Ketika Bahan Bakar Fosil Habis, Bukan Akhir Segalanya

Ketika Bahan Bakar Fosil Habis, Bukan Akhir Segalanya - cf9783f3 f060 4def 9401 8d275b9bc1ab | Artikel | Potret Online
Ilustrasi: Ketika Bahan Bakar Fosil Habis, Bukan Akhir Segalanya

Oleh Aswan Nasution 

Dunia tidak akan berakhir dengan dentuman besar, melainkan dengan bunyi “klik” dari tangki bensin yang kering kerontang. Bayangkan sebuah pagi di mana Anda memutar kunci kontak, namun hanya kesunyian yang menyambut. Tidak ada deru mesin. Tidak ada getaran piston. 

Hari itu, peradaban yang kita bangun di atas sisa-sisa jasad renik jutaan tahun lalu, resmi runtuh. BBM habis. Dan bersama tetes terakhirnya, modernitas pamit undur diri.

Kita terlalu lama memuja minyak bumi sebagai darah peradaban. Kita lupa bahwa darah ini fana. Saat ia benar-benar lenyap, kita tidak hanya kehilangan kendaraan. Kita kehilangan kendali atas gravitasi kenyamanan yang selama ini kita nikmati. 

Jarak yang biasanya ditempuh dalam lima menit dengan sepeda motor, tiba-tiba menjadi perjalanan panjang yang melelahkan bagi betis-betis yang sudah manja.

Kehidupan melambat secara ekstrem, lalu berhenti. Tanpa solar, truk-truk pengangkut sayur dari Pedesaan atau pegunungan mogok di tepi jalan. Pasar-pasar menjadi sunyi. Rak-rak supermarket kosong melompong. 

Kelaparan bukan lagi isu politik di televisi, melainkan tamu tak diundang yang mengetuk pintu setiap perut manusia. 

Kita menyadari dengan pahit: kita tidak bisa memakan aspal dan beton.

Malam menjadi musuh yang menakutkan. Tanpa minyak bumi, pembangkit listrik yang bergantung pada bahan bakar fosil padam seketika. Kota-kota yang dulunya gemerlap oleh neon kini berubah menjadi rimba beton yang gelap gulita. Kegelapan ini bukan kegelapan yang puitis. Ini kegelapan yang purba, yang membawa kembali ketakutan manusia pada bayang-bayang.

Industri manufaktur lumpuh total. Pabrik-pabrik pakaian, obat-obatan, hingga pengolahan plastik berhenti beroperasi. Kita mendapati diri kita kembali ke titik nol. Pakaian yang kita kenakan hari ini mungkin akan menjadi kain terakhir yang kita miliki sebelum kita belajar kembali memintal kapas dengan tangan. Segala sesuatu yang berbau “instan” musnah.

Komunikasi adalah korban pertama yang tewas. Menara-menara BTS kehilangan daya. Satelit-satelit tetap menggantung di langit, namun bumi kehilangan alat untuk menyapa mereka. Internet, yang kita anggap sebagai oksigen kedua, menguap begitu saja. Manusia kembali ke era surat-menyurat yang dibawa oleh kaki-kaki kuda atau pelari yang kehabisan napas. 

Kita terisolasi di pulau-pulau kecil bernama “lingkungan rumah”.

Keamanan runtuh karena hukum membutuhkan mobilitas untuk ditegakkan. Polisi tanpa kendaraan patroli hanyalah penonton di tengah kekacauan. Manusia mulai saling curiga. Sebutir telur menjadi lebih berharga daripada segenggam emas. 

Di titik ini, martabat manusia merosot drastis. Kita kembali menjadi pemburu dan peramu, namun kali ini yang kita buru bukan rusa, melainkan sisa-sisa makanan di gudang yang terkunci.

“Peradaban adalah tipisnya lapisan es di atas samudera kekacauan,” tulis seorang pemikir peradaban. Dan BBM adalah suhu yang menjaga es itu tetap beku. Tanpa suhu itu, es mencair. Kita tenggelam kembali ke cara hidup ribuan tahun lalu: tanpa lampu, tanpa pendingin ruangan, tanpa antibiotik massal. Manusia dipaksa untuk kembali akrab dengan tanah, cangkul, dan peluh yang murni.

Namun, apakah skenario kiamat ini akan terjadi secara instan seperti membalik telapak tangan? Tentu tidak. Minyak bumi tidak akan lenyap dalam satu malam. Kelangkaannya akan merayap perlahan, memberi sinyal melalui harga yang melambung dan antrean yang mengular. Dan di celah waktu yang sempit itu, keajaiban evolusi manusia akan bekerja.

