus bisa mencoba mengembangkan sebuah cara pembelajaran yang dapat menarik minat para peserta didik untuk belajar, khususnya bahasa Inggris, bagi guru bahasa Inggris. Karena pengalaman kita dalam proses pembelajaran bahasa Inngris di sekolah memang lebih banyak hal yang tidak menarik. 

Pelajaran bahasa Inngris menjadi pelajaran yang membosankan, ditakuti siswa dan sebagaianya. Realitas ini bisa kita temukan  dalam proses pembelajaran di sekolah. 

Penulis sendiri, berbekal pengalaman mengajar lebih dari 20  tahun, sering berusaha menghadirkan model pembelajaran yang variatif, tidak monoton. Bukan hanya itu, tetapi juga menggunakan pendekatan partisipatif, dengan melibatkan siswa secara aktif dan produktif melakukan kegiatan pembelajaran. Penulis sering pula bersama siswa mengidentifikasi berbagai masalah yang menyebabkan kegagalan pmbelajaran bahasa Inggris di sekolah selama bertahun-tahun itu. 

Setelah mengidentifikasinya, tentu dilakukan langkah selanjutnya dengan menganalisis masalah – masalah itu. Dari hasil analisis ini saya menemukan berbagai faktor. Salah satu faktor utamanya adalah faktor guru. 

Penulis bahkan berkesimpulan pada saat itu, bahwa guru sangat berperan dalam membuat sebuah pengajaran bahasa Inggris gagal di sekolah. Kegagalan siswa dalam menguasai bahasa Inggris tidak terlepas dari kegagalan guru melakukan inovasi dalam pembelajaran bahasa Inggris di sekolah.

Adalah sebuah keanehan dan sangat tidak masuk akal, kalau seorang peserta didik belajar bahasa Inggris selama 4 jam seminggu (dua kali seminggu), selama 6 tahun lamanya. Namun tidak memahami bahasa Inggris, apalagi untuk berkomunikasi baik lisan maupun tulisan. 

Padahal, jangka waktu pembelajaran selama 6 tahun juga bukan sebuah rentang waktu yang pendek. Idealnya, peserta didik sudah bisa berbicara cas cis cus dalam bahasa Inggris bukan ? 

Namun, kenyataannya memang hingga kini, betapa banyaknya anak didik kita tidak mengerti, apalagi berbicara bahasa Inggris dengan lancar. Sayangnya kondisi semacam ini tidak pernah menjadi bahan refleksi bagi guru bahasa Ingrgris. Tidak pernah menjadi bahan kajian. Tidak pernah menjadi sebuah pertanyaan yang dapat mendorong dirinya untuk keluar dari belenggu sistem pembelajaran yang konvensional. 

Seharusnya guru bisa bertanya, apakah saya sudah cukup mampu untuk mengajarkan bahasa Inggris kepada peserta didik. Guru seharus merasa malu, kalau ia sebagai seorang guru bahasa Inggris, tetapi kondisinya sama saja dengan peserta didik, tidak bisa dan tidak pernah berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Pertanyaannya adalah apa yang bisa diharapkan dari seorang guru bahasa Inggris yang tidak kompeten mengajara bahasa Inggris, harus mengajar bahasa Inggris kepada anak-anak didik ? 

Padahal, tatkala seorang guru bahasa Inggris mengajar di depanj kelas, ia harus menjadi model bagi peserta didik bukan ? Nah, seperti kata pepatah kuno, kalau begini tarah papan, ke barat juga kan condongnya, kalau begini cara mengajar, maka melarat juga peserta didik jadinya. 

Maka, sekali lagi wajar, kalau peserta didik yang belajar bahasa Inggris selalu menuai kegagalan. Bahasa Inggris di satu sisi dianggap sangat perlu untuk dapat menguasai ilmu-ilmu dan informasi yang barudan masih segar. Namun di pihak lain, bahasa Inggris masih dianggap momok yang sangat menakutkan.

