(Anak acuh pada suara ayah yang lumpuh; saat ayah telah tiada, suara itu bergema abadi di telinganya)
Oleh: M.Maskur
Di sebuah kampung terpencil di pinggiran kota Banda Aceh, ada sebuah rumah panggung reot berdiri menyendiri di antara pepohonan jati yang menjulang tinggi. Atap sengnya berkarat, dinding bambunya retak-retak, seolah menanggung beban bertahun-tahun kemiskinan.
Itulah rumah tangga Yusniar, seorang perempuan tangguh yang menjadi tulang punggung keluarga setelah suaminya, Rahman lumpuh dua tahun silam, akibat kecelakaan di kebun tetangga. Dua anak laki-lakinya, Agam yang berusia sepuluh tahun dan adiknya, Faisal yang berusia enam tahun, tumbuh di tengah kesunyian rumah itu. Kesunyian yang hanya sesekali dipecahkan oleh suara televisi tetangga.
Pagi itu adalah hari Sabtu, di mana pekan yang selalu ramai oleh pedagang dari berbagai penjuru yang datang membawa barang dagangannya: kain warna-warni, mainan plastik murah, buah-buahan segar, hingga barang elektronik yang menggoda. Yusniar baru saja kembali dari pasar dengan seikat ikan tongkol segar dan sekarung beras yang hanya cukup untuk seminggu.
Uang di kantongnya tinggal sepuluh ribu rupiah, pas untuk membeli santan kelapa. Ia duduk di dapur terbuka, tangannya lincah meremas parutan kelapa, tapi hatinya kesal. Suaminya terbatuk-batuk di kamar belakang, suara serak yang sudah biasa, tapi tetap mengganggu.
Agam, anak sulungnya, sibuk bermain pasir di halaman depan. Tumpukan pasir yang ia bentuk jadi benteng kecil-kecilan, tapi pikirannya melayang ke rumah Pak Hasan di sebelah. Di sana, televisi LED baru menyala terang-benderang, menayangkan kartun Upin dan Ipin yang sedang populer. Suara tawa karakter-karakter kecil itu terdengar samar-samar, membuat hati Agam panas.
Ia sudah lelah merengek pada ibunya, tetapi jawabannya selalu sama: “Ibu belum ada uang, Agam. Sabar.!”
Yusniar menghela napas panjang, tangannya tak berhenti meremas. “Agam, Ibu sudah katakan berkali-kali. Uang kita sudah habis untuk beli beras dan ikan. Bapakmu juga sekarang sedang sakit, jadi kita harus bisa hemat.”
Agam mendengus, matanya melirik ke arah kamar. Dari sana, suara batuk Rahman terdengar lagi, lebih dalam dan berkepanjangan. “Bapak lagi-lagi batuk. Ganggu saja, Bu. Kalau Bapak nggak sakit, pasti kita bisa beli TV!” gumamnya lantang, sengaja agar terdengar.
Yusniar menegang. Ia tahu anaknya mulai membenci ayahnya. Rahman yang dulu kuat menggendong kayu jati, kini hanya bisa terbaring, bergantung sepenuhnya. “Jangan bicara begitu, Agam. Bapakmu sedang sedang sakit. Kau ambilkan air untuknya, ya!”
Agam menggeleng keras. “Kenapa harus aku? Bapak bisa suruh Faisal!” Ia berlari keluar lagi, menendang pasir dengan keras. Di hatinya, benih kebencian mulai bertunas. Bapak bukan pahlawan seperti di kartun. Bapak cuma beban.
Rahman, dari dalam kamarnya, mendengar semuanya. Matanya yang lelah menatap langit-langit kayu. “Yusniar… tolong beri aku air,” pintanya pelan, suaranya serak seperti daun kering bergesekan.
Yusniar tak bergeming. Tangannya terus meremas santan, amarahnya tertahan. Hari ini motornya mogok, ia harus bonceng dengan Husein besok pagi. Pikirannya melayang ke mandor kebun itu, yang selalu perhatian kepadanya.
Keesokan harinya, Senin pagi, Yusniar berdiri di persimpangan kampung. Motornya yang sudah tua tak mau hidup lagi, oli tak pernah diganti, rantai karatan. Jarak ke kebun jati dua kilometer, melewati jalan berlubang dan tanjakan curam.
Di kampung terpencil ini, tak ada angkutan umum. Ia menunggu boncengan, hatinya gelisah.
Tak lama kemudian, suara motor mendekat. Husein, mandor berusia empat puluh tahun, muncul seperti biasa.
Wajahnya ramah, senyumanya lembut. “Yusniar, motornya mogok lagi? Naik saja bersamaku.”
Yusniar ragu sejenak, tapi mengangguk. “Makasih bang, maaf merepotkan.”
Husein tertawa pelan. “Tidak apa. Aku senang malahan.” Ia pacu motor pelan, Yusniar memegang pinggangnya erat saat melewati lubang. Pekik kecil suara Yusniar sesekali terdengar, disambut tawa Husein. Suara burung hutan dan siamang mengiringi perjalanan mereka, seperti lagu kasmaran.
Agam mengintip dari jendela, melihat semuanya. “Ibu bonceng Om Husein lagi. Bapak mana?” tanyanya pada Faisal yang sedang makan bubur.
Faisal mengangkat bahu. “Bapak di kamar.”
