Standar Ganda dalam Empati Global: Membaca Konflik Gaza–Israel Secara Kritis dan Konsisten

Standar Ganda dalam Empati Global: Membaca Konflik Gaza–Israel Secara Kritis dan Konsisten - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | #Gaza | Potret Online
Ilustrasi: Standar Ganda dalam Empati Global: Membaca Konflik Gaza–Israel Secara Kritis dan Konsisten

Oleh Dayan Abdurrahman

Konflik antara Israel dan Gaza Strip kembali menempatkan dunia pada satu pertanyaan mendasar: apakah empati benar-benar bersifat universal, atau justru mengikuti arah kepentingan global? Di tengah arus informasi yang deras dan reaksi internasional yang beragam, tampak bahwa persoalan utama bukan sekadar konflik itu sendiri, melainkan bagaimana dunia memilih untuk merespons penderitaan yang dihasilkan.

Masalah dunia hari ini bukan kekurangan empati, tetapi bagaimana empati itu dipilih, diarahkan, dan didistribusikan.

Realitas Empiris: Ketimpangan yang Terukur

Dalam berbagai eskalasi konflik selama satu dekade terakhir, laporan lembaga internasional menunjukkan bahwa korban sipil di Gaza secara konsisten lebih tinggi dibandingkan di Israel, memperlihatkan ketimpangan dampak kemanusiaan yang signifikan. Ribuan jiwa melayang dalam waktu relatif singkat pada periode tertentu, dengan proporsi besar berasal dari kalangan sipil—termasuk perempuan dan anak-anak. Infrastruktur vital seperti rumah sakit, sekolah, dan sistem air bersih mengalami kerusakan berat, bahkan kolaps parsial.

Di sisi lain, masyarakat di Israel juga menghadapi ancaman nyata berupa serangan roket dan ketidakpastian keamanan yang berdampak pada kehidupan sehari-hari. Korban jiwa, luka-luka, serta trauma psikologis menjadi bagian dari realitas yang tidak dapat diabaikan.

Namun di sinilah titik kritisnya:
ketimpangan dampak kemanusiaan ini tidak selalu diikuti oleh perhatian global yang proporsional.

Ketika kehancuran terjadi berulang di Gaza, ia perlahan menjadi latar belakang yang dianggap “biasa”. Sebaliknya, setiap serangan terhadap Israel segera menjadi pusat perhatian internasional. Ini bukan sekadar perbedaan fakta, melainkan perbedaan dalam cara fakta tersebut diprioritaskan.

Narasi Global: Siapa Mengontrol Makna?

Dalam dunia yang digerakkan oleh informasi, realitas tidak hanya terjadi—ia juga dikonstruksi. Media internasional dan aktor politik seperti United States memainkan peran penting dalam membentuk narasi dominan.

Istilah seperti “self-defense”, “retaliation”, atau “security threat” bukan sekadar deskripsi, melainkan alat pembentuk persepsi. Ketika satu pihak diposisikan sebagai mempertahankan diri, sementara pihak lain diasosiasikan dengan ancaman, maka legitimasi moral secara implisit ikut terbentuk.

Namun lanskap global saat ini tidak lagi tunggal. Kehadiran media alternatif, organisasi kemanusiaan, dan suara dari Global South menghadirkan perspektif yang lebih beragam. Dunia kini tidak sepenuhnya menerima satu narasi, melainkan berada dalam kondisi polarisasi informasi.

Ketika bahasa berubah, cara kita memahami keadilan pun ikut berubah.

Empati Selektif: Hierarki yang Tak Terucapkan

Dalam praktiknya, empati global sering kali tidak terdistribusi secara merata. Muncul apa yang disebut sebagai hierarchy of victims, di mana sebagian korban mendapatkan perhatian lebih besar dibandingkan yang lain.

Penderitaan yang berlangsung lama di Gaza kerap dipersepsikan sebagai bagian dari konflik berkepanjangan, sehingga respons internasional menjadi rutin dan kurang intens. Sebaliknya, setiap eskalasi yang berdampak pada Israel sering memicu reaksi cepat dan luas dari berbagai negara.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Pola serupa dapat diamati dalam krisis kemanusiaan di Rakhine State yang melibatkan etnis Rohingya, maupun konflik berkepanjangan di Iraq. Dalam kasus-kasus tersebut, perhatian global tidak selalu sebanding dengan tingkat penderitaan yang terjadi.