Bangkit dari kesadaran itu, penulis ingin berbagi pengalaman mengajar bahasa Inggris. Dulu ketika penulis pindah ke SMA Negeri 3 Banda Aceh, maka penulis mulai melakukan berbagai transformasi pembelajaran bahasa Inggris.  MIsalnya mencoba merubah paradigma pembelajaran bahasa Inggris dengan memperkaya paradigma pembelajaran yang bervariasi. 

Penulis sangat yakin bahwa di sekolah ini saya bisa memerdekakan diri penulis  untuk melakukan perubahan-perubahan paradigma berfikir dan bertindak. Tentu saja, perubahan paradigma tersebut, kita harus mau bereksperimen.mau berkreasi, berinovasi. Kuncinya adalah kita harus tumbuhkan dahulu sikap kritis. Mau mengkritisi fenomena-fenomena alam, paling tidak fenomena-fenomena yang ada di sekitar profesi kita sendiri, yakni dunia pembelajaran yang kita geluti sehari-hari.

Mengawali masa tugas di SMA Negeri 3 yang kata banyak orang di Aceh, sebagai sebuah SMA favorit, penulis  ditugaskan di kelas 1. Sebuah kesempatan yang bagus untuk memulai eksperimen karena mereka adalah orang-orang yang baru memulai pembelajaran di bangku SMA saat itu. 

Dengan semangat yang besar untuk berkreasi dan berinovasi, penulis mempersiapkan diri untuk melakukan sebuah improvisasi dalam sebuah pembelajaran bahasa Inggris. Modal awal yang penulis miliki adalah sebuah keberanian untuk berinovasi dan berkreasi. 

Penulis harus berani keluar dari sebuah tradisi yang konvensional.. Meninggalkan sebuah sistem pembelajaran bahasa Inggris yang menjajalkan teori-teori. Meninggalkan kebiasaan menyuguhkan aturan-aturan bahasa yang memusingkan peserta didik. Meninggalkan kebiasaan CBSA, catat buku sampai abis yang selama ini membuat para siswa uring-uringan.

Untuk membangun sebuah setting pembelajaran yang kreatif dan inovatif, di samping membutuhkan keberanian untuk berkreasi dan berinovasi, juga sangat dibutuhkan keberanian untuk keluar dari belenggu sistem pembelajaran yang ada selama ini. Sadar atau tidak, para guru karena keharusan mematuhi tuntutan kurikulum, telah menyebabkan para guru bersikap otoriter dalam proses pembelajaran. 

ADVERTISEMENT

Guru masuk ke kelas untuk mengajar membawa sejumlah materi pelajaran yang kerapkali tidak memperhatikan kebutuhan atau keinginan peserta didik. Proses pembelajaran yang terjadi mengesampingkan prinsip-prinsip demokratis. Padahal, para siswa sangat menyukai guru yang bisa menjalankan proses pembelajaran yang demokratis.

Di samping perlunya demokratisasi dalam sistem pembelajaran di sekolah, para siswa sebenarnya sangat menyukai dan memfavoritkan guru-guru yang di mata mereka tergolong kreatif. Mereka senang dengan guru-guru yang gemar berinovasi, menciptakan dan menemukan hal-hal yang baru yang dibawa ke dalam setting pembelajaran. 

Para siswa juga sangat senang dengan guru-guru yang suka bergaul (supel) terhadap peserta didik. Para siswa juga sangat senang dengan guru-guru yang humoris. Mereka juga sangat senang dengan guru yang mau dan terbuka terhadap kritik., tidak pemarah dan banyak lagi hal-hal yang disukai anak. 

Mereka ingin dihargai, tidak mau dipermalukan. Mereka ingin bisa diperhatikan dengan banyak memberikan peran-peran yang dapat melibatkan mereka dalam sebuah proses pembelajaran.

