Oleh: Dr. Ir. TM Zulfikar, S.T., M.P., IPU (Praktisi & Akademisi Lingkungan Aceh)
Aceh sering dibanggakan sebagai “tanah yang kaya”; kaya berbagai sumber daya alam seperti hutan, air, tambang, kelautan, dan kaya akan sejarah. Namun, di balik narasi itu, ada kenyataan yang perlahan menggerus fondasi ekologisnya: abrasi di daerah aliran sungai (DAS) yang kian tak terkendali. Ini bukan sekadar persoalan tanah yang hilang di tepian sungai, melainkan tanda bahwa sistem lingkungan Aceh sedang sakit, dan kita terlalu lama menunda diagnosis.
Sungai yang Menggerus, Bukan Menghidupi
Di banyak wilayah Aceh, sungai tidak lagi menjadi sumber kehidupan yang stabil, melainkan ancaman yang terus mendekat. Di Aceh Tamiang, misalnya, abrasi telah menggerus tanggul hingga puluhan meter, bahkan banyak yang jebol saat banjir datang . Di Aceh Barat juga, abrasi di DAS Meureubo semakin parah pascabanjir 2025, hingga menyisakan jarak hanya sekitar satu meter antara aliran sungai dan lahan pertanian warga .
Lebih tragis lagi, fenomena ini bukan baru kemarin sore. Sejak 2011, ratusan meter lahan dan rumah warga di Aceh Barat telah amblas akibat erosi sungai . Artinya, kita tidak sedang menghadapi bencana yang tiba-tiba datang, tetapi krisis yang berlangsung perlahan, dan diabaikan secara sistematis.
Hulu yang Rusak, Hilir yang Menjerit
Abrasi DAS tidak pernah berdiri sendiri. Ia adalah gejala dari kerusakan yang lebih besar di bagian hulu.
Data dari BPDAS HL pada Juli 2021 saja menunjukkan bahwa kerusakan DAS di Aceh mencapai sekitar 264.900 hektare, terutama di wilayah hulu . Ini angka yang tidak kecil, bahkan saat ini bisa terus bertambah, dan ini alarm bahaya bagi kita semua.
Deforestasi menjadi aktor utama dalam cerita ini. Sejak 1990-an, pembukaan hutan di berbagai DAS besar seperti Peusangan, Tamiang, Jambo Aye, Pase, Meureudu, Singkil dan Krueng Aceh serta berbagai DAS lainnya di Aceh terus berlangsung . Ketika hutan hilang, tanah kehilangan “jangkarnya”. Air hujan tidak lagi diserap, melainkan langsung berlari ke sungai, membawa sedimen, mempercepat arus, dan pada akhirnya, menggerus tebing sungai.
Sederhananya:
Hutan ditebang di hulu, tanah hilang di hilir.
Lingkaran Setan: Deforestasi, Banjir, Abrasi
Kondisi ini menciptakan lingkaran setan ekologis. Deforestasi mempercepat limpasan air, meningkatkan risiko banjir. Banjir kemudian memperparah abrasi sungai, yang pada gilirannya merusak lahan produktif, infrastruktur, dan permukiman.
Tidak berhenti di situ, aktivitas manusia seperti tambang dan pembukaan lahan skala besar juga memperburuk keadaan. Dalam beberapa tahun terakhir, banjir bandang dan longsor di Aceh meningkat tajam, seiring rusaknya hutan dan lemahnya pengawasan.
Ini bukan lagi sekadar isu lingkungan. Ini adalah krisis tata kelola.
Ketika Solusi Masih Bersifat Seremonial
Upaya penanganan memang ada, tetapi seringkali bersifat parsial. Penaman Pohon di berbagai kawasan hutan di Aceh, lalu penanaman 5.000 batang mangrove di Aceh Barat, misalnya, adalah langkah baik, tetapi masih jauh dari cukup untuk mengimbangi laju kerusakan. Kita seperti menambal kebocoran besar dengan plester kecil, simbolik, tapi tidak menyelesaikan akar masalah.
Masalah utama bukan pada kurangnya program, melainkan kurangnya konsistensi dan keberanian dalam menata ulang kebijakan ruang dan pengelolaan DAS.
Ancaman Nyata: Dari Lingkungan ke Sosial-Ekonomi
Abrasi DAS tidak hanya menghilangkan tanah, tetapi juga masa depan. Lahan pertanian hilang, akses jalan terancam putus, dan masyarakat kehilangan sumber penghidupan. Dalam jangka panjang, ini akan memperdalam kemiskinan dan memicu konflik lahan.
Bahkan, kajian terbaru yang saya pelajari menunjukkan bahwa deforestasi di Aceh tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan risiko bencana secara berantai .
Aceh di Persimpangan: Bertindak atau Tenggelam Perlahan
Pertanyaannya sekarang bukan lagi “apakah kita sadar?”, tetapi “apakah kita mau berubah?”
Aceh membutuhkan pendekatan yang lebih serius dan sistemik:
Rehabilitasi hutan di hulu secara masif dan berkelanjutan
Penegakan hukum terhadap pembalakan liar dan tambang ilegal
Penataan ulang tata ruang berbasis daya dukung lingkungan
Pembangunan infrastruktur sungai yang berbasis ekosistem, bukan sekadar betonisasi
Jika tidak, abrasi yang hari ini menggerus tepi sungai, besok akan menggerus ruang hidup kita.
Penutup
Abrasi DAS di Aceh adalah cerita tentang relasi yang rusak antara manusia dan alam. Kita terlalu lama melihat sungai sebagai objek, bukan sistem kehidupan. Padahal, ketika sungai mulai “melawan”, itu bukan karena ia berubah, melainkan karena kita yang terlalu jauh melanggar batas.
Aceh tidak sedang kekurangan sumber daya. Aceh hanya kekurangan keberanian untuk menjaga apa yang tersisa.