Agam mendekati kamar, tapi berhenti di pintu. Rahman batuk lagi. “Agam… masuklah, Nak. Bapak mau cerita.”
Agam membuka pintu sedikit. “Apa, Bapak? Aku mau main.”
Rahman tersenyum lemah. “Dulu Bapak juga main pasir seperti kamu nak. Nanti kalau sudah besar, kamu jadi orang hebat. Bapak bangga.”
Agam mendengus. “Bangga apaan? Bapak cuma bisa tidur. Kalau Bapak kuat, Ibu nggak akan kerja sama Om Husein!” Ia tutup pintu keras, lari keluar.
Gosip kampung mulai menyebar seperti api di rumput kering. Di kedai kopi, perempuan-perempuan berkumpul. “Yusniar bonceng Husein lagi. Pegang pinggang erat katanya.”
“Suaminya lumpuh, wajar lah. Tapi anak-anaknya kasihan.”
Agam tak sengaja terdengar saat ingin beli permen di pekan. Ia balik badan, marah. Bapak emang bikin malu!
Malam itu, Rahman merintih kesakitan. “Agam… pijit kaki Bapak, Nak. Rasa pegal sekali.”
Agam berpura-pura tak mendengarkan dan melenggang pergi meninggalkan ayahnya. Yang sedang merintih kesakitan.
Hari-hari berlalu. Yusniar semakin sering bonceng Husein. Motornya belum diperbaiki, entah sengaja atau tak ada waktu. Husein bawakan nasi bungkus, minuman manis, bahkan upah ekstra. “Kau kerja keras, Yusniar. Ini buat anak-anakmu,” katanya lembut.
Yusniar tersanjung. Di rumah, hanya rintihan Rahman dan kenakalan anak-anak. Pertengkaran mulai sering. “Kau tak berguna, Rahman! Aku yang susah sendirian!” bentak Yusniar suatu malam.
Agam dan Faisal terdengar dari luar. Agam tertawa sinis. “Bener kata Ibu. Bapak sampah!”
Rahman terduduk diam di pembaringan, air mata terus mengalir. “Maafkan Bapak, Bu. Bapak sayang kalian semua.”
Agam tambah benci kepada bapaknya. Di sekolah, ia bercerita kepada teman-temannya: “Bapakku lumpuh. Aku malu punya bapak seperti itu.” Teman-temannya kasihan melihat nya, tapi Agam bangga dengan kebenciannya.
Ia bayangkan hidup tanpa Bapak: Ibu nikah lagi dengan Om Husein, dibelikan TV besar, makan enak setiap hari, dan dibelikan mainan baru.
Suatu hari, Agam sakit demam. Rahman merangkak dari pembaringan, ia ambil kain basah, tempelkan di dahi anaknya. “Tenang, Nak. Bapak di sini.”
Agam tolak tangan ayahnya. “Jangan sentuh aku, Bapak! Bau!” Ia lari ke Ibu yang baru pulang.
Rahman menangis diam-diam. Suaranya hilang dalam batuk.
Bulan berganti. Gosip kian menjadi-jadi. Istrinya Husein hamil delapan bulan, tapi Husein tak peduli. Ia tetap perhatian pada Yusniar. Agam mulai curiga, tapi kebenciannya pada Bapak lebih besar.
Rahman semakin lemah. Ia jarang bicara, hanya batuk dan rintih. “Agam… maafkan Bapak kalau Bapak tak bisa beri apa-apa.”
Agam abaikan. Ia habiskan waktu main di rumah tetangga, nonton TV samar-samar.
Pada pagi hari itu, Yusniar pergi pagi-pagi. Agam dan Faisal tinggal dengan Bapak. Rahman panggil: “Agam, tolong ambilkan air. Bapak haus.”
Agam gerutu. “Ambil sendiri!” Ia lari main pasir.
Siang hari, saat matahari tegak, Agam pulang lapar. Rumah sepi. Ia masuk kamar: Rahman tergeletak di bawah ranjang, kepala berdarah. Gelas air pecah di lantai.
Faisal lari masuk, menangis. Mereka berlari ke tetangga.
Yusniar datang berlarian, wajahnya pucat. Para pelayat berdatangan. “Mungkin jatuh karena lumpuh,” bisik mereka. Tapi Yusniar tahu: Rahman sengaja. Matanya penuh penyesalan.
Malam pun tiba, Agam duduk di sudut. Tubuh ayahnya disalatkan. Tiba-tiba, suara batuk terdengar. Agam bangun untuk mencari, tapi nyatanya Kosong.
Semenjak hari itu suara ayahnya menghantui agam Setiap malam: “Agam… ayah sayang kamu nak.” Agam menangis,lalu mengambil air, untuk diminum ia minum. Penyesalan tumbuh seperti tanduk di hatinya.
Yusniar peluk anaknya. “Kita harus memaafkan diri kita sendiri, Nak.”
Tapi suara itu tak pernah hilang. Ia abadi, mengingat kebencian yang terlambat disesali.
TAMAT












Puisi-Puisi Din Saja
Vonis Mati Untuk Sebuah Sudut Pandang
Pengaruh Kecemasan danĀ Self-ControlĀ Terhadap Kebiasaan Konsumsi Junk Food Pada Remaja
Tanoh Merdeka