Sadar akan kebutuhan siswa yang demikian, penulis melakukan beberapa hal yang dapat dikatakan kreatif dan inovatif serta menantang. Banyak hal yang  penulis coba praktikkan sejak mulai mengajar di SMA negeri 3 Banda Aceh. Akan tetapi hal yang pertama dilakukan adalah menumbuhkan minat para siswa atau menyemai rasa cinta siswa terhadap pelajaran yang penulis ajarkan. 

Sebab , seperti juga kata orang dalam sebuah bait lagu, kalau cinta sudah melekat, segalanya bisa diperbuat. Untuk menumbuhkan minat atau menyemai cinta tersebut kiranya tidaklah terlalu sulit. Cukup gampang. Yang penting para guru sebelum melakukan hal semacam ini sudah sejak dahulu mau melakukan self development. 

Banyak cara dan pendekatan yang bisa menumbuhkan rasa cinta itu. Agar cinta itu tumbuh dan bersemi. Cinta itu bukan tumbuh karena ketampanan, penulis tidak memeiliki tampang yang gagah dan tampan. Tetapi  berusaha tampil dengan mengedepankan kemampuan berbahasa, kekayaan strategi dan metodologi pembelajaran yang dapat menarik minat dan memikat siswa. Kekayaan strategi , metodologi dan kemampuan berbahasa Inggris yang diwarnai joke-joke segar, membuat para siswa betah belajar. 

Bukan hanya pada jam-jam pertama di pagi hari, tetapi tetap segar di waktu siang hari, tatkala perut yang lapar dan pikiran yang selalu tertuju ke rumah, para siswa tetap bertahan dan lengkap di kelas.

Kepuasan siswa adalah sesuatu yang harus  diberikan. Maka, penulis mencoba melakukan banyak hal yang bisa membuat para siswa senang dan puas. Berbagai cara bisa dilakukan. Namun hal

yang paling penting menurut penulis dilakukan sebelum melangsungkan proses pembelajaran adalah mendemokratisasikan sistem pembelajaran bahasa Inggris. 

Agar bisa berjalannya demokratisasi maka strategi yang dijalankan adalah dengan menggunakan sebuah pendekatan yang partisipatoris, melibatkan semua siswa untuk mengidentifikasikan masalah-masalah yang mereka hadapi dalam proses pembelajaran. 

Masalah itu dianalisis bersama. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti, mengapa hal itu bisa terjadi ? Lalu, apa yang sudah anda lakukan untuk mengatasi masalah tersebut. Dan agar masalah –masalah ini tidak terulang lagi, maka menurut anda bagaimana sistem pembelajaran yang anda inginkan ? 

Keinginan dan kebutuhan siswa bisa sangat berbeda dengan konsep yang kita bawa. Namun. Oleh sebab itu, penulis berusaha memahami keinginan dan kebutuhan siswa. Kemudian bersama-sama para siswa dibangun sebuah konsensus yang harus dijalankan selama proses pembelajaran. Konsensus yang dibangun merupakan sebuah kontrak belajar. 

Di dalam kontrak belajar tersebut bersama para siswa dibangun kesepakatan-kesepakatan akan aturan main dalam pembelajaran bahasa Inggris selama satu semester. Aturan-aturan yang disepakai misalnya, proses pembelajaran bahasa Inggris hanya menggunakan satu bahasa, yakni bahasa Inggris. 

Setiap siswa wajib hukumnya berbahasa Inggris selama proses belajar berlangsung. Lalu, kalau ada yang menggunakan bahasa Indonesia dalam proses pembelajaran bahasa Inggris tersebut disepakati agar diberikan sangsi. 

Setelah konsensus ini terbangun, maka proses pembelajaran pun berlangsung. Ini adalah satu hal yang selalu dibangun tatkala mulai mengajar bahasa Inggris di SMA Negeri 3 Banda Aceh.

Setelah konsensus yang demikian terbangun, maka pembelajaran bahasa Inggris baru bisa dijalankan. Tidak hanya cukup konsensus, akan tetapi bagaimana konsensus itu bisa dijalankan. Maka, kita tetap konsisten. Apabila ada yang melanggar, cukup diingatkan bahwa ini adalah konsensus bersama. 

