Antara Konten dan Tulisan: Cara Sederhana “Healing” di Era Digital

e08e89c0-dfa9-447a-887f-f0826157341c
Ilustrasi: Antara Konten dan Tulisan: Cara Sederhana “Healing” di Era Digital

Oleh : Novita Sari Yahya 

Di tengah kehidupan yang semakin padat dan penuh tekanan, banyak orang mencari cara sederhana untuk meredakan kelelahan mental. Salah satu yang kini banyak dilakukan adalah memanfaatkan media sosial sebagai sarana ekspresi sekaligus pelepas penat.

Aktivitas sederhana seperti mengenakan pakaian yang sedang tren, misalnya, tidak hanya berkaitan dengan penampilan. Dalam kajian psikologi, terdapat konsep enclothed cognition, yaitu gagasan bahwa pakaian yang dikenakan dapat memengaruhi cara berpikir dan suasana hati seseorang. Dengan kata lain, apa yang dipakai dapat membantu membentuk rasa percaya diri.

Selain itu, membuat konten video sederhana juga menjadi pilihan banyak orang. Kegiatan seperti merekam aktivitas sehari-hari, mengatur sudut pengambilan gambar, hingga memilih musik latar merupakan bagian dari proses kreatif. Meskipun terlihat ringan, aktivitas ini dapat menjadi sarana pelepasan emosi dan memberikan rasa puas karena seseorang merasa telah menghasilkan sesuatu.

Ketika konten tersebut diunggah ke media sosial seperti Instagram atau TikTok, muncul interaksi berupa tayangan, tanda suka, dan komentar. Respons ini sering kali memberikan rasa dihargai. Dalam studi media sosial, interaksi tersebut berkaitan dengan sistem penghargaan psikologis yang dapat memicu perasaan senang, meskipun sifatnya sementara.

Fenomena ibu-ibu yang aktif membuat konten menunjukkan adanya perubahan dalam pola pemanfaatan waktu luang. Jika sebelumnya waktu lebih banyak dihabiskan untuk aktivitas yang kurang produktif, kini banyak yang mulai mengarah pada kegiatan yang lebih kreatif. Bahkan, tidak sedikit yang kemudian menjadikannya sebagai sumber penghasilan tambahan.

Namun demikian, ada alternatif lain yang lebih reflektif, yaitu menulis. Menulis tidak sekadar menuangkan kata-kata, tetapi juga melibatkan proses memahami diri sendiri. Saat seseorang menulis, ia berusaha menyusun kembali pikiran dan perasaan yang sebelumnya tidak teratur.

Penelitian yang dilakukan oleh James W. Pennebaker menunjukkan bahwa menulis tentang pengalaman emosional dapat memberikan manfaat bagi kesehatan mental. Aktivitas ini dapat membantu mengurangi stres dan kecemasan karena individu memiliki ruang untuk mengekspresikan perasaannya secara jujur.

Berbeda dengan konten media sosial yang sering bergantung pada respons publik, menulis cenderung lebih personal. Tidak ada tuntutan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Menulis menjadi ruang dialog yang lebih tenang antara seseorang dengan dirinya sendiri.

Selain itu, tulisan memiliki nilai jangka panjang. Gagasan yang dituangkan dapat dibaca kembali, direnungkan, dan bahkan memberi manfaat bagi orang lain. Dalam hal ini, tulisan memiliki daya yang lebih kuat dibandingkan konten yang cepat berlalu di media sosial.

Meskipun demikian, membuat konten dan menulis tidak perlu dipertentangkan. Keduanya dapat saling melengkapi. Konten dapat digunakan untuk menjangkau audiens yang lebih luas, sedangkan tulisan menjadi dasar pemikiran yang lebih mendalam.

Pada akhirnya, healing tidak selalu memerlukan cara yang rumit. Aktivitas sederhana seperti berpakaian rapi, membuat konten, dan menulis dapat menjadi bentuk perawatan diri. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang menjalani proses tersebut dengan kesadaran dan keseimbangan.

Daftar Pustaka

Adam, H., & Adam D. Galinsky. (2012). Enclothed cognition. Journal of Experimental Social Psychology, 48(4), 918–925. https://doi.org/10.1016/j.jesp.2012.02.008

Kaplan, A. M., & Michael Haenlein. (2010). Users of the world, unite! The challenges and opportunities of social media. Business Horizons, 53(1), 59–68. https://doi.org/10.1016/j.bushor.2009.09.003

James W. Pennebaker. (1997). Writing about emotional experiences as a therapeutic process. Psychological Science, 8(3), 162–166. https://doi.org/10.1111/j.1467-9280.1997.tb00403.x

James W. Pennebaker, & Chung, C. K. (2011). Expressive writing: Connections to physical and mental health. Dalam H. S. Friedman (Ed.), Oxford handbook of health psychology. Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/oxfordhb/9780195342819.013.0018

ADVERTISEMENT

World Health Organization. (2022). World mental health report: Transforming mental health for all. WHO Press. https://www.who.int/publications/i/item/9789240049338

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Novita Sari Yahya
Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone

Komentar

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.