Manusia adalah makhluk yang paling keras kepala dalam urusan bertahan hidup. Sejarah membuktikan bahwa krisis adalah rahim bagi penemuan-penemuan besar. Saat BBM mulai menipis, otak manusia mulai memanas. Kita tidak akan membiarkan diri kita kembali ke zaman batu tanpa perlawanan. Akal pikiran adalah teknologi paling mutakhir yang pernah diciptakan oleh Sang Pencipta.

Kita mulai menatap matahari bukan lagi sebagai penghias siang, melainkan sebagai reaktor nuklir raksasa yang menyediakan energi tanpa batas. Panel surya akan menggantikan tangki bensin. Angin yang bertiup di pesisir akan diubah menjadi daya yang menghidupkan lampu-lampu di kamar anak kita. Tumbuhan tidak lagi hanya untuk dimakan, tapi juga diolah menjadi biodiesel yang lebih ramah pada bumi.

Kita jangan takut akan habisnya BBM, karena Tuhan tidak menciptakan manusia untuk punah karena kehabisan minyak. Tuhan menciptakan manusia lengkap dengan perangkat lunak paling canggih: kemampuan untuk berpikir, menganalisis, dan berinovasi.

ADVERTISEMENT

 Surah Al-Baqarah ayat 164, Allah secara tersirat meminta manusia menggunakan akal untuk melihat potensi alam:

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi… dan bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia… benar-benar terdapat tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan (menggunakan akal).”

Tuhan memberikan bahan bakar fosil sebagai “modal awal” untuk kita memulai peradaban. Jika modal itu habis, itu adalah isyarat bahwa kita harus naik kelas. Kita harus pindah ke energi yang lebih suci, lebih bersih, dan lebih abadi. Akal pikiran manusia adalah sumbu yang tidak akan pernah kering selama kita mau terus mencari cahaya.

Habisnya BBM bukanlah akhir dari dunia. Itu adalah awal dari babak baru di mana manusia tidak lagi merampok perut bumi, melainkan memanen anugerah dari langit dan angin. Kita akan bertahan, bukan karena kita punya minyak, tapi karena kita punya akal yang terus menyala.

Transisi energi tidak akan semanis pidato diplomat di gedung PBB; ia akan terasa seperti disapih paksa dari kecanduan panjang. Namun, di sela kepanikan, peradaban mulai memahat wajah baru. Kita tidak lagi menggali ribuan meter ke perut bumi hanya untuk membakar jasad renik. Kita mulai menengadah ke langit dan menunduk ke tanah dengan cara yang lebih terhormat.

Panel surya bukan lagi pelengkap atap mewah, melainkan “daun mekanis” yang melakukan fotosintesis elektrik. Bayangkan setiap genting dan jendela adalah penyerap cahaya. Matahari, reaktor fusi raksasa yang menggantung gratis, akhirnya kita akui sebagai pemegang saham tunggal energi masa depan. Arus listrik tidak lagi mengalir lewat kabel panjang yang rentan, melainkan dipanen langsung di atas kepala kita sendiri.

Lihatlah hamparan ladang. Tanaman jarak, sawit, hingga tebu tidak lagi berakhir di penggorengan. Laboratorium kimia mengubah selulosa menjadi bioetanol dan biodiesel yang bersih. Kita mulai “menanam” bahan bakar sendiri dalam siklus yang jujur: apa yang diambil dari tanah, dikembalikan ke udara, dan diserap kembali oleh daun. Sebuah sirkularitas yang selama ini kita abaikan demi kepraktisan minyak bumi yang kotor.

Teknologi baterai pun berevolusi menjadi penyimpan daya solid-state yang efisien. Kendaraan senyap mulai merayap tanpa raungan knalpot dan polusi. Kota-kota menjadi lebih manusiawi dan hijau. Semua lompatan ini dimungkinkan oleh satu hal: Akal.

Jadi, jangan takut pada tangki yang kosong, takutlah pada pikiran yang kosong. Selama otak manusia masih berdenyut, kita tidak akan kembali ke zaman batu, melainkan berpindah menuju cahaya abadi dari Sang Pencipta.

Aswan Nasution adalah penulis yang menaruh minat pada cerita reflektif tentang kehidupan, cinta, dan perjalanan batin manusia. Melalui tulisan berusaha menangkap emosi sederhana yang sering terlewat dalam kehidupan sehari-hari. 

Baginya, menulis adalah bekerja untuk keabadian. Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Saat ini bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta. Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Di mana Semua lelaki dewasa dipanggil “Ketua” Apabila ingin menghubunginya bisa ke emailnya : aswannasution091@gmail.com.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Aswan Nasution
Aswan Nasution, Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini masih bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara. Di mana Semua lelaki dewasa dipanggil “Ketua”. Apabila ingin menghubunginya bisa kirimkan ke emailnya aswannasution09@gmail.com.

Komentar

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.