Lebih dari 9 tahun pendekatan ini diterapkan dan penulisan berusaha membawa english language setting and admosphere ke dalam kelas.Para siswa sepakat untuk menggunakan bahasa Inggris 100 % di kelas. Dan mereka bersedia membayar denda. Seratus rupiah harus mereka keluarkan dari kocek per kata, apabila mereka berbicara dalam bahasa Indonesia selama proses belajar bahasa Inggris. 

Denda ini, walau kadang sering memberatkan siswa, namun sudah lebih 9 tahun pendekatan ini diterapkan, belum ada satu orang tua pun yang menyatakan keberatan dengan cara ini. Karena kenyataannya, seluruh siswa di kelas-kelas yang  diasuh, selalu saja menyapa penulis dengan penuh keakraban dalam bahasa Inggris. Mereka bagi penulisn adalah teman bagi  untuk menajamkan kemampuan berbicara atau berkomunikasi dalam bahasa Inggris. 

Betapa senangnya hati seorang guru, kalau melihat para siswanya mampu bekomunikasi dalam bahasa Inggris. Bukan hanya sekadar mampu berbicara tentang soal-soal yang simple, tetapi mereka mampu berdiskusi dan berdebat dalam bahasa Inggris.

Agar bisa menjaga dan mempertahankan keterpautan hati para siswa terhadap pembelajaran bahasa Inggris bersama penulis , penulis selalu berupaya meningkatkan kompetensi sebagai guru bahasa Inggris. Tentu dengan mempelajari teknik-teknik mengajar yang kreatif. 

Maka dalam pembelajaran yang dilakukan selalu tetap kreatif, inovatif dan humoris. Penulis tidak mewajibkan para siswa membeli buku. Maka penulis selalu mencari bahan dari luar buku paket yang ada. Bisa itu guntingan koran, leaflet-leaflet, brosur-brosur berbahasa Inggris dan bahkan bahan-bahan yang diakses dari email dan internet. Para siswa di sini selalu saja menemukan sesuatu yang baru, aktual, menarik dan perlu. Pendek kata, pendekatan-pendekatan yang kreatif dan yang inovatif diaplikasikan  selama ini, banyak memberikan pelajaran yang berharga bagi penulis dalam mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak SMA 3 Banda Aceh. 

Kemudian, untuk membuat mereka tetap bertahan di kelas, bisa belajar dengan penuh kesenangan. Penulis  benar-benar berupaya menyegarkan suasan belajar yang segar, berenergi, serta dinamis. Kelas bukanlah satu-satunya tempat mereka belajar. Para siswa bisa memilih tempat belajar, indoor atau outdoor. 

Bahkan sering juga belajar di Café. Sesuai dengan kesepakatan, bahwa penulis adalah guru bahasa Inggris. Dan yang paling mereka enjoy, penulis  selalu menempatkan diri sebagai guru yang entertainer yang membuat mereka selalu saja terhibur dalam belajar bahasa Inggris. 

Kala suasana tegang, dan mulai membosankan, mereka terhibur dengan bait-bait lagu bahasa Inggris dan juga mencairkan suasana dengan, ice breaker, joke dan humor-humor segar. Sehingga bisa mengusir rasa lapar pada jam-jam terakhir. Penulissendiri juga merasa nikmat menjadi guru. Karena penulis memang enjoy dan juga sangat terhibur dengan sistem pembelajaran seperti ini. 

Sehingga rasa tidak suka menjadi guru pun telah terkubur. Penulis tidak merasa lagi bahwa mengajar adalah sebuah beban yang sangat berat, akan tetapi sebuah masa yang begitu indah. Hingga kini, masih sangat senang mengajar dan mencintai profesi guru, walau dalam realitas seharian  harus bekerja di dunia lain. Menjadi guru yang entertain, adalah guru yang mengubah pola mengajar dinamis, humoris, humanis dan harmonis.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tabrani Yunis

Bio Narasi

Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari.

Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan”

Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak.

Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Diskusi

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.