Pertanyaan mendasar pun muncul:
apakah nilai sebuah nyawa ditentukan oleh kemanusiaannya, atau oleh posisi geopolitiknya?

Geopolitik: Rasionalitas di Balik Respons

Untuk memahami ketidakseimbangan ini, pendekatan geopolitik menjadi kunci. Dalam perspektif hubungan internasional, negara bertindak berdasarkan kepentingan strategis, bukan semata pertimbangan moral.

Aktor regional seperti Iran serta kekuatan global memiliki peran dalam membentuk dinamika kawasan. Sementara itu, aliansi Barat mempertahankan hubungan strategis dengan Israel dalam konteks keamanan dan stabilitas regional.

Kepentingan ini meliputi:

keamanan militer

pengaruh geopolitik

stabilitas ekonomi dan energi

Dalam kerangka ini, respons terhadap konflik menjadi bagian dari kalkulasi yang lebih luas. Stabilitas dijaga sejauh menguntungkan, dan krisis direspons sejauh berdampak pada kepentingan utama.

Dunia tidak selalu bereaksi terhadap penderitaan—ia bereaksi terhadap dampak penderitaan terhadap kepentingannya.

Polarisasi Informasi: Tantangan Era Digital

Di era media sosial, persepsi publik semakin dipengaruhi oleh echo chamber. Di banyak negara Global South, termasuk Indonesia, simpati terhadap Palestina cenderung lebih kuat, seringkali disertai kritik terhadap dominasi Barat. Sebaliknya, di banyak negara Barat, fokus tetap pada keamanan Israel.

Perbedaan ini mencerminkan konteks sosial dan politik masing-masing. Namun, jika tidak disadari, ia dapat mempersempit cara pandang dan memperkuat bias.

Oleh karena itu, pendekatan yang lebih reflektif dan terbuka menjadi penting—bukan untuk menghapus perbedaan, tetapi untuk memahami kompleksitas secara lebih utuh.

Menuju Konsistensi Moral

Dalam menghadapi konflik yang kompleks, satu prinsip dasar perlu ditegaskan:
setiap bentuk kekerasan terhadap warga sipil harus dinilai dengan standar yang sama.

Prinsip ini menuntut konsistensi—bahwa kecaman terhadap kekerasan tidak boleh bergantung pada siapa pelakunya atau siapa korbannya. Dalam konteks ini, analisis harus dibedakan dari justifikasi: memahami latar belakang suatu tindakan bukan berarti membenarkannya.

Pendekatan ini menjadi penting agar nilai kemanusiaan tidak tereduksi menjadi alat politik, melainkan tetap berdiri sebagai prinsip universal.

Refleksi: Menguji Cara Kita Melihat Dunia

Konflik Gaza–Israel bukan hanya tentang wilayah atau kekuasaan, tetapi juga tentang cara dunia bekerja—dan bagaimana kita memaknainya.

Ketika penderitaan menjadi biasa di satu tempat, itu bukan karena penderitaan berkurang, tetapi karena perhatian dunia yang berubah.

Tulisan ini tidak bertujuan untuk membalik fakta atau mengganti satu bias dengan bias lain. Sebaliknya, ia mengajak untuk menguji konsistensi: apakah kita benar-benar menerapkan nilai kemanusiaan secara universal, atau hanya ketika hal tersebut sejalan dengan kepentingan tertentu?

Jika empati terus didistribusikan secara selektif, maka keadilan akan selalu tampak parsial. Dan ketika keadilan kehilangan universalitasnya, dunia tidak hanya menghadapi krisis politik, tetapi juga krisis moral.

ADVERTISEMENT

Penutup: Empati yang Tidak Memihak

Masa depan tatanan global tidak hanya ditentukan oleh kekuatan, tetapi juga oleh integritas dalam mempertahankan nilai kemanusiaan.

Empati tidak boleh menjadi alat politik. Ia harus menjadi prinsip yang melampaui batas, identitas, dan kepentingan.

Pada akhirnya, pertanyaan paling mendasar bukanlah siapa yang menderita lebih besar, tetapi: apakah kita bersedia melihat semua penderitaan dengan mata yang sama jernihnya—atau kita hanya jernih ketika penderitaan itu terjadi pada pihak yang kita pilih untuk peduli.

Jika jawabannya belum, maka pekerjaan kita sebagai masyarakat global masih jauh dari selesai.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Dayan Abdurrahman
Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Komentar

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.